Photobucket
Tampilkan postingan dengan label Tip dan Trik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tip dan Trik. Tampilkan semua postingan

Membuat Adenium Rajin Berbunga

Diposting oleh emirgarden | Rabu, Juni 03, 2009 | , | 1 komentar »


Adenium bentuknya memang unik. Apalagi jika berbunga, cantik sekali. Kini banyak silangan adenium yang menampilkan bunga dengan bermacam warna. Tapi sayangnya jika sekali berbunga, ditunggu-tunggu yang selanjutnya lama baru berbunga.

Padahal, adenium bisa dibuat berbunga sepanjang waktu. Chandra Gunawan, pehobi adenium, telah membuktikannya di Godongijo, nursery-nya yang luas di Sawangan (Bogor). Berikut ini tipsnya agar tanaman asal gurun

pasir itu rajin berbunga.

Pemangkasan adalah kuncinya. Batang adenium yang tumbuh memanjang akan memberi kesan berantakan. Pemangkasan batang utama bisa dilakukan sesuai dengan keinginan pehobi. Kalau mau yang bentuknya tinggi maka batang yang dipotong juga agak tinggi pula. Selain batang utama, pemangkasan cabang juga dilakukan. Tujuannya agar tampil rimbun. Pemangkasan cabang tersebut, juga bisa memutus siklus hidup hama dan penyakit, serta kunci utama untuk membungakan adenium secara serempak di tiap cabangnya.

Pemangkasan itu akan menghasilkan tunas-tunas baru di tiap cabang yang dipangkas. Dari tunas baru inilah, nanti bakal keluar bunga. Tapi yang harus diperhatikan sebelum melakukan penggundulan, pastikan tanaman itu sehat dan media tanamnya subur. Pemberian pupuk slow release atau NPK sebaiknya dua minggu sebelum ”eksekusi” itu.

Menurut Chandra, yang jarang diperhatikan oleh pehobi adalah kesterilan alat pemotong. Gunting atau pisau yang dipakai sering kali kotor.

Peralatan yang tidak steril seringkali menyebabkan kegagalan. Sebab bekas irisannya menjadi busuk yang bisa merembet ke bagian lain. Harapan untuk memperoleh adenium yang indah, sirna karena kecerobohan.

Sebaiknya pemangkasan dilakukan di pagi hari agar bekas potongan bisa cepat kering. Tidak disarankan penggundulan itu dilakukan di musim hujan, sebab batang yang baru terpotong bila terkena air akan membusuk.

Jika adenium yang sudah gundul sejak awal dalam kondisi bagus, tanaman sehat dan kondisi medianya subur maka dalam tujuh sampai 12 hari sesudah pemangkasan akan tumbuh tunas-tunas baru dan enam sampai delapan minggu kemudian muncul kuncup bunga.

Jangan lupa menaruhnya di tempat yang mendapat matahari minimal tujuh jam per hari. Sebab tanaman ini menyukai sinar matahari. Jika tidak terkena matahari maka proses pembungaan akan gagal. Kuncup yang sedang terbentuk bisa gagal.

nusacendanabiz

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Tips Memilih Bunga Sedap Malam

Diposting oleh emirgarden | Jumat, Mei 29, 2009 | | 0 komentar »


Jika Anda berniat menghadirkan suasana yang berbeda di ruang tamu Anda. Menghadirkan sensasi bunga-bunga segar contohnya. Apalagi seperti bunga Sedap Malam yang harumnya akan memberikan keceriaan bagi tamu-tamu Anda.

Namun, jangan sembarangan memilih bunga ini. Jika sembarangan, harumnya hanya bertahan 2-3 hari saja, padahal jika Anda cerdik, harumnya bisa mewarnai keceriaan ruangan Anda hingga satu minggu kedepan.


Bagaimana memilih bunga Sedap Malam yang tepat? Pilihlah bunga Sedap Malam yang berasal dari Bandung. Biasanya harumnya lebih tajam dan menarik. Pengaruh hawa Parahyangan mungkin saja menjadi penyebabnya.

Kuncup Sedap Malam pun cukup khas. Warna merah jambu mendominasi ujung bunga yang masih kuncup. Setelah itu, pastikan Anda tidak memilih bunga Sedap Malam yang sedang mekar semuanya. Pilihlah tangkai dengan bunga yang sudah mekar namun juga terdapat bunga yang masih kuncup.

Dengan demikian, Anda bisa menikmati keharuman Sedap Malam hingga seminggu ke depan. Kemudian mintalah penjual memotong bagian ujung bawah tangkai supaya bersih. Setelah itu, Anda siap membawa bunga ke rumah. Memajangnya dalam vas kesayangan Anda. Jangan lupa isikan air ke dalamnya supaya bunga terus segar. Selamat menikmati keharuman Sedap Malam dirumah anda.

kompas

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Euphorbia, Agar Berbunga Semarak

Diposting oleh emirgarden | Rabu, Mei 20, 2009 | , | 0 komentar »


Kecantikannya semakin menonjol bila didukung dengan sosok tanaman yang seluruhnya optimal, mulai dari batang kokoh, cabang kompak, dan susunan bunga yang bagus. Wajar bila penampilannya mengundang perhatian, sehingga banyak yang meminatinya.

Apalagi ada kepercayaan, keluarnya bunga dapat menggambarkan nasib dan keberuntungan si pemiliknya. Ingin euphorbia Anda berbunga semarak? Mudah, lakukan 6 P, yaitu pemangkasan, penyiraman, pemupukan, penempatan,

penyiangan, dan pengendalian penyakit.

A. Pemangkasan

Pemangkasan dapat dimulai sejak euphorbia dalam masa penyuburan. Tujuannya, untuk membentuk tajuk yang seimbang, sehingga terlihat cantik dan mengurangi penguapan. Patokannya mudah, cabang-cabang yang tepat berada di sisi kiri, kanan, depan, dan belakang sebaiknya dibiarkan, selain itu dibuang saja. Nantinya, tunas baru bermunculan di setiap cabang, sehingga tampak lebih rimbun. Waktu yang pas untuk pemangkasan adalah usai penyuburan dan pembungaan pertama kali. Tepatnya di akhir masa pembungaan pertama. Bunga tua juga harus dipotong untuk memunculkan bunga baru. Bunga mekar selama dua bulan. Setelah itu, warnanya pudar, kusam, dan akhirnya layu.

B. Penyiraman

Agar euphorbia tumbuh prima dan selalu berbunga lebat, sebaiknya deprogram penyuburan-pembungaan-penyuburan-pembungaan, demikian seterusnya. Umumnya, fase penyuburan berlangsung 1-1,5 bulan. Sedangkan pembungaan biasanya berlangsung selama 3-4 bulan. Setelah menjalani masa penyuburan selama 1,5 bulan, sosok euphorbia telah bersalin rupa dengan percabangan banyak dan daun yang rimbun. Itulah saat yang tepat untuk memasuki periode berikutnya, yaitu pembungaan. Saat itu, tanaman membutuhkan air dalam jumlah yang memadai. Penyiraman dapat diberikan setiap hari dengan memakai sprayer atau gembor, agar cipratan air yang keluar halus, sehingga tidak merusak daun dan memuntahkan sebagian media tanamnya.

C. Penempatan

Penyinaran penuh ternyata merangsang euphorbia berbunga lebat. Untuk itulah, sebaiknya letakkan pot euphorbia di tempat terbuka dengan sinar matahari penuh dan sirkulasi udara di sekitarnya bagus. Hasilnya, sejak dipindahkan selama seminggu akan muncul bunga-bunga di sela-sela tajuknya. Sebulan kemudian, bunga-bunganya muncul serempak menyesaki setiap daunnya.

D. Penyiangan

Senantiasa menjaga kebersihan adalah salah satu cara agar euphorbia tumbuh subur dan berbunga lebat. Pasalnya, rumput atau tanaman liar lain yang biasanya tumbuh di media tanam akan menjadi pesaing euphorbia dalam penyerapan hara. Bahkan tanaman itu bisa jadi vector atau tempat bersembunyi hama dan penyakit, seperti serangga atau kutu. Untuk itulah gulma harus dicabut, sementara daun yang rontok sebaiknya segera dibuang.

E. Pemupukan

Agar berbunga lebat, euphorbia membutuhkan unsure hara dalam jumlah memadai. Ketika tanaman dipindahkan ke tempat terbuka, berikan pupuk majemuk dengan kadar N rendah, sementara P dan K tinggi. Merknya bermacam-macam, seperti Growmore, Hyponex atau Gandasil. Dosisnya 1 gram/liter/tanaman. Aplikasi pupuk seminggu sekali dengan cara mengocorkan ke media tanam. Perlakuan ini terus dilakukan seminggu sekali. Tingginya kadar P dan K merangsang euphorbia untuk memunculkan bunga. Baru seminggu disemprot pupuk, tanaman ini pun sudah mulai berbunga. Cara praktis dengan menaburkan pupuk lambat urai (slow release), seperti Dekastar, Magamp, dan Osmocote sebanyak 1-2 sendok makan setiap 3 bulan sekali. Dengan cara ini tanaman dapat menyerap hara setiap saat.

F. Hama dan Penyakit

Euphorbia sebenarnya tanaman hias yang bandel dan relatif jarang terserang hama dan penyakit. Meski demikian, tak ada salahnya Anda waspada dengan kehadiran kutu putih (white flies, mealy bug) dan thrips, karena kehadirannya membuat tanaman ini malas berbunga. Untuk memberantasnya dapat menggunakan insektisida, seperti Metindo, Pegasus, dan Agrimex. Frekuensi dan dosis sesuai petunjuk di labelnya. Penyakit lain yang perlu diwaspadai adalah bakteri Erwinia, penyebab busuk akar yang biasanya muncul di musim hujan. Untuk mencegahnya, lakukan penyemprotan pestisida secara berkala

tabloidgallery

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Aglaonema, Agar Berkualitas Dan Bernilai Tinggi

Diposting oleh emirgarden | Jumat, Mei 01, 2009 | , | 1 komentar »


Keindahan aglaonema tak pernah ada batasnya. Stok silangan yang terproduksi dari lokal maupun impor, membuat kita tak pernah bosan dengan tanaman hias yang juga dikenal dengan nama sri rejeki ini. Namun pertanyaannya, bagaimana memilih aglaonema impor atau lokal yang baik dan apakah merawatnya semudah kita memilih tanaman ini di toko bunga?


Membeli tanaman idola memang gampang-gampang susah, termasuk membeli aglaonema. Sebelum membeli aglaonema, sebaiknya kita paham dengan barang yang akan dibeli. Sebab

pada dasarnya, beberapa aglaonema memiliki keunggulan dan ciri khusus, hingga tak jarang jika lengah berakibat pada penularan koleksi lain.

Saat ini, jika dispesifikasikan ada tiga kelompok besar aglaonema yang biasa didapat di pasaran, yaitu aglaonema lokal non silangan, lokal, dan impor silangan. Menurut Pakar Aglaonema Indonesia, Gregori Garnadi Hambali, sebenarnya ada lagi aglaonema lokal non silangan dari luar (umumnya dari Belanda dan Amerika). Hanya ketatnya birokrasi dan sistematika pindah tangan, membuat jenis ini sulit untuk keluar.

Terpenting adalah mengenal ciri yang ada pada beberapa golongan aglaonema tersebut. Selain berguna bagi proses pemeliharaan dan perawatan, tahap ini bisa meminimalisir kekecewaan pasca pembelian tanaman (karena cepat mati atau sering terserang penyakit).

Aglaonema silangan impor

Menurut Greg, jenis ini sering tampil dengan perwujudan yang fantastis.
Itu ditandai dengan kemunculan warna-warna yang kontras, seperti kuning dan merah sampai warna solid salah satunya. Karena kebanyakan dihasilkan dari kultur jaringan (mayoritas produk Thailand sebagai negara penekspor aglaonema terbesar ke Indonesia), umumnya jenis ini memiliki daun yang lebih tipis ketimbang hasil budidaya biji. Namun keistimewaannya, jenis ini memiliki struktur permukaan daun yang lebih halus.

Beberapa orang beranggapan, daun yang tipis bisa jadi tebal ketika dibawa ke Indonesia. Pengaruh musim, diduga melatar-belakangi perkembangan daun ini. Secara umum, dalam hal estetika aglaonema impor silangan unggul jauh. Hanya karena dibudidaya secara instan dan tak melalui metode pemuliaan yang panjang, tak jarang jenis ini rentan penyakit. Tak jarang, jenis ini juga disebut-sebut pembawa wabah penyakit yang siap menular ke aglaonema koleksi lain.

“Berhati hatilah memberi aglaonema impor. Jika ragu, gunakan sistem karantina yang cukup sampai dirasa aglaonema steril dari penyakit. Sistem karantina bermacam-macam, bisa menggunakan desin-sektan atau memberi spase tersendiri aglaonema yang baru datang,” ungkap Greg.


Untuk memastikan kesehatan tanaman, usahakan tak hanya melihat dari daun yang menarik, tapi juga akar dan batang bawah. Semakin banyak ditemukan kebusukan di akar dan batang bawah, makin tak sehat tanaman.

Aglaonema Lokal Silangan

Jenis kedua adalah aglaonema lokal silangan. Jenis ini biasanya lebih tahan banting bila dibandingkan dengan jenis impor. Tak mau kalah dengan jenis impor, jenis lokal silangan sangat kuat dalam hal komposisi warna. Gradasi warna dasar dan baru, membuat motifnya menarik. Contoh paling mudah dapat kita lihat dari aglaonema silangan fenomenal Pride of Sumatera (POS).

Daun yang tebal jadi keistimewaan selanjutnya, meski daun yang ada tak sehalus struktur daun jenis aglaonema selangan impor. Beberapa jenis juga sering rentan menderita sakit akibat virus. Penyusunan gen yang tak sempurna diduga jadi latar belakang fenomena ini. Namun secara umum, aglaonema silangan lokal jarang sakit seperti aglaonema silangan impor.

Meski berembel-embel lokal, jangan meremehkan dalam hal harga. Pasalnya, jika dilihat dari perputarannya hasil silangan pertama jenis ini bisa dihargai sampai Rp 50 juta. Ini yang sering terjadi pada koleksi Greg yang dipinang kolektor lain. Memilih jenis ini yang berkualitas pada dasarnya sama dengan aglaonema impor silangan. Daun, akar, dan batang bawah jadi sorotan yang harus tak terlewatkan. Usahakan melihat akar yang telah tertancap di pot. Semakin banyak dan jarang busuk adalah pertanda tanaman sehat.

Aglaonema Lokal

Jenis terakhir adalah aglaonema lokal. Meski dulu jarang dilirik dan keberadaannya hanya difungsikan sebagai indukan, tapi kini pencinta jenis ini kian marak. Bahkan tak mau kalah, pemilik aglaonema yang kebanyakan didominasi warna hijau dan putih ini sudah berani unjuk gigi dengan mendaftar setiap kontes aglaonema digelar.

Karena jika kita membicarakan warna, jenis ini kalah telak dengan jenis silangan lokal maupun impor. Umumnya, jenis ini memiliki keunggulan di bentuk daun. Daun besar dan aneka bentuk lancip adalah bentuk yang sering dijumpai pada aglaonema lokal. Karena sering dijumpai dan sudah familiar hidup di Indonesia, jenis ini banyak ditemukan di mana-mana dan berjumlah banyak, sehingga dalam hal harga jenis ini tergolong paling murah ketimbang dua jenis sebelumnya.

“Di pasaran, aglaonema lokal yang sudah berusia dewasa sering dijual maksimal Rp 500 ribu (untuk tanaman yang belum menang kontes). Jika sudah merasakan gelar, harga naik jadi dua kali lipat sekitar Rp 10 juta per pot,” jelas M Zainudin, Kolektor dan Pecinta Aglaonema Lokal di Banjarbaru Kalsel.


Jika melihat serangan penyakit dari virus dan bakteri, jenis ini paling tahan banting. Namun umumnya, jika melihat musuh alaminya, aglaonema lokal sering jadi santapan lezat serangga dan jamur, sehingga jika Anda memutuskan untuk membeli jenis ini, usahakan daun yang ada tak memiliki sedikit pun bekas jamur dan serangga atau telur-telur serangga yang biasa melekat. [adi]

Bedakan Lokal dengan Impor

Langkah ini diambil untuk membedakan mana jenis aglaonema lokal yang didatangkan dari luar negeri dengan proses kultur jaringan. Memang saat ini untuk aglaonema lokal mendapatkan apresiasi besar, terutama dari karya Greg Hambali. Namun masalahnya, produksi dalam negeri masih belum mampu memenuhi permintaan pasar yang besar.

Sebab dengan cara pengembang-biakan secara tradisional, maka untuk mendapatkan bibit baru membutuhkan waktu yang lama. Sementara untuk melakukan pembiakan masal dengan kultur jaringan masih sedikit yang bisa membuatnya. Padahal proses kultur jadi satu-satunya cara pembiakan secara masal dan celakanya pelaku industri tanaman hias lokal kurang bisa menangkap peluang ini. Akhirnya, mau tak mau Thailand jadi tujuan utama mencari produk aglaonema yang dihasilkan oleh anak bangsa.

Hasil aglaonema dari kultur jaringan melalui impor – meski dari jenis yang sama – tapi punya karakter berbeda. Untuk membedakan aglaonema lokal yang diperbanyak secara alami lewat stek maupun cangkok dengan aglaonema dari kultur jaringan, menurut M Siregar – Penghobi Tanaman Hias di Banjarmasin Kalsel, itu ternyata mudah. Wajar, karena bagi penghobi berpengalaman bukan hal sulit, tapi bagi pemula lain ceritanya.

“Paling gampang melihat struktur warna merah yang jadi ciri khas produk lokal,” tandas Siregar.


Untuk produk alami, warna merah yang muncul bisa cerah dan tegas, terutama untuk bagian belakang daun, tangkai daun, dan motif di permukaan daun. Kondisi ini berbeda dengan hasil dari kultur yang memiliki warna lebih pudar. Pudar di sini tetap memberikan kesan merah, tapi tak begitu cerah.

Selanjutnya yang paling mudah dilihat adalah dari ukuran daun yang lebih kecil dibandingkan jenis lokal. Pembanding ini sulit, karena harus melihat dulu aglaonema lokal. Namun bisa juga dilihat dari daun tua yang ada di bawah. Bila daun tua jauh lebih kecil dari daun baru, itu jadi ciri khas dari hasil kultur jaringan. Namun jangan khawatir bila mendapatkan produk kultur, karena saat tumbuh tunas baru, maka kualitas anakan akan sama dengan aglaonema lokal. Sebab, sudah melalui perbanyakan secara alami.

Menjadikan Aglaonema Berharga Mahal

Patokan harga tinggi untuk beberapa jenis aglaonema, tentu berkaitan dengan urusan tampilan maksimal. Selama ini keberadaan aglaonema impor bisa disejajarkan dengan jenis lokal. Hanya varian untuk jenis impor lebih beragam, sehingga kehadirannya makin memperkaya khasanah tanaman hias Tanah Air.

“Pada dasarnya, semua tanaman itu memiliki nilai ekonomi. Hanya untuk tinggi-rendahnya bergantung pada pesona yang ditampilkan,” imbuh Greg.


Untuk aglaonema jenis impor masih memegang kendali cukup kuat. Lantaran beragamnya jenis yang ditampilkan, sehingga konsumen pun mempunyai banyak alternatif untuk memilih, seperti harga aglaonema silangan dari Thailand yang memiliki nama pasar legacy, harga yang dipatok tergolong tinggi, yaitu Rp 500 ribu per tanaman atau bahkan harga ini bisa lebih tinggi.

Itu bergantung pada tampilannya, dimana semakin berkarakter tentu akan berpengaruh pada nilai jualnya. Ini berkaitan dengan nilai estetika, tren, dan kelangkaan. Sepertinya, membuat tanaman tampil prima bukan jadi satu hal yang sulit dilakukan, dimana tampilan yang maksimal akan berdampak pada tingginya nilai ekonomi. Ingin tahu kiat membuat pesonanya tampil ciamik, baik untuk aglaonema jenis lokal ataupun impor.

Khusus Penghobi

Ada beberapa kriteria yang diperhatikan untuk membuat tanaman berharga mahal dengan tampilan optimal. Utamanya adalah masalah kelangkaan, keunikan, terawatt, dan tren – dimana penghobi di sini sebagai end user yang menilai tanaman bukan hanya dari harga, tapi lebih ke pesona tanaman keseluruhan.

1. Langka

Faktor kelangkaan bisa memicu mahalnya tanaman. Kelangkaan ini bisa ditimbulkan dari sulitnya dikembang-biakan, masih sedikit yang menjual karena tak tren atau tanaman banyak, tapi penjualnya tak mau melepas. Jadi bisa dikategorikan sebagai langka di pasar dan langka, karena sulit dikembang-biakan.

2. Unik

Semua tanaman unik dan tak memiliki perbedaan antara satu dengan yang lain. Tapi unik yang dimaksud adalah memiliki ciri khas mencolok dan berbeda dari aslinya. Di pasaran dikenal istilah variegata dan mutasi. Kadang ada juga yang menyebut albino. Kebanyakan tanaman yang variegata dihasilkan dari biji. Mutasi adalah kelainan yang terjadi, karena campur tangan alam (penyakit karena virus atau faktor bawaan lain) atau campur tangan manusia. Biasa dikenal dengan rekayasa genetik.

3. Perawatan Optimal

Tanaman yang terawat baik akan memiliki bentuk yang baik dan sehat. Karena terawatt, maka bentuk daun, batang, dan bunga jadi lebih indah. Tanaman yang mahal pun apabila tak terawat dengan baik akan berkurang nilainya. Misalnya, aglaonema yang daunnya rusak, pasti tak dihitung dalam penilaian. Itu berkaitan juga dengan keserempakan daun yang makin menambah nilai.

4. Membaca Tren

Seperti halnya fashion, tanaman punya tren sendiri. Saat tren turun, otomatis tanaman akan turun nilainya. Turunnya nilai bukan karena tanaman tersebut tak unik atau tak terawat, tapi mutlak karena hukum pasar.

5. Kenali Hukum Pasar

Saat sedang tren atau memang langka, maka persediaan biasanya tak sebanding dengan permintaan. Sesuai hukum pasar, maka naiklah harganya. Ini wajar terjadi di dunia tanaman hias, berputar sesuai dengan siklusnya.

Bagi Pedagang

Tak dapat dipungkiri, para pedagang lebih berharap pada profit oriented. Namun bukan berarti tak memperhitungkan kualitas barang. Inilah yang paling orang mau lakukan walau tak mudah melakukannya. Tanaman bisa dibuat jadi mahal apabila Anda mau mengerjakan hal-hal berikut:

1. Merawat tanaman dengan baik

Ini adalah mutlak. Tanaman yang terawat baik secara kasat mata akan indah. Walau hanya sekedar tanaman sansiviera yang biasa ada di pinggir jalan, kalau dirawat dengan baik pasti akan punya nilai yang lebih tinggi. Perawatan adalah dengan memberikan tempat yang baik (pot dan media), melakukan perawatan daun kalau tanaman itu punya nilai di daunnya, memberikan pupuk yang tepat, mengganti media saat dibutuhkan, dan terus mengecek kesehatan secara berkala. Dalam hal ini juga bisa dilakukan proses pembentukan, supaya bentuk lebih indah dan kompak.

2. Koleksi tanaman unik dan langka

Kadang tanaman jenis unik dan langka tak serta-merta harganya mahal saat membeli. Pemilihan tanaman unik bisa dilakukan dengan berkeliling di kebun pembibitan tanaman hias. Biasanya bibit unik bisa mulai terdeteksi saat usia seedling muda. Untuk tanaman langka bisa berburu langsung ke daerah yang bersangkutan. Tanaman langka biasanya sulit ditemukan di nurseri biasa. Kalau ada sedikit kenekatan dan modal, bisa saja langsung cari ke nurseri di luar negeri. Pembelian bisa lewat internet atau langsung ke lokasi.

3. Pintar prediksi tren tanaman

Dalam hal ini lebih mengandalkan kemampuan insting, yaitu dengan memperbanyak referensi tentang jenis tanaman, baik dari media ataupun komunitas yang banyak terbentuk di masing-masing kota. Hanya diperhatikan bahwa tren tanaman biasanya berputar. Jadi kalau ketinggalan tren – tak masalah – toh nantinya tanaman kita bisa terangkat naik

tabloidgallery
pic ; Aglaonema Legacy, koleksi Bp. Gede. S, diambil dari milis aglaonema

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Memilih Pot dan Tempayan

Diposting oleh emirgarden | Senin, April 06, 2009 | | 2 komentar »


Ragam jenis pot atau tempayan yang ada di pedagang tanaman hias, mengisyaratkan bahwa popularitas wadah tanaman ini sedang marak. Anda tertarik? Simak dulu kiatnya!

Menyusuri sentra-sentra tanaman hias, deretan pot atau tempayan kini terlihat makin bervariasi. Beragam bahan dasar, ukuran, warna, dan model tersedia untuk dipilih. Tak pelak semuanya mengisyaratkan bahwa popularitas wadah tanaman ini sedang marak. Anda tertarik juga untuk menggunakannya di taman? Simak dulu kiatnya berikut ini.


Beda Pot dan Tempayan

Kata ‘pot’—berasal dari bahasa Inggris dan Belanda—dengan jelas mengacu pada sebuah obyek yang berfungsi sebagai wadah tanaman. Wadah di sini bisa berarti dua. Yang pertama, tanaman hias ditanam langsung di dalam pot tersebut, setelah sebelumnya pot diisi dahulu dengan media tanam. Yang kedua, pot hanyalah sebagai “peranti display”, di mana pot hanya “membungkus” wadah asli tanaman (yang biasanya jelek). Hal ini terutama bila pot tersebut merupakan barang yang mahal, langka atau antik.

Sementara itu tempayan adalah wadah—biasanya terbuat dari tanah liat—bermulut lebar. Meskipun yang diberi nama gentong (tinggi, bermulut sempit), juga tergolong dalam keluarga tempayan. Awalnya tempayan lebih berfungsi sebagai wadah air, tetapi lambat laun dimanfaatkan pula sebagai wadah tanaman. Sama seperti pot, tanaman hias bisa ditanam langsung, atau bersama potnya, dimasukkan ke dalam tempayan. Umumnya tempayan lebih dimanfaatkan untuk tanaman air, tetapi sah-sah saja jika dipakai untuk menanam tanaman hias yang menggunakan media tanam tanah.

Bahan Dasar dan Sifat Tanaman

Aneka pot dan tempayan yang sekarang ini ditawarkan terbuat dari beragam bahan dasar; tanah liat, adukan semen, keramik, porselen, plastik, bahkan kayu. Finishingatau sentuhan akhirnya pun bervariasi. Dibiarkan polos sesuai dengan warna bahan dasarnya, diberi ornamen-ornamen yang menonjol (seperti profil), ditempel mozaik porselen, batu-batu kerikil. diwarnai, dan diglasir. Semuanya ini dilakukan agar pot dan tempayan tampil menarik sesuai dengan selera masing-masing konsumen.

Namun sebelum membeli, sebaiknya pertimbangkan dahulu sifat bahan dasar wadah dan tanaman hias yang akan ditempatkan di situ, khususnya bila wadah memang direncanakan untuk menampung media tanam sekaligus tanamannya. Misalnya pot atau tempayan dari tanah liat mempunyai sifat poros, menyebabkan air cepat merembes keluar sehingga media tanam cepat kering.

Jadi untuk pot dan tempayan tanah liat harus dipilih tanaman yang kurang membutuhkan air banyak seperti mirten, tah-tehan, dan jenis sukulen. Atau pilih lokasi penempatan pot yang agak teduh. Jika trik ini yang Anda pilih, jangan lupa memilih jenis tanaman yang menyukai keteduhan (Misalnya jenis semi in – door).

Jika digunakan untuk wadah tanaman air (Tempayan dan pot-pot tanah liat yang tinggi dan bermulut lebar), bagian dalam pot dan tempayan tanah liat perlu dilapisi dahulu dengan adonan semen untuk menutupi pori-pori dinding.

Untuk pot atau tempayan dari adukan semen, sifatnya juga berporus tapi sedikit lebih kedap daripada yang tebuat dari tanah liat. Sebaliknya pot plastik/fiber bersifat kedap air dan udara. Kelemahan pot atau tempayan plastik adalah penguapan kelebihan air siraman terhambat sehingga media tanah seringkali menjadi terlalu basah. Akibatnya akar-akar tanaman akan membusuk.

Jika menggunakan pot plastik, pastikan bahwa lubang-lubang di dasar pot cukup banyak. Dan 1/3 bagian bawah pot sebaiknya diberi arang, batu karang atau batu apung dan disempurnakan dengan penyangga dari batu bata atau besi. Dengan demikian kelebihan air dalam pot akan mudah mengalir keluar. Hingga saat ini tempayan plastik atau lebih tepatnya ember, sering digunakan pedagang tanaman hias sebagai wadah tanaman air. Tapi tanaman air biasanya akan tumbuh lebih sempurna bila ditanam langsung dalam wadah tanah liat yang besarnya memadai.

Pot dan tempayan dari keramik atau porselen juga bersifat kedap udara dan air. Meski keduanya dibuat dari bahan-bahan alami, setelah melalui proses pembakaran, pori-porinya akan merapat. Tampil mewah, mahal dan berat, jenis ini lebih sering digunakan sebagai peranti display.

Sementara itu, pot kayu lebih cocok untuk tanaman hias yang menggunakan media tanam pakis cincang, seperti suplir, kadaka, kuping gajah, atau anggrek, karena kayu menahan kelembaban cukup baik. Tempayan dari kayu (tahang), bisa juga untuk wadah tanaman air, asalkan bagian dalamnya dilapis dahulu dengan aspal supaya kedap air.

Model dan Ukuran

Membeli pot atau tempayan memerlukan pertimbangan bijak. Di samping bahan dasar, besarnya pot perlu dipikirkan supaya mampu mengantisipasi pertumbuhan tanaman. Setelah sekian waktu, ukuran dan bentuk tanaman pasti akan berubah. Yakni lebih tinggi dan lebih melebar. Bisa jadi, wadah dan tanaman sudah tampil serasi di saat awal penanaman menjadi tidak proporsional lagi. Selanjutnya wadah yang terlalu sempit tentunya akan menghambat pertumbuhan akar tanaman yang pada akhirnya juga mengurangi kesempurnaan tampilan tanaman.

Bentuk fisik tanaman perlu pula disesuaikan dengan bentuk dan ketinggian wadah. Misalnya, tajuk tanaman yang membulat dan melebar akan tampil serasi bila wadahnya tidak terlalu tinggi dan berbentuk cembung. Sedangkan tanaman yang bentuknya meninggi memerlukan wadah yang agak tinggi pula supaya tampil seimbang. Begitu pula untuk tanaman yang sifatnya menjuntai ke bawah.

Model pot atau tempayan jangan diabaikan, terutama bila benda-benda tersebut hendak digunakan sebagai elemen dekoratif taman. Hindari memilih model pot yang terlalu ramai bila ukuran taman sangat terbatas. Bentuk/model yang bergaris tegas, sederhana dalam tampilan, justru akan menonjol setelah diletakkan di taman.

Kosong Tetap Oke

Selain untuk peranti display tanaman hias, pot dan tempayan kini mulai difungsikan sebagai elemen estetika dalam taman. Meskipun kosong tanpa tanaman, tetapi jika bahan, bentuk, dan warna wadah dipilih dan diletakkan dengan penuh selera, maka wadah tersebut justru akan tampil ornamental serta berfungsi sebagai point of interest tamanyang menawan.

Sebagai contoh, sebuah taman yang mungil pun sudah mampu mempesona mata. Cukup “bermodalkan” sebuah gentong, tempayan, atau pot tinggi, sedikit tanaman-tanaman kecil di kakinya, hamparan rumput hijau, dan sedikit perkerasan.

Begitu pula bila beberapa pot terakota atau tanah liat yang polos dan sederhana, terdiri dari berbagai bentuk dan diisi dengan tanaman hias dari jenis yang sama, ditata secara artistik dalam sebuah kelompok. Hasilnya pasti membuat Anda bangga! (Cherry Hadibroto dan Don WS.-Penulis buku interior dan taman/www.tabloidrumah.com)

tabloidrumah

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Bonsai dan Teknik Pembuatannya

Diposting oleh emirgarden | Jumat, Maret 20, 2009 | , | 0 komentar »


Oleh : Bonardo Sianturi / samsbonsai

A. Pengerdilan

Pohon yang dijadikan bonsai tumbuh kerdil karena:

1. Ditanam di dalam tempat yang kecil (terbatas) seperti pot, lubang (ronggga) di dalam batu, dan sebagainya.
Tanah di dalam tempat-tempat yang kecil yang tiddak seberapa banyak itu, dengan sendirinya membatasi pertumbuhan tanaman. Bila sebatang bonsai dipindahkan dari potnya dan ditanam di tanah sehingga akar-akarnya dapat bebas menjalar kemana-mana, bonsai itu akan menjadi pohon yang (lebih) besar juga.


2. Secara terus-menerus dibuang semua tunas barunya (bud nipping), kecuali tunas baru yang diperlukan untuk penyempurnaan bentuk pohon. Hal ini perlu kita laksanakan, karena banyak enersi pohon yang terpusat pada tunas-tunas baru. Dengan membuang sebagian besar tunas-tunas tersebut, dapat diharapkan bahwa bagian-bagian lain dari pohon itu akan mendapat bagian enersi yang lebih banyak, terutama dahan-dahan yang lemah yang kita inginkan tumbuh menjadi kuat. Dengan demikian, ukuran kerdil dan bentuk indah yang dimiliki pohon itu, dapat dipertahankan atau malah disempurnakan.

Sebaliknya, bila tunas-tunas baru kita biarkan tumbuh semua, maka selain pohonya akan cepat menjadi besar dan kehilangan pula keindahan bentuknya, juga akan menyebabkan dahan-dahan tua yang terdapat di batang pohon bagian bawah dan yang biasanya lemah itu, menjadi lebih lemah lemah lagi dan akhrinya merana dengan kemungkinan mati sebelum waktunya.

3. Pada waktu-waktu tertentu, dipotong (dikurangi) akar-akarnya.
Di alam bebas dalam keadaan normal, bagian tanaman yang tumbuh di bawah dan di atas tanah, seimbang. Dengan memotong (mengurangi) akarnya, pertumbuhan batang, dahan, dan ranting, akan terhambat. Untuk tetap adanya keseimbangan antara yang tumbuh di bawah dan di atas tanah, maka pada waktu diadakan pemotongan (pengurangan) akar, harus dilakukan pula pemotongan (pengurangan) dahan atau ranting yang seimbang.

4. Diletakkan di tempat yang mendapat sinar matahari penuh sepanjang hari dan mendapat angin secukupnya untuk mempercepat penguapan.
Sinar matahari, terutama sinar ultra violetnya, mempengaruhi pertumbuhan tanaman dalam arti membatasi kecepatan pertumbuhannya. Mengingat hal tersebut, bonsai harusa mendapat sinar matahari sepanjang hari agar dahan dan rantingnya tidak memjadi panjang-panjang, sehingga pohonnya berbentuk kompak.

Ada kecualiannya, walaupun tidak banyak jumlahnya, yaitu bonsai yang dibuat dari jenis-jenis tanaman yang di alam bebas juga hanya tumbuh di tempat-tempat yang tidak mendapat sinar matahari sepanjang hari penuh. Bagi bonsai dari jenis tanaman itu, sudah memadai jika diletakkan di tempat yang mendapat angin serta mendapat sinar matahari selama beberapa jam sehari.

5. Diperpendek batangnya dengan memotong pucuknya.
Dari tunas-tunas baru yang akan tumbuh kemudian di dekat batang setelah pucuknya dipotong, kita pilih salah satu tunas yang paling cocok untuk dijadikan pengganti pucuk pohon yang telah kita potong itu. Sebaiknya kta pilih tunas yang tumbuhnya di sebelah depan, dengan maksud agar kelak bekas luka potongan pada ujung batang tidak terlihat dari depan karena terhalang oleh tunas itu. Segera setelah tunas baru itu kuat untuk di-train, maka tunas itu kita paksa untuk tumbuh ke atas sebagai pengganti pucuk pohon. Bila kelak ternyata, bonsai dengan pucuknya yang baru itu, masih terlalu tinggi, maka cara memperpendek batangnya seperti tersebut di atas, dapat kita ulang. Jika perlu sampai beberapa kali, yaitu setiap kali memperpendek batang pohon yang lama, sampai ukuran pohonnya sesuai dengan keinginan kita.

Dengan cara-cara pengerdilan tersebut, para ahli dapat membuat bonsai yang sangat kecil (mame bonsai). Akan tetapi kebehasilan tersebut lebih menonjol dalam mengerdilkan pohonnya daripada menerdilkan daun, bunga, dan buahnnya. Pengerdilan daun sampai batas-batas tertentu akan terjadi jika daun dan pucuk rantingnya kita buang semua. Daun-daun baru yang tumbuh kemudian akan berukuran lebih kecil. Cara itu hanya dapat dilaksanakan bila tanamannya sehat dan dapat kita ulang dengan memperoleh daun-daun dengan ukuran yang lebih kecil lagi.

Sebaiknya, dua minggu sebelum cara pengerdilan daun ini kita laksanakan, pohonnya kita beri pupuk yang diperlukan untuk pembentukan daun-daun baru, yaitu pupuk dari jenis yang mempunyai kandungan unsur N-nya tinggi. Selanjutnya, sejak pohon itu gundul, dan selama masa pertumbuhan daun baru (daun baru “angkatan” pertama setelah penggundulan), penyiraman kita kurangi hingga seminim-minimya, yaitu pagi sedikit dan sorepun sedikit, asal jangan sampai layu. Maksudnya adalah selain untuk memperkecil daun-daun baru, juga untuk mencegah pertumbuhan akar, karena dengan menggunduli pohon itu, keseimbangan antara bagian-bagian pohon yang ada di bawah dan yang ada di atas tanah terganggu. Seudah daun-daun tersebut berhenti tumbuh, yaitu berhenti membesar, penyiraman dilaksanakan seperti biasa lagi.

Akibat dari pengerdilan daun itu, bunganya, dan dengan demikian tentu juga buahnya, sedikit banyak akan mengecil pula. Akan tetapi kita tidak mengecilkan semuanya itu hingga seimbang dengan ukuran bonsai yang bersangkutan. Oleh sebab itu ukuran daun, bunga dan buah pada umumnya akan selalu terlalu besar bila dibandingkan dengan ukuran bonsainya (pohonnya).

Selain cara pengerdilan daun sebagaimana disebut di atas yang kita laksanakan hanya sekali-sekali saja, kita harus terus memetik ujung-ujung ranting atau kuncup daun yang baru (sprout nipping) agar daun-daun yang tumbuh kemudian tetap berukuran kecil, sambil mempertahankan atau memperbaiki bentuk bonsai yang diperlukan. Pada tanaman yang msaih muda dan dari jenis yang pertumbuhannya cepat, pemetikan tersebut kita lakasnakan sekurang-kurangnya sekali seminggu selagi ujung ranting masih lunak sehingga untuk memotongnya tidak diperlukan gunting, melainkan cukup dengan cara memetiknya dengan kuku ibu jari dan telunjuk. Selain untuk mempertahankan ukuran daun yang telah mengecil itu, sprout nipping secara berkala menyebabkan ranting yang bersangkutan bercabang terus-menerus, sehingga bentuk pohon menjadi lebih kompak.

B. Training

Yang dimaksud dengan training adalah proses penyempurnaan bentuk pohon yang sedang kita kerdilkan itu, sehingga mempunyai bentuk yang indah dan dekoratif. Dengan penyempurnaan tersebut, pohon itu akan memberikan kesan kepada orang yang memandngnya, seakan-akan ia melihat dan merasakan keagungan sebatang pohon atau sekelompok pohon yang indah dan menunjukan tanda-tanda ketuaan, walaupun semuannya dalam ukuran mini

Training dilaksanakan antara lain dengan cara:

1. Melilitkan kawat pada batang, dahan atau ranting (wiring) dan kemudian membentuknya (mengubah arah pertumbuhan, membengkok-bengkokkan atau meluruskan batang, dahan atau ranting tersebut) menurut keinginan kita.

Untuk keperluan itu kita perdunakan kawat tembaga dari berbagai ukuran, sesuai dengan keperluan kita. Untuk membengkokkan batang umpamanya, tentu diperlukan kawat yang ukurannya lebih besar daripada untuk membengkokkan ranting.

Perlu diingat bahwa kawat tersebut tidak boleh kita biarkan terlalu lama melilit batang, dahan atau ranting. Sebagai akibat pertumbuhannya, kawat tersebut lama kelamaan akan “menggigit” dan meninggalkan bekas pada bonsainya setelah lilitan kita buka. Alasan mempergunakan kawat tembaga guna wiring, ialah karena kawat tembaga lebih mudah sehingga lebih mudah dililitkan daripada kawat biasa (kawat “jemuran”).

2. Mengikat batang, dahn atau ranting yang hendak kita ubah arah pertumbuhannya.
Sebatang dahan yang hendak kita paksa tumbuh mendatar atau menurun umpamanya, kita tekan ke bawah sampai pada posisi yang kita inginkan, kemudian kita ikat dengan kawat atau tali pada potnya. Mengikatnya jangan terlalu erat untuk mencegah “gigitan” tali atau kawat selang beberapa waktu. Ikatan itu harus segera dibuka sekiranya dahannya tidak akan kembali lagi ke posisinya yang lama.
Bila kulit pohon lunak, sebaiknya pada tempat pengikatan tali atau kawat, kulit itu kita balut lebih dahulu dengan plastik tebal atau karton umpamanya, untuk mencegah kerusakan kulitnya.

3. Membuang dahan dan ranting yang tidak kita inginkan.
Dahan atau ranting yang mengurangi atau merusak keindahan bentuk pohon, harus segera dibuang, kecuali yang tumbuh pada batang bagian bawah. Walaupun dahan dan ranting yang kita sebut belakangan itu tidak kita kehendaki karena mengurangi atau merusak keindahan pohonnya, akan tetapi dahan dan ranting seperti itu boleh kita biarkan tumbuh. Sebabnya ialah karena hal tersebut dapat mempercepat pertumbuhan batang pohonnya. Apabila batang pohonnya sudah cukup besar, barulah dahan dan ranting itu kita buang juga.

Sebaliknya bila di tempat yang sebaiknya ada dahan atau rantingnya demi kseimbangan dan keindahan, kan tetapi dahan atau ranting yang kita inginkan itu tidak ada atau tidak mau tumbuh, kekurangan itu dapat kita atasi dengan cara okulasi atau ent.

4. Memotong dahan atau ranting pada tempat-tempat tertentu dengan harapan dahan atau ranting tersebut akan bercabang di tempat dekat bekas luka potongan.
Untuk memperoleh pohon dengan bentuk yang kompak, tindakan tersebut harus diulangi beberapa kali sambil mengingat–ingat (mengkhayalkan) bentuk yang akan kita berikan kepada bonsai itu. Jadi bukan asal kompak saja!

5. Memangkas untuk merapikan (trimming) tunas-tunas dan daun-daun baru yang apabila dibiarkan tumbuh, akan merusak bentuk bonsai yang sudah indah itu.

6. Dan lain-lain cara penyempurnaan (koreksi) bentuk pohon.
Walaupun training tersebut dilaksanakan menurut pola-pola dasar tertentu yang telah terkenal sejak zaman dahulu dalam dunia bonsai, akan tetapi tetap diperlukan rasa seni dari si pembuat bonsai untuk dapat menghasilkan pohon-pohon kerdil yang indah bentuknya. Teknik pengerdilan dan training dapat diajarkan, tetapi rasa seni tidak!

Justru rasa seni itulah diperlukan dalam hal:

- Memilih bentuk, ukuran dan warna pot serta batu.
- Menentukan letak pohon di dalam pot atau di atas batu.
- Menetapkan posisi pohon, yaitu sudut yang dibuat oleh batang pohon dengan permukaan tanah di dalam pot atau dengan permukaan batu yang ditumbuhinya.
- Mengatur pertumbuhan dan penjalaran akar-akar (root-spread) di atas permukaan tanah atau batu.
- Mengoreksi bentuk pohon (training).

Tanpa rasa seni, maka tidak akan tercipta suatu bonsai yang sempurna, suatu master-piece. Karena kita tidak akan dapat membuat duplikat dari suatu bonsai, maka tiap bonsai akan merupakan kreasi baru dengan keindahan dan “kepribadian” sendiri.
Dalam training inilah letak seni bonsai dan dalam masa training ini pula ketekunan dan kesabaran kita diuji selama bertahun-tahun.

Sesungguhnya masa training ini tidak ada akhirnya, karena training dimulai dari saat sebatngpohon sukup kuat untuk di-train, hingga pohon tersebut mati tua bertahun-tahun kemudian.

C. Training Akar-Akar Tunjang

Selain teknik mengenai training tanaman sebagaimana telah diuraikan, ada pula teknik khusus untuk training akar-akar tunjang atau sulur pohon-pohon jenis ficus, anatara lain pohon beringin (Ficus benjamina L) dan pohon karet ( Ficus elastica Roxb) yang kita bonsaikan.

Di alam, untaian akar-akar tunjang (sulur) dari pohon-pohon raksasa jenis Ficus, yang beratnya berkilo-kilo itu, dengan sendirinya akan tumbuh vertikal ke bawah dari dahan-dahannya, sampai akhirnya akar-akar tersebut menyentuh permukaan tanah dan seterusnya masuk ke dalam tanah.

Pada pohon Ficus yang kita bonsaikan, akar-akar tunjangnya karena kurang bobot, tidak tumbuh vertikal ke bawah, melainkan tidak beraturan, ada yang tumbuh ke samping, ke depan, ke belakang dan bahkan ke atas! Akibatnya ialah bahwa akar-akar terebut tidak dapat memberikan kesan sebagaimana yang ditimbulkanoleh akar-akar tunjang pohon Ficus yang tumbuh dengan ukuran raksasa di hutan atau di tengah alun-alun.

Oleh karena itu akar-akar tersebut perlu kita train agar tumbuh vertikal kebawah. Caranya adalah dengan melekatkan tanah liat sebesar kelereng dekat pada ujung akar, sehingga karena bobot tanah liat tersebut, akan terpaksa tumbuh lurus vertikal ke bawah. Cara ini hanya dapat kita terapkan pada musim kemarau, karena pada musim hujan,. Tanah liat itu akan terlepas setiap kali tersiram hujan.

Untuk merangsang pertumbuhan akar tunjang pada musim kemarau, ujungnya harus kita basahi berkali-kali sehari. Agar supaya tidak terlalu merepotkan, dapat pula kita masukkan ke dalam tabung-tabung gelas atau tabung plastik kecil, yang berisi air. Umpamanya sedotan plastik untuk minuman yang ujungnya kita sumbat atau kita lipat dan kemudian kita ikat erat-erat. Dengan menggunakan tabung-tabung tersebut kita sekaligus memaksa akar-akar tunjang tumbuh lurus ke bawah sehingga ujung-ujungnya tidak perlu diberi pemberat (tanah liat).

Dengan sebuah alat penyuntik dari plastik yang murah (disposable plastic syringe) yang dapat kita beli di apotek-apotek, atau dengan sebuah pipet (misalnya alat untuk meneteskan obat tetes mata), persediaan air di dalam tabung yang berkurang karena dihisap oleh akar-akar tersebut, kita tambah setiap hari.

Supaya akar-akar tunjang itu tidak tumbuh melekat pada dinding tabung-tabung tersebut, setiap hari tabung-tabung itu kita gerakkan naik turun seikit. Apabila ujung akar terlihat telah sampai ketinggian permukaan tanah, tabungnya kita ambil dan ujung akar kita timbuni dengan tanah.Agar dapat melihat pertumbuhan akar, maka tabungnya harus terbuat dari gelas atau plastik yang tembus pandang.

D. Penuaan (Ageing)

Dengan menggunakan “teknik penuaan”, pohon yang kita kerdilkan itu lebih cepat nampak seperti tua. Penuaan dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Dahan-dahan dan ranting-ranting dipaksa (di-train) untuk mendatar atau agak menurun.

2. Akar-akar pada pangkal pohon ditonjolkan dengan cara memaksa akar-akar tersebut untuk menjalar di atas permukaan tanah, sedapat mungkin ke empat jurusan atau lebih, sepanjang beberapa sentimeter.
Maksudnya ialah, selain agar pohon itu kelihatan lebih tua, juga demi keindahan dan supaya pohonnya memberi kesan tumbuh kukuh, tidak mudah tumbang dan batangnya tidak menyerupai tongkat yang ditancapkan di tanah! Demi keindahan, akar yang tumbuhnya tepat ke arah depan, harus dibuang.

3. Ada kalanya sebagian dari batang pohon dikupas kulitnya sehingga terlihat kayunya, atau sebatang dahan tua dikuliti seluruhnya sehingga kayunya kemudian mati dan memutih. Bahkan ada pula yang sebagian batang dikerok kulit dan kayunya sedemikian dalam, sehingga batang pohon itu berongga dan sebagian dari kayunya mati.

Kayu yang memutih akibat kupasan pada batang pohon, dalam bahasa Jepang disebut sabamiki. Dahan yang mati dan kayunya memutih disebut jin, dan lubang pada batang pohon yang berongga, disebut uro.

Perlu diingat bahwa baik sabamiki, jin maupun uro harus terlihat sebagai cacad yang wajar, seakan-akan diakibatkan oleh pengaruh alam selama bertahun-tahun

pic from samsbonsai

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Adenium dan Cara Pemeliharaannya

Diposting oleh emirgarden | Rabu, Januari 28, 2009 | , | 0 komentar »


Adenium merupakan tanaman sukulen yang berumur panjang. Tanaman ini berasal dari daerah tropis, meski ditemukan di gurun pasir. Terlebih lagi telah terjadi domestikasi sehingga hanya anakan yang tahan terhadap air-lah yang mampu bertahan dalam kondisi yang basah. Anakan tersebut lebih tidak senang terhadap kekeringan daripada yang ada di alam. Adenium akan mati saat terjadi kombinasi dari keadaan dingin dan basah ataupun dengan terlalu banyak menyiram pada media yang lengket dan drainase-nya tidak bagus.

Namun keadaan dingin ini (di bawah 10C) tidak dijumpai di semua wilayah Indonesia (kecuali di pegunungan), sehingga tanaman adenium ini dapat lebih cepat tumbuh karena mendapat panas yang cukup dengan tak lupa air yang cukup.

a. Media tanam

Adenium membutuhkan media yang cukup mengandung udara dan mampu menahan kelembaban agar pertumbuhannya maksimal. Namun pemilihan media yang tepat merupakan kebijakan dari masing-masing pemelihara yang disesuaikan dengan penyiraman yang dilakukan. Jika penyiraman sering, maka diperlukan media yang tidak mengikat air, tapi jika jarang dilakukan penyiraman, maka media yang digunakan adalah yang cukup mengikat air.
Cara pemupukan juga perlu diperhatikan apakah akan secara siram (dilarutkan dalam air siraman) atau dengan mencampur ke media atau diletakkan di atas media, atau kombinasi dari cara-cara tersebut.

Campuran media yang sering digunakan adalah: Cocopeat (serbuk sabut kelapa), cocochunk (cacahan sabut kelapa), pasir kasar, sekam bakar, sekam, pupuk kandang, pupuk kompos, kerikil, daun kering, dan lain-lain. Beberapa bahan di atas dicampur dengan perbandingan menjadi media yang disesuaikan dengan kebutuhan penyerapan air dan pemupukan menurut kebutuhan masing-masing grower .
Seringkali di dasar pot diberi kerikil, pecahan batu bata, pecahan genteng, ataupun styrofoam. Ada pula grower yang tak menambahkan dasaran di bagian bawah pot melainkan menggunakan kain jala untuk mencegah media keluar dari lubang drainase.

b. Pot/wadah tanam

Segala macam pot dapat dipakai. Kita harus hati-hati dengan pot gerabah ataupun keramik, karena dapat pecah saat bonggol membesar dan tidak muat dalam pot tersebut. Sebaiknya gunakan pot gerabah atau keramik yang berdinding tebal sehingga tidak mudah pecah. Pot plastik juga baik karena ringan dan tidak mudah pecah.

Lubang drainase haruslah besar dan banyak untuk menjamin tidak adanya penyumbatan air yang berakibat fatal. Di bagian bawah biasanya diberi kain jala untuk mencegah tergerusnya media ke luar dari pot.

Besar pot hendaknya disesuaikan dengan masa pertumbuhan dari adenium yang ditanam. Pot tidak boleh terlalu besar yang dapat mengakibatkan percabangan akar yang terlalu banyak.

Saat akar/bonggol adenium sudah tidak muat di suatu pot, maka saatnya untuk memindahkan ke pot yang lebih besar. Pemindahan ini dapat dilakukan dengan membersihkan media yang lama dan diganti yang baru, atau jika media lama masih laik maka dapat pula disisakan dan di sela-sela-nya diisi dengan media yang baru. Saat yang tepat untuk mengganti pot adalah ketika adenium sedang dalam masa tumbuh aktif. Harus hati-hati dengan kemungkinan bonggol terlukai sat transplantasi. Bonggol yang terluka dapat mengakibatkan busuk saat dilakukan penyiraman. Jika bonggol ternyata terluka, jangan sirami selama sekitar seminggu agar luka-nya sembuh terlebih dahulu.

c. Pengairan/penyiraman

Seberapa banyak tanaman adenium disiram tergantung pada masa tumbuh dari adenium tersebut. Jangan biarkan media sampai kering saat adenium sedang tumbuh (terlihat ada bakal daun yang siap tumbuh membesar) karena akan menghambat pertumbuhannya. Bahkan adenium yang sedang tumbuh dapat disiram setiap hari asalkan media dan drainasenya bagus. Lain halnya saat pertumbuhan berhenti, yaitu saat tidak ada bakal daun baru yang ditandai dengan warna daun yang serupa (misalnya: daun berwarna hijau tua semua, tidak ada pucuk yang berwarna hijau muda). Pada saat ini, media harus dibiarkan mengering sebelum dilakukan penyiraman berikutnya. Pengairan ini hanya berfungsi agar bonggol adenium tidak berkerut.

Ada berbagai aspek yang mempengaruhi cepatnya media mengering, seperti kebutuhan tanaman akan air, besarnya wadah dan jenis media yang digunakan. Tanaman yang masih muda membutuhkan lebih banyak air daripada yang sudah berumur.

Saat memindah tanaman ke media baru adalah saat yang kritis, karena seringkali ada cacat pada akar yang tidak kita ketahui. Cacat tersebut dapat mengakibatkan busuknya tanaman pada saat terkena air yang cukup banyak. Ketika terjadi pembusukan yang ditandai dengan daun yang menguning secara tidak normal, maka harus segera dilakukan penyelamatan pada tanaman tersebut. Caranya dapat dilihat di penyelamatan bonggol yang membusuk.

Cara melakukan penyiraman adalah dengan menyemprot ataupun mengucurkannya langsung ke media. Jika dipilih cara semprot, maka harus hati-hati karena air seringkali tidak cukup membasahi media. Lakukan penyiraman sampai ada air yang mengalir keluar dari dasar pot.

d. Lingkungan

Suhu

Adenium menyukai suhu panas sedang seperti di daerah tropis(30 -35 C). Namun, semakin panas akan mengakibatkan bunga berumur pendek atau cepat layu. Suhu yang dingin pada malam hari (di bawah 10 C) akan meyebabkan adenium berhenti tumbuh.

Kelembaban

Kelembaban yang tinggi sangat disukai adenium. Saat musim hujan adalah saat di mana kelembaban tinggi, tapi adenium harus terlindungi dari curahan hujan agar sesuai dengan kebutuhan airnya. Untuk itu, rumah kaca akan sangat membantu. Namun jika budget terbatas, dapat pula digunakan plastik transparan untuk menutupi curahan hujan tanpa menghalangi sinar matahari yang masuk. Warna bunga akan kurang keluar jika keadaan lingkungan terlalu kering.

Sinar matahari

Sinar matahari penuh akan disukai oleh adenium terutama saat kelembaban tinggi. Namun hati-hati dengan bonggol yang terekspos terik matahari karena dapat terbakar. Seringkali para pembiak menggunakan koran bekas untuk membungkus bonggol yang berada di permukaan agar tidak tersengat terik matahari. Agar dapat berbunga dengan baik, kebanyakan adenium butuh paling tidak 4-5 jam cahaya matahari langsung.

Hujan

Sedikit terkena hujan akan baik bagi adenium. Saat hujan terlalu banyak menerpa, maka hujan harus dihalangi misalnya dengan atap plastik transparan. Hujan yang terlalu banyak, apalagi dikombinasi dengan suhu yang dingin dapat menyebabkan bonggol membusuk.

e. Pemupukan

Kuncinya adalah sedikit dan sering. Jika adenium mendapat kondisi yang ideal, maka dia dapat tumbuh dengan sangat cepat. Namun jika terlalu banyak pupuk, maka adenium akan mati. Untuk yang tidak suka repot, cukup tambahkan pupuk untuk kaktus ataupun pupuk kandang yang merupakan slow release fertilizer, sehingga tak akan membunuh adenium. Pupuk kimia biasa seperti urea, KCL, TSP dapat pula digunakan karena harganya yang lebih murah, namun dosisnya harus sangat diperhatikan karena sangat mudah untuk menjadi kebanyakan. Biasanya pupuk kimia ini dilarutkan dalam air siraman agar penyerapan jadi merata dan optimal.

Jenis pupuk disesuaikan dengan kebutuhan. Kombinasi yang pas membutuhkan coba-coba disesuaikan dengan keadaan media, tingkat pertumbuhan, dan stressing (untuk pertumbuhan atau untuk pembungaan).

f. Pemangkasan

Adenium yang batangnya sudah terlalu panjang haruslah dipangkas. Tak perlu takut tanaman akan mati jika tanpa daun, karena adenium sudah punya cadangan makanan di bonggolnya untuk dapat bertahan hidup. Pemangkasan ini berguna untuk menyegarkan kembali agar tampak lebih indah. Agar adenium bercabang lebih dari satu, maka pemangkasan dilakukan saat adenium sedang tumbuh (bukan masa dorman). Jika waktunya salah, maka adenium tidak akan bercabang banyak, melainkan hanya tumbuh satu tunas saja. Setelah beberapa minggu tunas baru akan muncul, jadi haruslah sabar dan jangan terlalu banyak menyirami.

Pemangkasan ini juga berfungsi memacu pembungaan yang banyak. Biasanya, bunga yang banyak akan tumbuh setelah 3 bulan sebelumnya dipangkas dan diberi stressing pada pembungaan.

bijiadenium
pic from flickr

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Euphorbia, Nan Cantik

Diposting oleh emirgarden | Sabtu, Januari 24, 2009 | , | 0 komentar »


Beberapa tahun yang lalu euphorbia pernah booming di negeri kita. Harga dipasaran termurah saja minimal Rp. 30 ribu/ pot. Namun seiring dengan semakin banyaknya penangkar, maka jatuh pula harganya. Namun jangan lantas ditinggalkan. Jika anda termasuk pecinta setia euphorbia, dengan sentuhan sedikit sudah akan merubah nuansa dan keindahan euphorbia kita.

Coba Anda ganti pot hitam yang menjadi media dengan pot yang lebih bagus. Bila kantong kita hanya pas-pasan dan eman-eman untuk membeli pot keramik, tidak ada salahnya bila tanaman berduri tersebut kita belikan dengan pot plastik yang berwarna. Misal kita ambil tanaman yang mempunyai tinggi sekitar 15 cm.Tentunya tanaman yang sudah berbunga. Lantas kita gunakan pot yang sewarna dengan warna bunganya. Pasti terlihat cantik dan anggun. Kita bisa tempatkan dimeja teras atau meja tamu. Pasti nuansa baru akan muncul, cantik, elegan dan eksklusif.

Tanaman Pembunuh

Ada yang sering terlewatkan bila melihat keindahan tanaman gurun berduri ini. Sekarang coba kita amati pada tangkai bunganya. Kita raba persis pada tangkai dibawah bunganya. Maka akan terasa lengket seperti ada pulut yang menyelimuti tangkai bunga bak pulut yang ditempel pak tani pada orang-orangan perangkap kancil dongeng saat kita kecil dulu. Tangkai bunga tersebut terlihat basah seakan mengeluarkan cairan madu dengan aroma yang khas. Warna cairan dan aroma tersebut ternyata mengundang serangga kecil mendekat untuk menghisap madu dan rasa manisnya. Nah… saat serangga tersebut hinggap, maka tamatlah riwayatnya. Karena dia akan terjebak lengket pada tangkai bunga dan tentu akan mati secara perlahan. Bangkai serangga yang menempel tersebut menjadi nutrisi dan sari makanan pada tanaman euphorbia selain makanan yang diambil dari akarnya.

Bunga Keberuntungan

Euphorbia memang sangat cantik dan eksotis. Bunganya muncul sangat semarak bila terkena sinar matahari penuh. Dengan bentuk bunga seperti angka delapan, maka tak heran banyak yang menganggap dengan menanam bunga berduri ini sebagai bunga yang dapat mendatangkan keberuntungan. Coba lihat lebih detil. Duri yang melindungi batangnya juga terlihat kokoh. Duri-duri ini juga dianggap sebagai penolak bala. Tentunya bagi yang mempercayainya. Sedang yang tidak percaya, anggaplah sebagai penghias rumah yang terlihat cantik menawan.

Trik Menanam Euphorbia

Tananam cantik ini mempunyai spesies lebih dari 2000. Sebagian memang berasal dari dataran Afrika dan Madagaskar. Daerah yang terkena sinar matahari penuh. Maka bunga ini mudah beradaptasi di Indonesia.

Kami berikan cara cepat menanam dan memperbanyak euphorbia. Walau banyak cara misalnya dengan cara tanam biji, sambung, stek maupun cara lain. Dibawah ini cara stek yang kami pilih. Selain praktis juga kita dapat mengetahui secara pasti jenis maupun warna bunganya. sesuai yang kita kehendaki.

1. Potong cabang yang sehat kira-kira setinggi 10 – 15 cm
2. Siapkan pot yang sepadan dengan bakal tanaman. Usahakan lobang pot dibawah lancar agar air tidak berlebihan yang dapat menakibatkan pembusaukan.
3. Siapkan media tanam berupa tanah, pasir dan sekam. Taburkan dan campur dengan butiran pupuk lambat secukupnya (jangan berlebihan).
4. Tanam batang euphorbia dengan posisi tegak
5. Siram sampai media terlihat padat.
6. Letakkan ditempat yang agak teduh sampai sekitar satu minggu.
7. Usahakan media tidak terlalu basah.

Perawatan

Agar euphorbia tumbuh bagus, sehat dengan bunga yang semarak, tentu memerlukan perlakuan tersendiri. Walau pada dasarnya tanaman gurun ini cukup bandel dan mudah perawatannya.

• Untuk fase awal adalah fase penyuburan. Fase ini bisanya dilalui sekitar satu sampai dua bulan. Pada fase ini, adalah setelah tanaman melewati waktu dua bulan, tanaman akan mulai mengeluarkan beberapa cabang. Daun terlihat sangat subur, lebar dan rindang.

• Fase berikutnya adalah fase penbungaan. Pada saat tersebut, tanaman harus terkena matahari secara langsung dan penuh sepanjang hari. Siram setiap hari dengan cara menggunakan gembor. Usahakan air yang menyiram tidak terlalu deras dan keras yang menagakibtkan daun tertancap duri atau sobek.Setelah satu minggu akan muncul bunga-bunga kecil diantara sela-sela tajuknya. Bunga tersebut akan terlihat dewasa setelah satu bulan yang ditandai bunga serempak yang cerah dan indah menyesaki seluruh daun-daunnya.

Untuk merawat agar euphorbia tetap berbunga lebat sepanjang masa, tentu anda juga harus merawatnya. Usahakan agar unsure hara tetap dalam jumlah yang memadai. Berikan pupuk majmuk dengan kadar NPK dimana N rendah dan PK Tinggi. Anda bisa menggunakan pupuk padat maupun cair yang saat ini tersedia hamper diseluruh penjual tanaman hiasa maupun took-toko pertanian di daerah anda.

tumbuh
Pic from flickr

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Anggrek, Tips Memilih Sebelum Membeli

Diposting oleh emirgarden | Senin, Desember 22, 2008 | , | 1 komentar »


Anda berencana untuk menambah koleksi anggrek anda ?. Sebelum memutuskan untuk membeli, beberapa tips berikut mungkin bisa membantu.

• Pilihlah anggrek yang Sehat dengan daun hijau sedang, mengkilat dan polos tanpa bercak. Hindari tanaman yang terdapat bercak kuning atau cokelat pada daun dan batang, karena kemungkinan terserang penyakit.

• Memiliki batang atau umbi semu (pseudobulb) yang gemuk, kuat dan polos tanpa bercak. Hindari batang/pseudobulb yang berkerut (kemungkinan karena kekurangan air).

• Memiliki anakan baru yang lebih banyak (untuk anggrek sympodial), sehingga jika yang dewasa mati, ada gantinya. Selain itu, peluang untuk berbunga juga lebih besar.

• Memiliki bekas tangkai bunga lebih banyak, yang berarti anggrek tersebut tergolong rajin berbunga.

• Bertangkai bunga utuh. Tangkai terpotong adalah salah satu sifat menurun sehingga pada pembungaan berikutnya kemungkinan juga akan terpotong.

• Kuntum bunga dalam keadaan setengah mekar dan utuh (tepi bunga tidak mengkerut), agar lebih lama menikmati keindahan bunganya setelah dibeli.

• Batangnya kokoh tertanam pada pot. Jika mudah goyang ada kemungkinan anggrek tersebut baru di tanam ulang atau sistim akarnya tidak baik.

• Periksa medianya, apakah terdapat hama (serangga kecil) yang merayap. Hindari tanaman yang ber hama.

• Lihat tangkai bunganya, apakah memang berasal dari tanaman atau hanya bunga potong yang ditancapkan pada pot. Ada penjual anggrek nakal, yang menancapkan bunga potong pada tanaman yang sebenarnya belum berbunga dengan maksud agar nilai jual anggrek tersebut bisa lebih tinggi.

Semoga membantu.

anggrek.info
Pic From pachd



Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Sirih Merah, Teknik Perbanyakan

Diposting oleh emirgarden | Minggu, November 23, 2008 | , | 0 komentar »


Tanaman sirih merah (Piper crocatum) lebih umum dikembangbiakkan secara vegetatif atau aseksual. Secara alami tanaman sirih merah sulit diperbanyak dengan biji. Perbanyakan dengan cara tersebut mempunyai keuntungan yang terpenting adalah mewarisi sifat genetik dari tanaman induknya.

Perbanyakan tanaman sirih merah secara vegetatif dapat dilakukan dengan beberapa cara yakni stek, cangkok dan perundukan.

1. Stek
Stek merupakan potongan organ vegetatif (akar, batang, daun, dll) tanaman yang digunakan untuk perbanyakan tanaman, dengan maksud agar bagian tersebut membentuk
akar. Stek yang dapat digunakan untuk tanaman sirih merah ini adalah dengan cara stek batang.

Alasan mengapa perbanyakan melalui stek batang adalah karena stek merupakan cara yang sederhana, murah dan cepat. Jumlah bibit yang dihasilkan dari satu tanaman induk lebih banyak. Seluruh bibit yang dihasilkan memiliki sifat genetis yang sama dengan tanaman indukknya.

Tahap-tahap pembibitan tanaman sirih merah dengan cara stek dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Pilih tanaman induk yang sehat dan memiliki batang kokoh sebesar tusuk sate bambu atau lebih baik bisa lebih besar. Lebar daun sedang atau bisa lebih dan tebal. Berdasarkan pengalaman penulis, bahan stek dengan batang dan ukuran daun kecil, maka akan menghasilkan bibit yang berukuran kecil pula dan cenderung tanaman kurang mampu berkembang dengan baik.

b. Potong batang tersebut menjadi satu atau dua ruas dengan syarat masing-masing ruas masih memiliki daun. Jika bahan stek yang digunakan 2 ruas, minimal salah satu ruasnya memiliki daun tetapi lebih baik kedua ruas berdaun. Bahan stek dengan ruas tanpa daun, prosentase tumbuh sangat kecil, atau bahkan tidak dapat tumbuh sama sekali. Karena proses fotosintesis yang terjadi tidak sempurna, sehingga menghambat pertumbuhan dan perkembangan bibit stek.

c. Rendam bahan stek tersebut ke dalam air bersih selama 15 – 30 menit. Untuk hasil yang lebih baik dan mengurangi resiko kegagalan pertumbuhan bibit stek, air rendaman dapat ditambah vitamin B1 yang khusus untuk tanaman atau yang biasa dijual di apotik dalam bentuk tablet. 1 ml vitamin B1 dilarutkan dalam 1 liter air bersih. Atau 1 tablet /1 liter air. Rendam bahan stek tersebut selama 30 menit atau lebih. Vitamin B1 mengandung tiamin yang berfungsi untuk mempercepat pembelahan sel pada meristem akar.
Berdasarkan uji coba dan pengalaman penulis, bahan stek yang direndam dalam larutan vitamin B1 selama ± 24 jam dengan 1 ruas diperoleh tingkat keberhasilan 90%. Selain itu pertumbuhan tunas dan akar lebih cepat bila dibandingkan dengan yang tidak direndam dengan vitamin B1.
Bahan stek dapat juga direndam dalam larutan zat pengatur tumbuh (ZPT) terlebih dahulu seperti Rootone F atau Atonik. Cara menggunakan Rootone F adalah olesi pangkal stek dengan ZPT tersebut yang telah dibuat pasta agak encer, karena Rootone F berbentuk serbuk. Kemudian diangin-anginkan sebentar. Bila menggunakan ZPT Atonik, caranya adalah larutkan Atonik sebanyak 1 ml dalam 1 liter air bersih, kemudian rendam bahan stek tersebut selama 15 menit. Setelah itu angkat dan diangin-anginkan sebentar, baru ditanam. Tujuan perlakuan ZPT adalah untuk merangsang pembentukan akar sehingga mempercepat pertumbuhan tunas stek.

d. Siapkan tempat penyemaian berupa pot bibit berdiameter 10 cm atau polybag yang sudah dilubangi bagian bawah dan samping. Kemudian diisi campuran media semai berupa hasil ayakan pakis (berupa serbuk menyerupai tanah), pasir,arang sekam,pupuk organik dengan perbandingan 4:2:2:1. Selain media diatas dapat juga menggunakan campuran humus daun bambu, arang sekam, pasir, pupuk organik dengan perbandingan 4:4:2:1. Atau bisa juga dimodifikasi sendiri oleh pembibit. Untuk mencegah adanya hama dalam media semai tersebut, sebaiknya ditabur Furadan 3G sebanyak satu ujung sendok teh per polybag. Kemudian media disiram dengan air bersih hingga cukup basah.
Pada dasarnya, media semai yang digunakan untuk stek sirih merah ini harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Cukup kompak (firm and dense)
2. Mempunyai kapasitas pegang air (Watter holding capacity) yang baik/tinggi.
3. Mempunyai aerasi yang baik.
4. Bebas dari benih gulma, nematoda, jamur, bakteri patogenik dan musuh alami lainnya.
5. Menyediakan unsur hara esensial bagi tanaman.

e. Tanam bahan stek tadi pada media semai dengan tepat dan benar. Perhatikan letak mata tunas pada ketiak daun menghadap keatas dan jangan sampai terbalik. Usahakan buku (letak daun, mata tunas dan akar serabut) tertutup media sedalam 0,5 cm – 1 cm dari permukaan media. Hal ini disebabkan jika terlalu dalam, maka mata tunas dan akar cepat membusuk. Setelah ditanam, siram kembali dengan air bersih agar stek tidak layu. Letakkan bibit stek tersebut di tempat yang teduh dan sejuk, jangan terkena sinar matahari langsung.

f. Pemeliharaan bibit stek. Penyiraman dapat dilakukan 2 kali sehari pada musim kemarau. Pada musim hujan cukup 1 kali sehari atau sesuai kondisi, jika media terlalu basah tidak perlu disiram. Untuk memperkuat pertumbuhan bibit, dapat disiram dengan larutan vitamin B1 seminggu sekali. Kurang lebih pada umur 2 minggu, tunas akan muncul kepermukaan media. Pada umur 4 minggu memiliki daun 2 sampai 3 lembar berasal dari tunas baru (daun asal bahan stek tidak dihitung), dan akar tanaman dari pangkal batang sudah panjang memenuhi bagian dasar polybag / pot. Bibit siap untuk dipindah tanam ke pot yang berukuran lebih besar atau langsung ke tanah.

2. Cangkok ( Marcottage atau air layerage)
Perbanyakan sirih merah dapat juga dilakukan dengan cara mencangkok. Cangkok pada prinsipnya adalah mengusahakan perakaran dari suatu cabang tanaman tanpa memotong cabang tersebut dari tanaman induknya. Perbanyakan dengan cara ini memiliki kelebihan diantaranya, tanaman memiliki sifat-sifat unggul tanaman induknya dan tanaman lebih cepat berproduksi.
Teknik pencangkokan tanaman sirih merah ini berbeda dengan tanaman lain pada umumnya, yaitu hanya menempelkan media tanam pada bagian buku tanaman dan dibungkus dengan plastik atau sabut kelapa.

Tahap-tahap pencangkokan sirih merah dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Bagian buku tanaman yang akan dicangkok, sebaiknya terlebih dahulu disemprot dengan larutan zat pengatur tumbuh (ZPT) perangsang akar dengan konsentrasi 1 ml/liter air (sesuai anjuran) atau larutan vitamin B1. Penggunaan ZPT atau vitamin B1 ini berfungsi untuk mempercepat pertumbuhan dan pembentukan akar sehingga akan mempercepat pula terhadap pembentukan tunas pada ketiak daun. Bila tidak menggunakan cara tersebut juga tidak apa.

b. Siapkan media tanam. Media yang digunakan hampir sama dengan pembibitan stek, yaitu hasil ayakan akar pakis (berbentuk serbuk seperti tanah, arang sekam dan pupuk kandang kambing halus dengan perbandingan 4:2:1. atau dapat juga menggunakan campuran media tanah dan pupuk kandang saja dengan perbandingan 2:1. Campuran media tersebut kemudian ditempelkan pada buku dan bungkus dengan plastik yang sudah dilubangi.

c. Selanjutnya siram cangkokan tersebut dengan menggunakan air bersih hingga seluruh media basah.

d. Setelah satu bulan, akar sudah tumbuh memenuhi media. Potonglah batang yang berada di bawah cangkokan. Buka bungkus cangkokan tersebut dan tanam dalam pot atau langsung di tanah. Bibit dengan cara cangkok, memiliki persentase tumbuh 90% sampai 100%.

3. Merunduk (Layering)
Perbanyakan sirih merah ini dapat pula menggunakan sistem runduk. Prinsip dari perundukan adalah merangsang (menstimulasi) terbentuknya akar atau tunas sebelum dipisahkan dari induknya.

Tahap-tahap merunduk dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Sediakan beberapa polybag atau pot dengan diameter 12 cm yang sudah diberi media tanam dan dijajar di sebelah tanaman induk. Media tanam yang digunakan sama dengan cara stek atau cangkok. Dapat juga hanya menggunakan campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 3 : 1. Sebagai bahan tanaman induk adalah tanaman sirih merah yang mempunyai sulur dengan panjang 2 meter atau lebih.

b. Rentangkan sulur tanaman sirih merah, kemudian tanam ruas-ruas batang yang berakar dengan dirundukkan pada polybag-polybag yang telah dipersiapkan.

c. Kemudian siramlah tanaman tersebut sehari sekali atau melihat kondisi. Apabila media masih basah tidak perlu disiram. Secara umum, pada musim kemarau kondisi media cenderung lebih cepat mengering, sehingga perlu penyiraman lebih intensif. Begitu juga sebaliknya, pada saat musim hujan media cenderung lebih lembab, dan penyiraman dilakukan bila perlu.

d. Setelah kurang lebih 1 bulan, pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman sudah mulai banyak dan kuat. Selanjutnya masing-masing bibit dapat dipisahkan per polybag. Tanam bibit-bibit tersebut pada media yang lebih besar atau dapat langsung ditanam di pekarangan rumah yang telah disediakan.

Source : www.rawabelong.com

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Lingkungan Pas, Sang Ratu Tersenyum Puas

Diposting oleh emirgarden | Rabu, November 12, 2008 | , | 0 komentar »


Memelihara aglaonema memang tidak terlalu sulit. Tetapi untuk menghasilkan Aglaonema yang prima, aglaovers sudah selayaknya memperhatikan banyak hal terutama berkaitan dengan lingkungan dimana Aglaonema di pelihara. Walaupun aglaonema yang kini banyak dipelihara mayoritas adalah aglaonema hibrida, tetap saja ia akan tumbuh lebih bagus apabila lingkungan tumbuhnya dibuat semirip mungkin dengan habitat di alam aslinya.

Beberapa faktor berkaitan dengan lingkungan tumbuh aglaonema yang perlu diperhatikan
adalah sebagai berikut :

1. Ketinggian Tempat

Pada umumnya ada tiga kategori ketinggian tempat. Yaitu Dataran rendah antara 0 - < 300 M DPL (diatas permukaan laut), Dataran Sedang ( 300 - < 600 M DPL dan Dataran Tinggi > 600 M DPL. Aglaonema cocok tumbuh di dataran rendah dan sedang. Aglaonema akan tumbuh lebih ideal apabila dipelihara di daerah dataran sedang antara 300 – 400 M DPL. Di ketinggian tersebut sosok aglaonema akan menjadi tegap, berdaun tebal, warna dan corak menjadi lebih terang dan tajam.

Namun demikian, kondisi ideal itu masih bisa direkayasa sehingga aglaonema dapat juga tumbuh baik di daerah dataran rendah. Pemberian jaring peneduh, modifikasi lingkungan dan teknik penyilangan bisa membuat aglaonema adaptif dengan tampilan warna lebih bagus daripada aslinya.

Ketinggian tempat berpengaruh pada kecepatan pembentukan daun. Di dataran rendah, pertumbuhan daun aglaonemalebih cepat, lantaran sinar matahari lebih banyak tersedia, sehingga proses fotosintesa bisa dilakukan lebih lama. Disini pertumbuhan satu lembar daun kira-kira memakan waktu 25-30 hari. Di dataran sedang dan tinggi, perumbuhan daun aglaonema bisa 5-10 hari lebih lambat.

2. Suhu

Sebenarnya aglaonema mudah beradaptasi terhadap perubahan suhu. Namun temperatur optimal tetap diperlukan untuk menunjang pertumbuhannya. Di dataran sedang, suhu siang antara 24-27 C dan malam hari mencapai 18–21 C. Sedangkan di dataran rendah, suhu siang mencapai 27-30 C dan dimalam hari mencapai 21-24 C merupakan kondisi yang disukai.

Suhu dibawah 20 C akan merangsang butir-butir klorofil muncul lebih banyak, sehingga daun menjadi lebih hijau. Bila hal itu terjadi, maka warna merah akan tertutup oleh warna hijau daun. Sebaliknya kalau suhu terlalu tinggi, akan membuat warna daun menjadi pucat dan pudar.

Penyerapan beberapa unsur hara oleh akar juga dipengaruhi oleh suhu. Ambil contoh, penyerapan Fosfor. Jika suhu terlalu rendah, maka kemungkinan besar muncul gejala kekurangan unsur fosfor akibat terhambatnya penyerapan oleh akar.

Suhu sangat mempengaruhi proses kimiawi dalam tubuh aglaonema. Proses ini melibatkan peran enzim dan membran sel yang bekerja optimal pada suhu ideal. Diatas atau dibawah suhu ideal, dalam perbedaan ekstrim, proses kimiawi akan berlangsung lambat atau bahkan terhenti sama sekali. Pada kasus itu, tanaman menjadi stress dan pertumbuhannya terhambat.

3. Kelembaban

Kelembaban ideal bagi aglaonema adalah 50 – 75 %. Jika kelembaban kurang dari 50 %, kondisi terlalu kering sehingga daun aglaonema akan mengering. Di area berkelembaban rendah daun muda menjadi kering. Sebaliknya bila kelembaban lebih tinggi dari 75 % akan mendatangkan serangan cendawan. Untuk mengetahui kelembaban di kebun, sebaiknya dipasang alat pengukur kelembaban atau biasa disebut Higrometer.

Kehadiran higrometer terasa sangat penting, apalagi di daerah dengan curah hujan yang sangat tinggi. Hujan dengan disertai angin yang kencang akan membuat kelembaban lingkungan akan meningkat. Bila kelembaban menjadi terlalu tinggi, maka penguapan pada tanaman akan berkurang drastis. Akibatnya daya hisap aglaonema terhadap air dan unsur hara dari media tanam menjadi berkurang.

Kelembaban udara yang terlalu rendah, berakibat layunya aglaonema. Lama kelamaan kecantikan sang ratu daun bisa berkurang, atau bahkan menjadi mati apabila titik layu permanen terlewati. Itulah mengapa fungsi higrometer sangat penting sekali. Jika higrometer menunjukkan angka kelembaban yang sangat rendah, segera siram lantai lingkungan aglaonema dengan air, atau spray tanaman dengan kabut air unuk meningkatkan kelembaban.

4. Cahaya

Aglaonema di alam, ditemukan dibawah pohon di hutan-hutan dataran rendah dengan pencahayaan terbatas. Ia membutuhkan penyinaran sekitar 1.000-2.500 FC (Footcandle – Cahaya Lilin) tanpa langsung terkena sinar matahari. Jika sinar matahari terlalu banyak mengenai aglaonema, maka daun akan berubah menjadi cokelat kehitaman. Di Nursery-nursery, kebutuhan cahaya diatur melalui pemakaian Shading Net.

Kebutuhan cahaya aglaonema di dataran rendah dan dataran tinggi tentu berbeda. Untuk mengaturnya, gunakan penaung yang sesuai. Di dataran sedang, gunakan penaung 75 %, sedangkan di dataran rendah, gunakan penaung 80 - 85 %. Memang dipasaran bebas jarang tersedia penaung 85 %. Untuk menyiasatinya, gunakan dua lapis penaung.

Pemasangan penaung pun perlu diperhatikan. Semakin tinggi jarak penaung dengan aglaonema, maka sinar matahari yang masuk menjadi lebih banyak. Jadi gunakan penaung yang tebal agar sinar matahari tidak masuk secara berlebihan. Maklum, jika sinar matahari masuk secara berlebihan, akan membuat daun aglaonema menjadi terbakar, daun menguning, kemudian berubah menjadi cokelat kehitaman.

5. Sirkulasi Udara

Sirkulasi udara yang baik akan membuat lingkungan lebih seggar. Bila kelembaban baik, CO2 cukup tersedia disekitar tanaman. Hal-hal tersebut membuat tanaman lebih aktif menyerap unsur hara. Lancarnya peredaran zat hara berpengaruh dalam fotosintesa. Bila makanan tersedia di daun, maka proses perubahan zat hara menjadi energi bagi sri rejeki itu pun lancar. Bila perputaran udara tidak bagus, akibatnya kelembaban kan rendah atau tinggi. Bila terlalu rendah akan menyebabkan daun menjadi cokelat dan busuk.

Sirkulasi tidak baik jika udara hanya keluar masuk dari bagian atas rumah atau kebun aglaonema. Makanya perlu sirkulasi udara tambahan. Pasang kipas angin atau blower untuk menciptakan sirkulasi udara buatan. Letakkan kipas atau blower di tempat yang tepat dimana memungkinkan aliran udara menjadi lancar dan menjangkau seluruh tanaman. Jangan meletakkan kipas atau blower saling berhadapan, karena hal ini akan membuat aliran udara terpusat ditengah area.

Atur kecepatan angin tidak terlalu kencang, tetapi juga jangan terlalu rendah. Kipas angin diaktifkan selama 2 jam setelah penyiraman di pagi hari hingga pukul 10:00. Setelah menyiram sore hari, kipas angin juga bisa diaktifkan kembali hingga pukul 20:00 dengan kecepatan rendah, meningkat, lalu rendah lagi, kemudian dimatikan.

6. Atap dan Jaring Peneduh

Untuk melindungi aglaonema dari hal-hal yang tidak diinginkan, maka sebaiknya tempat pemeliharaan aglaonema diberikan atap dan jaring pelindung.

Atap pelindung akan melindungi aglaonema dari curahan air hujan secara langsung. Sedangkan Jaring peneduh berfungsi mengurangi intensitas cahaya matahari yang masuk mengenai tanaman.

Untuk atap pelindung, bisa digunakan beberapa pelindung seperti kaca, fiberglass, plastik, dll. Tanpa mempertimbangkan biaya, fiberglass seperti Solartuff paling bagus dipakai. Hanya saja konstruksi yang dipakai sebaiknya dari besi. Bahan ini mampu bertahan hingga 10 tahun. Lumut tidak akan tumbuh pada media ini. Sedangkan apabila biaya merupakan salah satu pertimbangan utama, makapilihan bisa dijatuhkan kepada Plastik UV. Plastik UV cukup kuat (bisa bertahan 2 tahun), ringan bagi konstruksi penyangganya, serta harganya relatif murah.

Sedangkan untuk Jaring peneduh, umumnya digunakan shading Net / Paranet. Pekebun dan hobiis aglaonema umumnya memasang Jaring peneduh diatas atap yang terbuat ddari plastik UV, sehingga sinar matahari yang menerpa atap bisa diredam semaksimal mungkin.

Untuk daerah dengan intensitas cahaya matahari lebih tinggi serta berada di daerah dataran rendah, seperti di Jakarta, bisa digunakan dua lapis jaring peneduh. Yaitu satu dipasang diatas plastik UV dan satu lagi dipasang dibawah palstik UV. Persentase jaring peneduh yang digunakan, disesuaikan dengan kebutuhan aglaovers dengan mempertimbangkan daerah dimana aglaonema dipelihara.

Demikianlah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan aglaonema, kaitannya dengan lingkungan dimana aglaonema dipelihara. Lingkungan yang terkondisi dan terjaga dengan pas, akan membuat sang ratu daun tersenyum puas. Semoga membantu.


Disadur dari : Trubus Infokit - Aglaonema
Foto : Koleksi Bp. Gede Sudarma

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Ketika Aglo Ditinggal Mudik

Diposting oleh emirgarden | Jumat, September 19, 2008 | , | 4 komentar »


Musim mudik telah tiba !. Bagi anda aglaovers yang telah mengagendakan mengunjungi sanak saudara dan kampung halaman pada lebaran kali ini sehingga harus meninggalkan koleksi aglo tanpa ada yang merawat, sedangkan anda sendiri masih belum tahu harus bagaimana ?. Mungkin tips sederhana berikut ini akan sangat membantu. Ya, dengan menyungkup aglo. Cara yang sama persis ketika kita memisahkan anakan aglo dari induknya.

Prinsip dasar penyungkupan aglo adalah memasukkan aglo kedalam “gelembung” plastik transparan yang tertutup rapat, sehingga penguapan bisa dicegah atau setidaknya dikurangi. Dengan berkurangnya penguapan, maka aglo bisa bertahan lebih lama, walaupuntanpa penyiraman rutin. Langkah-langkap penyungkupan aglo ketika ditinggal mudik yang saya lakukan adalah sebagai berikut :

1. Pastikan bahwa aglo dalam keadaan baik dan sehat. Aglo yang kurang sehat dan terserang penyakit, jamur atau serangga (kalau masih sempat) sebaiknya “disehatkan” terlebih dahulu. Aglo yang tidak sehat meningkatkan resiko kegagalan proses penyungkupan.

2. Pastikan bahwa aglo tidak sedang kekurangan pasokan unsur hara. Berikan pupuk lambat urai secukupnya, untuk lebih menjamin pasokan makanan selama ditinggal mudik.

3. Sebelum dimasukkan kedalam “gelembung” plastik, aglo dispray dengan air untuk lebih menyegarkan daunnya sekaligus untuk membersihkan kotoran yang mungkin menempel.

4. Selanjutnya media tanam disiram dengan rata dan jenuh, tandanya air telah keluar dari dasar pot. Setelah disiram, aglo jangan langsung dimasukkan kedalam sungkup. Tetapi tunggu sampai daun aglo kering benar dan media tanam sudah tidak becek (cukup lembab saja). Umumnya setelah 24 jam (atau tergantung daerah tempat anda tinggal) dari saat penyiraman terakhir, kondisi media tanam sudah tidak becek dan aglo siap untuk disungkup.

5. Untuk lebih menjamin agar aglo kesayangan kita tidak terserang jamur, kita bisa mencampurkan fungisida kedalam air spray maupun penyiraman media tanam. Dosis yang biasa saya pakai setengah dari dosis biasa. Pastikan pula bahwa ketika menyiram media tanam, air siraman cukup melarutkan pupuk lambat urai yang kita taburkan.

6. Selanjutnya masukkan aglo kedalam “gelembung” plastik transparan. Ukuran plastik yang saya gunakan adalah lebar 60 Cm. Ditoko plastik, plastik ukuran ini bisa dibeli dengan harga Rp. 13.000/bungkus (isi 8 lembar). Ukuran ini umumnya cukup untuk “menampung” aglo remaja sampai indukan. Untuk aglo dengan ukuran lebih kecil, bisa digunakan plastik ukuran 40 atau 50 cm. Caranya, masukkan aglo kedalam plastik, lalu buat atau usahakan semaksimal mungkin agar plastik menggelembung sebelum diikat ujungnya. Untuk membantu menggelembungkan plastik dengan maksimal, kita bisa menggunakan pompa untuk ban atau pompa balon. Setelah plastik menggelembung kuat, ikat ujung plastik dengan karet yang kencang, sehingga udara tidak bisa keluar. Dengan gelembung plastik yang besar, maka daun-daun aglo akan lebih terlindung dari kemungkinan terkena gesekan/tekanan dinding plastik.

Pengalaman saya, dalam waktu 2-3 hari, gelembung plastik sudah mulai berkurang tekanan udaranya. Dan menjadi sedikit “lemas”. Apabila kita berencana meninggalkan aglo dalam waktu yang lebih lama, maka ukuran plastik dan volume udara didalamnya harus diperhatikan.

7. Langkah terakhir adalah letakkan aglo yang telah disungkup kedalam tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung, untuk menjamin efektifitas penyungkupan. Bisa di teras rumah yang teduh, atau kalau perlu masukkan kedalam rumah.

8. Pengalaman saya selama ini, apabila penyungkupan dilakukan secara benar, aglo bisa bertahan dengan sehat sampai lebih dari dua mingguu. Seorang teman saya pernah mencoba bahkan lebih dari tiga minggu. Kuncinya adalah pada “gelembung” plastik yang digunakan. Untuk mengurangi resiko daun rusak karena terkena gesekan/tekanan dinding plastik yang kempes, maka ujung plastik bisa diikat dengan menggunakan benang kasur, dan diikatkan ke paku atau pengait yang terletak lebih tinggi, sehingga ketika tekanan udara dalam “gelembung” berkurang dan plastik menjadi lemas, maka dinding plastik tidak “menimpa” daun aglo dengan lebih keras.

Selain penyungkupan, satu hal lain yang juga sangat penting dilakukan adalah meletakkan aglo ditempat yang cukup aman. Mengingat masa-masa mudik lebaran sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk berbuat negatif. Ingat ! bagaimanapun juga harus selalu waspada, atau maling akan memindahkan status kepemilikan aglo anda. Semoga membantu

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Sekedar Tips Memilih & Membeli Aglo Anakan

Diposting oleh emirgarden | Selasa, Agustus 19, 2008 | , | 1 komentar »

Membeli aglo anakan adalah cara yang paling banyak dilakukan oleh para hobiis untuk menambah koleksinya. Cara ini dianggap paling ekonomis, sebab aglo anakan mempunyai label harga yang lebih murah dibanding dengan aglo remaja atau dewasa. Dengan membeli aglo anakan, hobiis bisa memilih “bibit” yang bagus, serta “memolesnya” sampai menjadi dewasa. Memelihara aglo anakan hingga dewasa serta melihat hasil akhirnya adalah sebuah kenikmatan tersendiri bagi kebanyaakan hobiis.

Untuk mendapatkan hasil memuaskan serta menghindari kekecewaan dikemudian hari, sebaiknya
membeli aglo anakan tidak dilakukan dengan asal pilih saja. Beberapa pengalaman saya berikut ini mungkin akan membantu bapak/ibu sekalian dalam memilih aglo anakan.

1. Tips Pertama , pilih aglo anakan yang telah mempunyai minimal 3 (tiga) lembar daun. Karena pada umumnya anakan aglo yang memiliki tiga lembar daun, juga telah memiliki perakaran yang cukup untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Perlu diingat bahwa unsur hara, air dan udara mayoritas diserap oleh akar. Jadi apabila akar cukup dan sehat, maka kelangsungan hidup tanaman (aglo) akan lebih terjamin. Saat ini makin banyak penjual aglo yang menawarkan anakan dengan dua atau bahkan hanya satu lembar daun. Walaupun pemisahan dan penanaman anakan aglo relative cukup mudah, tetapi dengan jumlah daun yang lebih sedikit, maka resiko yang dihadapi akan bertambah. Disamping itu, dari banyak pengalaman, pemisahan anakan dengan jumlah daun kurang dari tiga lembar, akan mengakibatkan beberapa hal sebagai berikut :

a. Tumbuhnya daun baru menjadi lebih lama. Apabila aglo dalam kondisi normal atau telah memiliki tiga lembar daun membutuhkan rata-rata satu bulan, maka anakan aglo yang memiliki kurang dari tiga lembar daun membutuhkan waktu 2-3 bulan. Hal ini disebabkan kurangnya serapan nutrisi dari media tanam, akibat system perakaran yang belum cukup dan kuat.
b. Daun baru tumbuh kurang sempurna. Misalnya ukuran daun menjadi kecil, atau bahkan menjadi cacat (keriting).

2. Tips Kedua, sebaiknya jangan pilih anakan aglo yang ketika dipisah dari induknya sedang muncul kuncup daun baru. Karena pemisahan anakan aglo ketika muncul kuncup daun baru, umumnya akan menyebabkan pertumbuhan daun baru tersebut tidak maksimal (umumnya daun menjadi lebih kecil).

3. Tips Ketiga, ketika memilih dan membeli aglo anakan, sebisa mungkin melihat kondisi perakarannya. Hal ini untuk lebih meyakinkan bahwa anakan aglo yang kita beli benar-benar dalam keadaan fit dan sehat, yaitu dengan meminta kepada penjual untuk membongkar aglo dari medianya. Tidak perlu takut untuk meminta, karena hal sudah jamak dilakukan. Cara yang umum dilakukan, ketika sedang tawar menawar kita buat sebuah kesepakatan, apabila harga sudah deal, maka media tanam akan dibongkar untuk lebih meyakinkan. Apabila terbukti perakaran bagus, maka transaksi jalan terus. Tetapi apabila ternyata perakaran kurang bagus atau bahkan ada yang busuk, transaksi bisa saja dibatalkan. Selain melihat kondisi perakaran, dengan cara ini kita juga bisa melihat kondisi media tanam yang digunakan, apabila ternyata kurang sesuai, maka bisa secepatnya diganti.

4. Tips Keempat, sebisa mungkin membeli aglo dari penjual atau nursery yang memliki pengalaman cukup dibidang Aglo. Sukur-sukur membelinya dari Nursery khusus aglo yang sudah terkenal, atau setidaknya anda kenal. Prinsip yang digunakan adalah tidak semua penjual tanaman hias mampu memisahkan anakan aglo dan menanamnya dengan baik. Tidak sedikit yang asal memisahkan dan menjualnya hanya untuk mengejar keuntungan semata.

5. Tips Kelima. Disebut sebagai bonus. Saat ini mulai banyak penjual yang menawarkan anakan aglo yang masih menempel pada induknya. Ketika transaksi terjadi, penjual akan memisahkan anakan dan menyerahkannya kepada pembeli. Apabila kita menemui hal seperti ini, maka banyak keuntungan bisa didapat. Kita bisa melihat sendiri kondisi indukannya, bisa melihat langsung kondisi kesehatan anakan dari ujung daun sampai akar. Sekaligus bisa meyakinkan bahwa anakan aglo yang kita beli memang benar-benar sesuai dengan yang kita inginkan.

Demikianlah sekedar tips dari hasil pengalaman saya berburu anakan aglo. Semoga membantu.

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Aglaonema & Treatmen Vertical Grow

Diposting oleh emirgarden | Jumat, Agustus 01, 2008 | , , | 6 komentar »

Awal tahun 2008 yang lalu, dari sebuah milis ratu daun yang saya ikuti, mampirlah sebuah informasi tentang serangkaian produk treatment tanaman hias dengan label “Vertical Grow”. Mulanya informasi ini saya tanggapi sambil lalu. Dalam hati saya, sekarang ini memang banyak orang latah membuat produk untuk tanaman hias. Apalagi dari beberapa pengalaman mencoba berbagai macam merk tidak menunjukkan hasil yang signifikan (kebetulan saya paling mudah terpengaruh untuk mencoba produk baru). So, biarin sajalah.

Suatu ketika satu minggu saya tidak membuka e-mail, karena sedang ada pekerjaan diluar kota. Ketika kembali ke Jakarta dan membuka e-mail, saya mendapati banyak e-mail dengan subyek bahasan Vertical Grow, dengan segala macam “khasiatnya”. Dari sini pandangan saya tentang Vertical Grow sedikit berubah. Kalau memang banyak member milis yang tertarik, kenapa saya tidak ?. Ya, paling tidak untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas. Sampai suatu saat, ketika itu hari Jum’at, dimana kebiasaan di milis merupakan hari untuk “Jualan Aglo”, saya membaca sebuah penawaran jual Aglo berbagai jenis. Sang penjual waktu itu memberikan sebuah link Blog miliknya, utnuk melihat koleksi aglo yang dijual. Dari Blog inilah saya melihat satu pot Aglo Legacy dengan jumlah daun sedikit, tetapi mempunyai anakan yang sangat rimbun. Dibawah foto aglo itu terdapat sebuah artikel tentang pentingnya pemakaian Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) untuk aglo. Hanya saja di Blog itu tidak disebutkan merk ZPT yang digunakan. Penasaran dengan artikel tersebut, saya kontak pemilik Blog, dan berdialog masalah ZPT yang digunakan. Pemilik Blog menjelaskan bahwa treatmen yang dipakai selama ini menggunakan produk Vertical Grow.

Mendengar penjelasan demikian, segera saya buka kembali notebook dan cari alamat dimana bisa mendapatkan produk Vertical Grow. Dengan semangat tujuhbelas agustus, saya naik skutik menuju kawasan Jatipadang. Sayang karena terlalu bersemangat, saya sampai lupa mengantongi HP dimana saya mencatat alamat dan nomor telepon Pak Moes ( gadhinksflora ) penyedia produk Vertical Grow. Dengan menyesal, terpaksa pulang dengan tangan kosong. Keesokan harinya saya buka kembali www.gadhinksflora.com dan mencatat dengan jelas semua agen Vertical Grow. Ketika siang hari saya ada pekerjaan di sekitar Lebakbulus, saya sempatkan mampir dan membeli Beberapa produk Vertical Grow di sebuah agen : Extreme Grow, Extreme Root dan Extreme Shoot yang merupakan rangkaian ZPT. Juga media tanam Extreme organic untuk Aglo yang diklaim sebagai media tanam anti busuk.

Sore hari sepulang dari kerja, langsung saya bongkar beberapa aglo yang seminggu sebelumnya saya bawa dari rumah orang tua saya di Jateng. Ada empat pot yang sengaja saya gunakan sebagai “percobaaan” yaitu Adelia, Legacy, Dud Unyamanee dan Nn Thai Hibryd. Media lama saya bongkar dan saya ganti dengan 100 % media extreme organic, sekaligus ganti pot dengan yang baru. Setelah ganti media, Aglo saya spray dengan campuran tiga ZPT tadi ( Extreme Grow, Root dan Shoot ) dengan dosis masing-masing 2ml / liter air. Untuk sementara karena saya belum membeli pupuk NPK dari Vertical Grow, maka saya gunakan pupuk slow relesase Osmocote. Perlakuan yang sama saya ulangi seminggu dua kali, spray semua bagian daun, batang dan media sekitar batang, dengan harapan mampu diserap oleh akar dengan baik.

Satu minggu, dua minggu pertama saya tidak menemukan perubahan yang saya harapkan. Tetapi masuk minggu ketiga, saya melihat bahwa semua aglo menjadi kokoh, kekar dan lebih tahan terhadap sinar matahari. Terutama Dud Unyamanee yang sebelumnya batangnya lemas mirip seperti tanaman menjalar. Daun Legacy kembali “njegrak” dan kaku. Bentuk kembali tertata rowset dengan warna merah mulai timbul. Sekedar mengingat kebelakang, legacy dan Adelia ini saya beli di Flona Lapangan banteng tahun 2007 lalu. Ketika itu Legacy memiliki 6 daun, sedangkan Adelia baru 3 daun. Aglo-aglo itu kemudian saya kirim ke rumah orang tua di Jateng yang kebetulan memang penggemar berat tanaman hias, sebagai hadiah Ulang Tahun pernikahan yang ke 35. Sayang karena terlalu banyaknya tanaman hias yang dikoleksi orang tua saya, serta bedirinya sebuah rumah makan yang menggunakan beberapa kompor besar berdiri disamping “kebun” tanaman hias orang tua saya, membuat udara sekitar kebun menjadi panas. Celakanya lagi “limbah” uap minyak goreng serta asap kompor minyak dengan bebas menyerbu kebun. Akibatnya banyak tanaman menjadi kolaps. Untuk menyelamatkan tanaman, sebagian besar dipindah di kebun baru dibelakang rumah. Tetapi nasi telah menjadi bubur, beberapa koleksi tanaman terlanjur layu, bahkan beberapa tidak bisa lagi diselamatkan.

Akhirnya ketika saya ada kesempatan pulang ke Jateng, saya ajak kembali empat aglo pulang ke Jakarta. Ketika itu si Legacy sudah berdaun 16 lembar, tetapi karena “bencana” tadi, sepuluh daunnya terpaksa diprotoli, hingga hanya menyisakan 6 lembar daun, itupun tampak kurang sehat. Sedangkan tante Adelia yang sudah berdaun sebelas, mengalami nasib yang sama juga harus digundulin hingga tersisa 4 lembar. Dud Unyamanee daunnya mengecil dan mengkerut, pertumbuhannya lambat, batang lemas seperti menjalar.

Tetapi setelah lebih dari tiga bulan saya menggunakan treatmen Vertical Grow, alhamdulillah sekarang keempatnya sudah sehat, dengan postur yang lebih kokoh, segar, daun menjadi lebih tebal dan lebar. Bahkan aglo NN Hibryd thai saya tiga daun terakhir menjadi extra lebar dibanding daun standarnya. Legacy saat ini sudah beranak 2 dengan masing-masing 3 dan 2 daun, plus dua taring baru yang segera muncul kepermukaan. Tante Adelia sudah memberi saya sebatang keponakan dengan 2,5 daun yang lebih sehat dari ibunya. Dud Unyamanee sekarang sudah bisa berdiri kokoh tanpa bantuan penyangga, daun baru lebar dan tidak berkerut, serta warna menjadi lebih cerah. Dari apa yang saya perhatikan sekarang ini pertumbuhan kuncup daun baru sepertinya sambung menyambung dan lebih cepat hampir satu minggu dari biasanya.

Satu hal yang menjadi catatan saya, pada mulanya pemakaian treatmen ala Vertical grow memang belum kelihatan hasilnya, tetapi setelah 3 atau 4 minggu, akan terlihat perubahan yang signifikan. Saya menyebutnya sebagai tanaman mulai berakselerasi. Dari pengalaman saya, apabila tanaman sudah berhasil berakselerasi, maka treatmen ala Vertical Grow berarti sudah mulai bekerja dengan baik, dan kita tinggal menunggu hasil berikutnya yang “luar biasa”.

Selain mencoba treatmen ini untuk Aglo, saya juga mencobanya pada beberapa pot Sansevieria : S. Pinguicula, S. Malawi Midnight dan S. Kirkii “Copertone”. Hasilnya, umumnya sansevieria berakselerasi setelah mendapatkan treatmen selama 6-8 minggu. Memang lebih lambat di banding Aglo, tetapi pengalaman saya, sanse tersebut terutama S. Malawi Midnight dan S. kirkii “Copertone” pertumbuhan daun anakannya menjadi extreme cepat. Bahkan S. kirkii “Copertone” saya anakannya tumbuh memanjang hampir 17 Cm dalam waktu satu bulan. Sayang ketika saya menulis posting ini, keduanya sudah ikut mudik orang tua saya ke Jateng, dan belum sempat diambil fotonya.

Dari serangkaian percobaan yang saya lakukan menggunakan ZPT dan media tanam Vertical Grow terutama pada Aglo, kesimpulan yang bisa saya ambil adalah :

1. Tanaman tumbuh lebih kokoh dan segar
2. Daun tumbuh lebih cepat dan lebih besar / lebar
3. Munculnya pucuk baru lebih cepat dan cenderung sambung menyambung
4. Merangsang munculnya akar lebih banyak dan lebih sehat
5. Merangsang munculnya anakan, terutama bagi aglo indukan yang malas beranak

Berikut adalah foto-foto tanaman yang saya treatmen dengan Vertical Grow :

Aglo Dud Unyamanee, tampak daun (a) mewakili hampir semua daun Dud yang “sakit parah” sebelum treatmen, dan daun (b) adalah perkembangan daun baru setelah treatmen, daun lebih sehat dan bentuk lebih baik dan tidak berkerut seperti daun( a ).


Aglo legacy yang semula kurang sehat, setelah treatmen tiga bulan setengah, menjadi lebih sehat dan mengeluarkan dua anak serta dua taring baru yang segera muncul dari dari media tanam.


Aglo NN New hibryd thai, tampak daun (a) adalah daun lama yang tumbuh sebelum treatment, ukuran kecil standar. Serta daun ( b,c,d ) adalah daun yang tumbuh setelah treatmen yang tampak jauh lebih segar dan ukuran daun lebih lebar.


Aglo widuri yang saya beli dalam keadaan dua daun standard yang nyaris tanpa akar. Ketika dipisah dari induknya, kondisi akarnya memang masih sedikit. Ditambah lagi media tanam yang digunakan waktu itu terlalu becek, sehingga akar yang sedikit makin berkurang karena busuk. Setelah empat minggu saya treatmen, akar mulai tumbuh dengan baik, dan bahkan pucuk baru sudah tumbuh, dengan dua daun awal yang menjadi lebih lebar.


Secara iseng saya juga aplikasikan treatmen ini pada satu pot puring murah meriah saya. Tampak beberapa daun diatas tampak lebih segar, dan bahkan mulai terlihat ukuran daun yang lebih besar.

Saya menulis pengalaman ini berdasarkan pengalaman saya pribadi, semata karena saya merasa puas dengan hasil yang saya dapatkan, samasekali tidak ada kepentingan lain. Apalagi bila dibandingkan dengan harganya yang relative murah, saya kira treatmen Vertical Grow sungguh sangat memuaskan saya. Demikian sekedar sharing pengalaman saya. Semoga membantu.

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share