Photobucket

Gebyar TAIP 2009

Diposting oleh emirgarden | Senin, Juni 15, 2009 | | 0 komentar »


Taman Anggrek Indonesia Permai kembali menggelar pameran tanaman hias menjelang pertengahan tahun 2009 ini. Dengan tajuk Gebyar TAIP 2009, pameran tanaman hias kali ini berlangsung selama dua minggu, yaitu mulai 30 Mei sampai 14 Juni 2009.

Dengan jumlah peserta kurang lebih 100 stand, dan penataan stand yang cukup baik, serta lokasi yang terletak ditepi jalan besar,

sebenarnya Gebyar TAIP 2009 cukup menarik untuk dikunjungi. Selain menggelar bursa tanaman hias dan beberapa stand Fauna, Gebyar TAIP kali ini juga diramaikan dengan Kontes Sansevieria yang digelar oleh Komunitas Penggemar Sansevieria Indonesia (Kompensasi) pada tanggal 7 Juni 2009.

Namun demikian, beberapa kelebihan yang ditawarkan diatas sepertinya belum cukup maksimal untuk menarik pengunjung datang dan bertransaksi. Menurut pengakuan beberapa pserta / penjaga stand, hampir dalam satu minggu pertama, jumlah pengunjung belum menggembirakan. Bahkan di hari sabtu dan minggu yang biasanya jumlah pengunjung pameran tanaman hias meningkat, tampaknya belum terjadi di Gebyar TAIP kali ini.

Mengenai jenis tanaman hias yang banyak digelar, tampaknya Aglaonema masih menjadi yang paling banyak dijajakan peserta. Demikian pula anggrek cukup menyita tempat di pameran kali ini. Untuk melihat situasi dan kondisi Gebyar TAIP kali ini, silahkan simak beberapa foto berikut ini.

























Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Rumput Gajah Mini, Minim Biaya Tahan Cuaca

Diposting oleh emirgarden | Jumat, Juni 12, 2009 | | 0 komentar »


Ibarat lantai alam yang menghijau seluas mata memandang, rumput bisa dijadikan lantai dasar halaman depan rumah, yang boleh diinjak siapa saja. Aneka rumput, seperti rumput gajah biasa, manila, peking, babat, swiss, golf, atau rap bisa dijadikan pilihan.

Rumput jenis apa pun yang dijadikan pilihan, memiliki kelebihan dan kekurangan. Misalnya, rumput gajah biasa yang harganya murah, tetapi tumbuh cukup cepat. Sehingga, harus

rajin dipangkas agar tetap terlihat rapi dan indah dipandang. Sementara, rumput peking dan manila relatif lebih mudah dirawat, asalkan mendapat sinar matahari yang cukup.

"Bisa dikatakan kedua rumput jenis ini tidak perlu dipotong lagi karena tumbuhnya lambat," jelas Imas, MT, Spd., ahli landscape dari Nusa Indah Flora. Begitu pun dengan rumput gajah mini. Sesuai namanya, rumput gajah mini ukuran daunnya lebih kecil dari rumput gajah biasa. Halaman rumah sekecil apapun pasti bisa ditanami rumput ini. Kelebihan jenis rumput ini, diantaranya, bisa memotong biaya pemangkasan. Tak heran jika rumput gajah mini kini semakin dijadikan pilihan banyak orang.

Rumput gajah mini memiliki karakter unik, dilihat dari pola pertumbuhannya. Daunnya tidak tumbuh ke atas, melainkan menyamping, sehingga membuat tampilan rumput jadi lebih bagus. "Tekstur daunnya tidak tinggi, jadi tidak perlu dipangkas. Mirip rumput gajah biasa, hanya pola hidupnya saja yang merayap atau menyamping. Warna hijaunya melebihi rumput biasa," sambung adik dari Yanto, petani rumput gajah mini.

Tahan Cuaca

Rumput gajah mini, menurut Imas, berasal dari Amerika dan pertumbuhannya melalui proses evolusi. Semakin lama, bentuknya semakin mengecil. Berhubung secara genetik sudah berukuran kecil, ditanam di mana pun rumput ini tak akan berubah bentuk. Sedangkan rumput gajah biasa daunnya lebih rapat, sehingga membutuhkan perawatan lebih.

"Apalagi di musim hujan, dalam waktu dua minggu saja rumput gajah biasa sudah tinggi dan harus segera dipangkas." Berbeda dengan gajah mini yang tumbuhnya tidak tinggi. Namun, lanjut Imas, jika ruang hidupnya terlalu padat, warna daunnya cenderung akan menguning. Sehingga, harus diremajakan dalam jangka waktu setahun. Artinya, rumput dipangkas total sampai ke batang, kemudian akan muncul rumput baru dan hijau lagi.
Penanaman rumput gajah mini untuk petani, dari tandur sampai ke panen, membutuhkan waktu tiga bulan. "Sebenarnya dua bulan juga sudah bisa dipanen. Tapi, kalau langsung ditanam di halaman, jadi kurang bagus. Waktu tiga bulan panen sangat pas. Tinggal di tanam di halaman, bisa langsung jadi," jelas Imas seraya menyarankan untuk memupuk rumput dengan urea dan NPK.

Untuk petani, sambung Imas, dalam jangka waktu 20 hari setelah ditanam, idealnya diberi pupuk dasar. Sebulan kemudian, setelah rumput menjalar, diberi pupuk lagi. "Sebaiknya jangan dipupuk seminggu sebelum dipanen, karena pupuknya belum sampai ke bawah dan masih tersimpan di daun. Ini bisa menyebabkan rumput kering."

Saat musim hujan, rumput relatif tidak perlu disiram. Namun, di musim kemarau bisa disiram sehari dua kali. Menurut Imas, rumput gajah mini memiliki kemampuan hidup tinggi dan tidak sensitif terhadap patogen tanah. Meskipun ada perubahan cuaca, kondisi rumput tidak pernah nge-drop.
"Rumput Swiss di musim hujan bakal tumbuh tinggi. Tapi, jika ditanam di bawah pepohonan, rumput ini akan botak. Rumput golf pun agak susah untuk ditanam di perumahan. Sementara gajah mini lebih mampu bertahan. Hanya saja, di tempat dingin pertumbuhannya tidak rapat dan cepat, tekstur daunnya jadi lebih lebar, dan kualitas warna lebih hijau. Sedangkan di tempat panas, daun akan tumbuh lebih kecil."
Rumput swiss dan manila pun bisa dihinggapi hingga empat jenis hama, sedangkan rumput gajah mini hanya dihinggapi satu hama. "Namun, hama ini tidak sampai mendominasi rumput. Karena tekstur daun gajah mini ini jenis pegangan."

Hebatnya lagi, rumput gajah mini tak banyak ditumbuhi gulma seperti rumput lain. "Rumput gajah mini bandel dan mampu bertahan. Karena kemampuan hidupnya lebih tinggi, gulma jadi kalah bersaing dengan daun gajah mini. Jadi, bisa dibilang resikonya sangat sedikit. Kalau pun ada, rumput ini lebih suka air karena termasuk rumput tropis. Tapi, di musim panas rumput ini tidak akan kering, meski dua bulan dibiarkan terlantar. Begitu masuk musim hujan, daunnya akan tumbuh lagi."

Peremajaan

Agar rumput gajah mini tetap berwarna hijau dan segar, Imas menyarankan, untuk memberi pupuk sebulan sekali agar unsur hara tanamannya seimbang. Lalu, tanam rumput rapat-rapat, sehingga bisa langsung dinikmati. Akan tetapi, jika kondisi rumputnya stres, warna daunnya tidak akan kuat. "Tetap siram rumputnya, apalagi jika baru saja ditanam. Tiga minggu kemudian warna hijaunya akan semakin kuat, akarnya sudah tumbuh, dan sudah boleh diinjak-injak," kata Imas yang mematok harga rumput gajah mini dari petani sekitar Rp 15-17 ribu per meter persegi.

Dari segi harga, setelah rumput dipasang di halaman bisa saja lebih mahal, meski tak jauh berbeda dengan rumput lain. "Tapi, jika diperhitungkan dengan perawatan justru lebih murah. Jangan sampai dalam sebulan harus dua kali memangkas rumput saja. Berapa budget yang dikeluarkan? Nah, dengan rumput gajah mini, tidak akan ada lagi pemangkasan karena tidak tumbuh ke atas."

Jenis taman tropis yang masih banyak ditemui di Indonesia, sangat cocok untuk pertumbuhan rumput gajah mini. "Rumput yang mampu hidup di iklim seperti di sini, ya, gajah mini. Biaya perawatannya murah, kemampuan hidupnya tinggi, dan tidak memerlukan peremajaan yang sering. Paling hanya setahun sekali," ujar Imas yang lebih suka melakukan peremajaan daripada pemangkasan.

Peremajaan yang Imas maksud, saat sebulan setelah rumput ditanam, jarak antara satu daun dengan daun lain akan tumbuh jarang-jarang. "Semakin bertambah bulan, jarak daun semakin rapat, sehingga tidak ada ruang lagi di antara rumput. Dengan pemangkasan, justru bisa membagi ruang tadi. Tapi, dengan peremajaan rumput tumbuh semakin rapat dan menumpuk ke atas. Setiap daun yang tumbuh saling mendorong hingga bentuknya menjadi bagus." (Noverita K. Waldan/NOVA)

kompas

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Haworthia, Si Bandel Yang Kerap Disangka Kaktus

Diposting oleh emirgarden | Rabu, Juni 10, 2009 | | 0 komentar »


Tanaman ini menyukai media tanam yang kering. Perawakannya mirip kaktus. Tak heran banyak orang menyangka Haworthia sebagai kaktus.

Haworthia adalah tanaman bandel asal Afrika Selatan. Ia menyukai matahari, tidak perlu sering disiram, sehingga cocok untuk mereka yang tak punya banyak waktu mengurus tanaman.

Daun tanaman ini unik. Tebal, berwarna hijau tua

berhias bercak atau garis putih, dan memiliki susunan daun yang beragam. Ada daun yang tebal dan kaku menyerupai batu. Inilah sebabnya mengapa orang juga menyebutnya dengan sebutan daun batu.

Para penjual tanaman kerap kali memajang Haworthia berdekatan dengan kaktus. Perawakan tanaman mungil (tingginya sekitar 1-3cm saja). Karena kemiripannya dengan kaktus, banyak orang mengira Haworthia adalah sejenis kaktus. Padahal Haworthia sama sekali tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan kaktus. Ia lebih dekat dengan famili Lyliceae.

Beberapa jenis Haworthia bahkan membutuhkan waktu satu tahun untuk menambah tinggi badannya. Di habitat aslinya, sangking pendeknya ukuran daun, Haworthia seringkali terkubur pasir. Itulah sebabnya tak mudah menemukan spesies ini di habitat aslinya.
Menanam dan merawat Haworthia tidak sulit. Ia dapat ditanam pada pot berukuran mungil juga. Yang penting, media tanamnya kering. Untuk itu dapat digunakan campuran pasir malang dan kompos atau pupuk kandang. Soal penempatan, bisa di dalam ruangan.

Namun begitu, jemur tanaman ini beberapa hari untuk memenuhi kebutuhan akan sinar matahari. Penyiraman tak perlu sering dilakukan, cukup tiga sampai empat hari sekali. Media tanam yang terlalu lembap, apalagi sampai tergenang air, akan mengakibatkan akar Haworthia membusuk. (Anissa/iDEA)

kompas

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Rumput Hijau Penyambut Tamu

Diposting oleh emirgarden | Senin, Juni 08, 2009 | | 0 komentar »


Nuansa hijau di halaman rumah memberikan kesan sejuk nan ramah. Seolah-olah siap menyambut baik tamu yang datang.

Taman tak harus selalu rimbun dengan banyak tanaman. Hamparan rumput hijau sudah cukup untuk membuat halaman yang indah. Konsep demikian itu sekaligus menciptakan entrance yang "ramah" menyambut tamu.

Banyak orang menutup seluruh halamannya dengan

semen dan lantai keramik. Padahal, keadaan demikian dapat menciptakan tampilan fasad yang "kering", kaku, bahkan tak ramah. Warna hijau alami selalu bisa menjadi solusi jitu "mencairkan" kekakuan tampilan fasad.

Tak harus memiliki lahan luas. Lahan sempit pun bisa dimaksimalkan. Agar tak terlihat penuh, tak perlu tempatkan banyak jenis tanaman. Cukup tentukan satu atau dua jenis tanaman. Fokuskan pada tepi (border), biarkan bagian tengahnya kosong. Dengan demikian, lahan sempit pun tampak lega. Halaman yang hijau pun siap menyambut setiap tamu yang berkunjung ke rumah. (Anissa/iDEA)

kompas

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Budi Daya Lidah Buaya Menjanjikan

Diposting oleh emirgarden | Jumat, Juni 05, 2009 | | 0 komentar »


Budi daya lidah buaya atau Aloevera sangat menjanjikan. Karena lidah buaya bukan semata tanaman hias, tapi menjadi bahan dasar minuman yang menyehatkan. Bahkan bisa dijadikan tepung untuk bahan dasar kosmetika.

”Lidah buaya yang dapat menambah nilai ekonomis dan jenis unggulan adalah barbadencise dan sinencise. Karena pelepahnya besar dan tebal,” kata Syamsuri Ketua Koperasi Serba Usaha (KSU)

Tani Aloevera di Kampus UI Depok, Rabu (29/4).

Selama ini, KSU Tani Aloevera bekerja sama dengan Pusat Sinergi Riset dan Bisnis Fakultas MIPA UI yang dipimpin Erlin Nurtiyani. Menurut Erlin, pihaknya sudah memiliki lima paten produk lidah buaya dalam bentuk minuman, kapsul, tepung, dan evervesant.

Dengan mendirikan PT Kavera Biotech, Erlin memproduksi semua itu dengan bahan baku yang dipasok dari KSU Tani Aloevera. Namun, kata Erlin, produknya hanya menggunakan lidah buaya organik.

”Dari uji coba laboratorium, aloevera yang menggunakan pupuk kimia hasilnya tidak bagus,” katanya yang meneliti pengolahan lidah buaya sejak 1998 dan baru mempatenkannya tahun 2001.

Menurut Erlin, sambutan pasar sangat bagus atas minuman lidah buaya. Petinggi di Mabes Polri menjadi salah satu pelanggannya. Bahkan pernah dikirim ke Abu Dhabi. ”Namun kami belum siap memenuhi permintaan pasar karena kekurangan bahan baku,” kata Erlin yang berharap minuman lidah buaya bisa menjadi ”Coca-Cola”-nya Indonesia. ”Bulan depan kami sudah ada investor yang sanggup menyediakan mesin untuk pabrik pembuatan minuman dalam kemasan sachet di Sawangan, Depok,” kata Erlin.

Minuman lidah buaya Kavera dikemas dalam botol kaca ukuran 300 ml dijual Rp 7.500 dan untuk ukuran gelas Rp 3.000. Minuman Kavera bisa bertahan sampai satu tahun, meskipun tanpa bahan pengawet. ”Namun Kavera tidak dipasarkan ke pasar modern,” kata Erlin.
Rp 1.000/kg

Sementara itu, Syamsuri mengatakan, KSU Tani Aloevera sudah membina petani-petani di Depok untuk bercocok tanam lidah buaya yang hasilnya mencapai 5 ton sekali panen. Panen lidah buaya rutin dilakukan setiap bulan dengan memetik dua pelepah dari setiap pohon. ”Padahal, kebutuhan lidah buaya dalam satu hari minimal 1 ton,” katanya.

Karena itu, KSU Tani Aloevera mengajak masyarakat menjadi petani lidah buaya dan hasil panennya nanti akan dibeli koperasi dengan harga Rp 1.000/kg. ”Semua lidah buaya hasil dari petani yang kami bina, pasti dibeli oleh koperasi,” ujar Syamsuri.

Syarat untuk mendapat jaminan hasil lidah buaya di beli koperasi antara lain wajib menjadi kelompok tani binaan KSU Tani Aloevera, membeli bibit dari koperasi, serta kualitas tanaman standar koperasi, seperti pelepah tidak luka dan cara pemetikan dilakukan dengan benar.

Harga bibit lidah buaya Rp 2.000/batang umur dua bulan, untuk pupuk organik dan pupuk kandang kambing dipasok koperasi. ”Karena pupuk organik dan pupuk kotoran kambing sangat baik untuk pertumbuhan lidah buaya. Jika menggunakan pupuk kotoran ayam hasilnya tidak bagus. Kalau menggunakan kotoran sapi harus direbus dulu,” kata Syamsuri sambil menambahkan petani bisa menjual bibit anakan lidah buaya ke koperasi Rp 1.000/batang. (Mirmo Saptono)

situshijau
pic from tanamanberkhasiat

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share