Photobucket
Tampilkan postingan dengan label Media Tanam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Tanam. Tampilkan semua postingan

Mengenal Hydrogel

Diposting oleh emirgarden | Senin, Juni 22, 2009 | | 8 komentar »


Hydrogel, produk yang MENAWAN dan RAMAH LINGKUNGAN ini merupakan kristal polimer yang berfungsi menyerap dan menyimpan air dan nutrisi untuk tanaman dalam jumlah besar. Hydrogel dapat terurai melalui pembusukan oleh mikroba sehingga produk ini aman digunakan.

Hydrogel tidak larut dalam air tetapi dia hanya menyerap dan akan melepaskan air dan nutrisi secara proporsional pada saat dibutuhkan oleh tanaman. Dengan demikian tanaman akan selalu mempunyai persediaan air dan nutrisi setiap

saat karena hydrogel berfungsi menyerap dan melepaskan (absorption - release cycles). Hydrogel mampu menyerap air sebanyak 500 kali berat hydrogel itu sendiri.

Selain tampak indah, butiran hydrogel yang lebih mirip kristal sering mengecoh siapa saja yang baru melihatnya. Hydrogel juga menarik karena warnanya. Bisa dibayangkan betapa indahnya jika ruangan Anda ada vas bening berisi tanaman yang tumbuh di dalam media hydrogel dengan warna-warna yang menawan seperti Merah, Pink, Ungu, Biru, Hijau, Kuning, Orange dan Putih yang berkilauan.

Selain untuk mempercantik ruangan, hydrogel ini dapat digunakan untuk campuran media tanam pada tanaman pot, lahan pertanian, perkebunan, hutan dll. Jadi Anda yang tinggal di daerah yang kekurangan persediaan air atau daerah yang harga airnya mahal atau Anda yang ingin mengurangi volume dan frekuensi penyiraman tanaman Anda dan Anda yang akan melakukan perjalanan jauh dan panjang, Anda tak perlu khawatir, HYDROGEL akan menyediakan air dan memenuhi kebutuhan air tanaman Anda. Keuntungan menggunakan hydrogel :

1. Memastikan keteresediaan air sepanjang tahun.
2. Mengurangi ferekuensi penyiraman / irigasi hingga 50%.
3. Mengurangi hilangnya air dan nutrient disebabkan oleh leaching dan evaporasi.
4. Memperbaiki physical properties dari compact soils dengan membentuk aerasi udara yang baik.
5. Meningkatkan pertumbuhan tanaman karena air dan nutrient selalu tersedia di sekitar tanaman sehingga mengoptimalkan penyerapan oleh akar.
6. Mengurangi angka mortalitas.
7. Mengurangi pencemaran lingkungan dari erosi dan pencemaran air tanah.

horties via aglaonemaku

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Media Tumbuh Anggrek

Diposting oleh emirgarden | Senin, November 03, 2008 | , | 0 komentar »


Beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam pemilihan media tanam (media tumbuh) anggrek adalah tahan lama, tidak menjadi sumber penyakit, mempunyai aerasi dan drainase yang baik, mampu mengikat air dan unsur hara dengan baik serta mudah diperoleh.

Berbagai jenis media tumbuh yang umum digunakan antara lain pakis, moss, sabut kelapa, arang, serutan kayu, kulit kayu dan lain-lain. Pada dasarnya, menggunakan media tumbuh apapun, anggrek mampu beradaptasi dengan baik. Yang penting, faktor penyiraman dan pemupukan yang tepat untuk setiap jenis anggrek perlu diperhatikan. Sebagai contoh, di daerah dengan kelembaban tinggi, penggunaan media yang menyimpan banyak air tidak dianjurkan. Sifatnya yang selalu basah mengundang penyakit busuk akar dan busuk tunas anakan.

Berikut ini adalah jenis-jenis media tumbuh yang umum digunakan dalam penanaman anggrek.

1. PAKIS

Media tumbuh pakis berasal dari batang tumbuhan paku-pakuan. Pakis sangat baik digunakan sebagai media tanam karena mampu mengikat dan menyimpan air dengan baik, aerasi dan drainase yang baik, serta lapuk secara perlahan, sehingga mengurangi frekuansi penggantian media tanam, serta mengandung unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan anggrek.

Pakis dapat digunakan dalam bentuk cacahan, potongan atau lempengan. Untuk bibit yang baru dikeluarkan dari dalam botol, sebaiknya digunakan pakis bentuk cacahan halus. Untuk tanaman remaja atau dewasa lebih baik digunakan pakis cacahan kasar atau yang telah dipotong-potong. Ukuran cacahan atau potongan pakis disesuaikan dengan besar kecilnya pot. Bentuk lempengan digunakan untuk menempelkan tanaman remaja hingga dewasa.

Meski mempunyai sejumlah keunggulan, tetapi pakis juga mempunyai kelemahan. Media itu disukai semut dan hewan kecil lainnya atau bahkan mikroorganisme. Untuk mengatasinya, pakis perlu disterilkan sebelum digunakan. Caranya pakis dibersihkan atau dicuci dengan air, hingga kotoran seperti tanah atau sejenisnya hilang.

Untuk mencegah adanya mikroorganisme terutama cendawan, media direndam direndam dalam larutan fungisida. Contohnya Antracol, Benlate, Dythane atau sejenisnya dengan konsentrasi 0,1 hingga 0,2 %. Setelah sehari semalam, media diangkat dan dikeringkan. Media siap untuk digunakan.

Sterilisasi media juga dapat dilakukan dengan cara merebus pakis dalam air mendidih atau dikukus. Sayangnya karena keterbatasan tempat, volume media yang disterilkan terbatas.

2. MOSS

Moss berasal dari akar paku-pakuan atau kadaka. Jenis tumbuhan tersebut banyak dijumpai tumbuh dan melekat di batang pohon besar di hutan. Keunggulan moss yaitu daya mengikat dan menyimpan air sangat baik. Aerasi dan drainase udara baik, tidak cepat lapuk, mengandung unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman, berongga udara banyak sehingga akar dapat tumbuh dan berkembang leluasa. Sebagai contoh, akar osmunda yang banyak digunakan penganggrek di Amerika bagian timur mengandung unsur Nitrogen sebanyak 2-3 %.

Berdasarkan karakteristik media paku-pakuan dikelompokkan menjadi empat, yaitu :

a. Sangat kasar, keras dan tebal. Contohnya Cyathea.SP.
b. Kasar dan keras. Contohnya Osmunda Sp
c. Halus dan keras. Contohnya Asplenium Falcatum. Jenis ini akan melunak apabila direndam dalam air
d. Lunak. Contohnya Asplenium Nidus. Jenis ini sangat baik utnuk pertumbuhan dan pertumbuhan akar tanaman yang baru dipisahkan dari tanaman induknya.

Ditoko pertanian banyak dijumpai media spagnum moss. Media ini dapat mengikat air dengan sangat cepat dan menyimpannya dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, media ini tidak dianjurkan untuk digunakan di daerah yang sering hujan. Pada umumnya media ini banyak digunakan pada anggrek Phalaenopsis. Namun tempat untuk meletakkan tanaman anggrek tersebut atapnya harus diberi lapisan penutup tembus cahaya yang diletakkan diatas paranet. Contohnya : Plastik, Fiber atau sejenisnya. Dengan demikian tanaman anggrek tersebut tidak terkena curah hujan langsung yang dapat mengakibatkan busuk.

Penggunaan mosss menemui kendala dengan ketersediaan bahan karena cenderung langka. Bila pakis dan moss diambil terus menerus dari hutan (alam) maka dikhawatirkan keseimbangan ekosistem dapat terganggu. Beberapa pemerintah daerah-pun mulai melarang eksploitasi dengan menerbitkan peraturan daerah.

3. SABUT KELAPA

Media sabut kelapa kini semakin banyak digunakan sebagai media tumbuh anggrek. Sabut kelapa memiliki keunggulan yaitu mudah mengikat dan menyimpan air dengan baik, mengandung unsur hara yang diperlukan tanaman, serta mudah diperoleh dalam jumlah besar.

Sayangnya media ini mudah lapuk dan terlalu kuat menyimpan air, sehingga dapat menjadi sumber penyakit busuk akar dan busuk tunas anakan. Oleh karena itu, media sabut kelapa lebih cocok digunakan didaerah panas. Didaerah yang sering turun hujan, perlu menghindari penggunaan media ini. Bila terpaksa, kombinasikan dengan media yang tidak menyerap air, seperti arang kayu bakar atau sejenisnya.

Sabut kelapa mengandung beberapa unsur dan senyawa antara lain, K, P, Ca, Mg dan N. Selain itu, kaya bahan organik, abu, pektin, hemiselulosa, selulosa, pentosa dan lignin. Pektin berfungsi sebagai penguat lapisan tengah dinding sel. Hemiselulosa dan selulosa penyusun utama dinding sel yang berfungsi untuk memperkuat sel-sel kayu. Lignin berfungsi untuk mengeraskan dinding sel. Calsium selain berfungsi menguatkan dinding sel, juga mengaktifkan pembelahan sel-sel meristem. Magnesium sangat penting dalam pembentukan chlorofil.

Bila ingin menggunakan sabut kelapa sebagai media, pilih sabut kelapa dari buah kelapa yang sudah tua, sebab proses dekomposisinya sangat lambat, sehingga lebih tahan lama.

Gunakan sabut yang masih melekat kulit luarnya, dan sudah dipotong-potong atau hanya serat-seratnya. Serbuk sabut kelapa (choir dust) yang merupakan bagian dari sabut kelapa belum banyak dimanfaatkan secara baik, namun dibeberapa negara, serbuk ini telah dimanfaatkan sebagai bahan pupuk atau bahan media tumbuh tanaman hias lain.

Serat sabut kelapa digunakan saat tanaman masih kecil seperti kompot atau seedling. Untuk tanaman remaja/dewasa gunakan sabut kelapa dalam bentuk potongan. Ukuran potongan disesuaikan dengan ukuran wadah atau pot.

Agar tidak cepat membusuk, sterilkan media ini terlebih dahulu. Caranya sama dengan sterilisasi pakis. Setelah tanaman tumbuh, lakukan penyemprotan fungisida lebih sering, karena kelembaban dalam pot sangat tinggi. Pada kondisi lembab, mikroorganisme cepat tumbuh dan berkembang.

4. ARANG KAYU

Media arang umumnya digunakan dalam bentuk potongan-potongan, terutama untuk tanaman ukuran remaja atau dewasa. Besar kecilnya potongan arang diseduaikan dengan ukuran tanaman serta besar kecilnya ukuran pot.

Sifat arang antara lain, tahan lama, tidak mudah ditumbuhi jamur dan bakteri, dapat menyerap senyawa yang berfifat racun/toksik, Dan mudah melepaskannya kembali setelah penyiraman. Sayangnya arang sulit menyerap dan menyimpan air. Arang hanya mampu mengikat air dipermukaan saja dan tidak mengandung unsur hara. Arang bisa menjadi pilihan penganggrek di daerah berkelembapan tinggi sehingga kebusukan akar dan tunas anakan dapat dihindari karena akar senantiasa kering. Karena sulit menyimpan air dan miskin hara, maka frekuensi penyemprotan air dan pupuk perlu ditingkatkan. Komposisi kimiawi arang kayu sebagian besar mengandung karbon (C), sedangkan kandungan sulfur (S) dan fosfor (P) sangat sedikit, serta abu.


5. SERUTAN DAN POTONGAN KAYU

Serutan atau potongan kayu dapat pula jadi pilihan media. Untuk itu, pilih bahan yang berasal dari pohon atau tanaman tua. Keunggulannya aerasi dan drainase baik; banyak rongga-rongga udara sehingga akar tanaman leluasa tumbuh dan berkembang. Proses pelapukan lambat karena mengandung senyawa-senyawa yang sulit terdekomposisi, seperti selulosa, hemiselulosa, dan lignin.

Kelemahan serutan atau potongan kayu yaitu daya simpan air kurang baik dan miskin unsur N. media ini juga sering digunakan untuk menanam anggrek terestrial, yaitu anggrek yang tumbuh di permukaan tanah serta membutuhkan cahaya matahari penuh. Penggunaan media serutan kayu ini biasanya dicampur dengan kompos atau pupuk kandang yang telah steril.


6. PECAHAN BATU BATA ATAU GENTING

Pada umumnya, pecahan batu-bata atau genting diletakkan di dasar pot. Tujuannya memperbaiki aerasi dan drainase udara dalam pot. Pengisian pecahan batu-bata atau genting jumlahnya kira-kira sepertiga (1/3 bagian) dari tinggi pot atau tergantung dari tingkat kelembapan yang dibutuhkan. Selain itu, pecahan batu-bata atau genting juga berfungsi agar wadah atau pot yang digunakan tidak mudah rebah.

Adanya rongga-rongga udara di antara pecahan batu-bata atau genting memberi kebebasan akar anggrek untuk tumbuh dan berkembang kesegala arah. Di samping itu juga sebagai tempat atau jalan masuk oksigen yang diperlukan oleh akar untuk proses respirasi. Media itu juga dapat menjaga tingkat kelembapan.

Pecahan batu bata lebih mudah dan banyak menyerap serta menyimpan air dibandingkan dengan pecahan genting. Namun, demikian pecahan batu bata lebih cepat ditumbuhi algae (ganggang) dibandingkan dengan pecahan genting.

7. PENGGANTIAN MEDIA BARU

Penggantian media baru (repotting) perlu dilakukan karena :

a. Tanaman dalam pot atau wadah sudah terlalu penuh atau padat yang mengakibatkan pertumbuhan tanaman tidak optimal lagi.
b. Media lama sudah hancur karena mengalami dekomposisi sehingga bersifat asam dan dapat mengakibatkan menjadi sumber penyakit.

Semoga membantu.

Sumber : Bertanam Anggrek, oleh Dyah Widiastoety darmono, Penerbit Panebar Swadaya
Foto (Orchid Painting) taken from http://www.orchid.org.uk/neos/neosartgallery.htm

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Media Tanam Sansevieria

Diposting oleh emirgarden | Jumat, Agustus 01, 2008 | , | 1 komentar »


Pada umumnya media tanam yang digunakan untuk Sansevieria mirip dengan media tanam Adenium. Itulah mengapa ketika media tanam kemasan dengan label “khusus Sansevieria” masih jarang ditemui di pasaran, hobiis sansevieria banyak menggunakan media tanam kemasan dengan label “Media Adenium”.

Kemiripan Sansevieria dengan Adenium adalah sama-sama menyukai sinar matahari penuh (Full Sun), iklim panas dan tidak terlalu menyukai banyak air. Untuk itu media tanam yang paling disukai Sansevieria adalah media dengan tingkat porousitas tinggi, tidak menyimpan air dan kelembaban dalam waktu lama. Komponen media tanam yang umum digunakanhampir selalu menggunakan pasir malang sebagai komponen utamanya. Berikut ini beberapa komposisi media tanam yang sering digunakan menanam Sansevieria :

1. Pasir Malang : Sekam Bakar 1 : 1
2. Pasir Malang : Sekam Bakar : Pupuk Kandang 1 : 1 : ¼
3. Sekam Bakar : Pupuk Kandang 4 : 1

Beberapa hobiis juga sering menggunakan tanah sebagai salah satu komponen media tanamnya. Ir. Eddy Triharyanto, MP dan Ir. Joko Sutrisno, MP dalam bukunya Serial Taman Sansevieraia, memberikan contoh ramuan media tanam yang sering digunakannya, yaitu : Pasir malang : Tanah Merah (latosol) : Pupuk kandang : Bahan Organik (Sekam bakar, sekam mentah atau cacahan pakis) dengan perbandingan 2 : 1 : 1 : 1.

Apapun jenis dan ramuan media tanam yang digunakan untuk Sansevieria, seperti yang telah dijelaskan diatas, sifat porousitas adalah faktor yang paling perlu mendapatkan perhatian. Dengan media tanam yang porous, akan membantu mencegah dan menghindarkan sansevieria dari kemungkinan terserang busuk akar dan batang yang sangat ditakuti hobiis dan pekebun Sansevieria. Semoga membantu.

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Media Tanam Puring

Diposting oleh emirgarden | Kamis, Juli 31, 2008 | , | 0 komentar »


Puring umumnya akan lebih maksimal apabila ditanam langsung ditanah. Apabila ditanam di dalam pot, sebaiknya menggunakan pot dengan diameter yang besar. Karena sifatnya yang menyukai sinar matahari langsung, maka media tanam yang dipakai juga harus disesuaikan. Media tanam yang banyak dipakai untuk menanam puring dalam pot, umumnya banyak mengandung tanah merah sebagai komponennya. Komponen lain yang juga banyak digunakan adalah sekam bakar, sekam mentah, pupuk kandang dan pasir malang.

Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa dalam meramu media tanam puring, jarang sekali menggunakan komponen cacahan pakis. Kalaupun ada, penggunaan cacahan pakis sangat kecil persentasenya.

Berikut ini beberapa contoh komposisi media tanam yang sering digunakan untuk menanam Puring :

1. Tanah merah : Sekam bakar : Pupuk kandang 2 : 1 : 1
2. Tanah merah : Sekam bakar : Pasir malang : 2 : 1 : 1
3. Tanah merah : Sekam mentah : Pupuk kandang 2 : 1 : 1
4. Sekam bakar : Sekam mentah : Pupuk kandang 1 : 1 : 1

Media tanam puring secara umum lebih mudah diramu, mengingat puring sendiri merupakan tanaman hias yang relative lebih mudah tumbuh dan dirawat dibandingkan tanaman hias lain. Semoga membantu

(Dari berbagai sumber)

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Media Tanam Anthurium

Diposting oleh emirgarden | Kamis, Juli 31, 2008 | , | 0 komentar »


Anthurium yang dibahas disini adalah jenis anthurium daun yang saat ini sangat banyak penggemarnya. Media tanam untuk anthurium pada umumnya sangat mirip dengan media tanam Aglaonema. Hal ini disebabkan sifat hidup anthurium di habitat aslinya sangat mirip bahkan cenderung sama dengan aglaonema. Anthurium membutuhkan media tanam yang subur, porous, lembab tetapi tidak basah secara berlebihan.

Beberapa merk media tanam jadi siap pakai untuk aglaonema yang akhir-akhir ini banyak beredar dipasaran, umumnya juga bisa dipakai untuk Anthurium. Demikian pula sebaliknya. Hanya saja karena adanya kecenderungan anthurium tumbuh menjadi sangat besar, maka beberapa pekebun dan hobiis berusaha menciptakan “ramuan” yang lebih tahan lama dan tidak mudah lapuk. Hal ini berkaitan dengan cara repoting anthurium yang sudah besar relative lebih sulit dibandingkan dengan aglaonema. Beberapa pekebun dan hobiis anthurium di Indonesia umumnya menggunakan media tanam cacahan pakis secara tunggal. Hal ini disebabkan sifat pakis yang porous tetapi tetap mampu “memegang” tanaman secara kokoh. Disamping teksturnya yang tidak terlalu padat, emmbuat akar anthurium yang halus dengan mudah bisa menembusnya.

Namun demikian dengan makin terancamnya pakis dari kepunahan, sehingga pakis masuk kedalam daftar CITES appendix, maka sebaiknya mulai sekarang penggunaan cacahan pakis dalam jumlah besar seharusnya mulai dikurangi. Untuk itu berikut ini disajikan komposisi media tanam anthurium yang lebih beragam :

1. Cacahan pakis : Cocopeat 4 : 1
2. Cacahan pakis : Sekam bakar 1 : 1
3. Cacahan pakis : Cocopeat : Pasir malang 2 : 1 : 1
4. Sekam bakar : Pupuk kandang 4 : 2
5. Sekam bakar : Sekam mentah : Pupuk kandang 2 : 1 : 1
6. Sekam bakar : Sekam mentah : Pupuk kandang : Cocopeat 2 : 1 : ½ : ½

Menurut pengalaman pekebun dan hobiis selama ini, media tanam yang dirasakan paling bagus untuk anthurium adalah cacahan pakis. Akan tetapi kembali kepada permasalahan untuk melindungi pakis dari ambang kepunahan, maka penggunaan alternatif media tanam selain pakis patut diperhatikan. Semoga membantu.

(Dari berbagi sumber)

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Media Tanam Aglaonema

Diposting oleh emirgarden | Kamis, Juli 31, 2008 | , | 0 komentar »


Aglaonema di habitat aslinya tumbuh dilapisan tanah paling atas yang umumnya berupa tumpukan sisa-sisa daun dan ranting tanaman yang telah terdekomposisi menjadi kompos. Aglaonema dialam umumnya tumbuh dibawah rindangnya pepohonan besar dan tinggi dengan daun yang rimbun. Hal ini menyebabkan lingkungan tumbuh asli Aglaonema merupakan daerah yang subur, lembab dan terlindung dari sinar matahari langsung.

Oleh karena itu untuk menghasilkan aglaonema yang prima, maka diperlukan media tanam yang subur, mempunyai derajat keasaman sekitar 6-7 dan bersifat porous tetapi tetap bisa menjaga kelembaban dalam jumlah cukup.

Komponen media tanam aglaonema yang umum dipakai adalah Cacahan pakis, sekam bakar, sekam mentah, cocopeat, pupuk kandang dan sedikit pasir malang. Seperti telah diuraikan dalam “komponen media tanam” dalam posting sebelumnya dalam blog ini, bahwa cacahan pakis, sekam bakar dan sekam mentah bersifat porous dan mampu menyimpan air tetapi tetap dengan aerasi yang baik. Sedangkan cocopeat karena sifatnya yang mengikat air dan kelembaban yang lebih tinggi, maka sering digunakan untuk menanam aglaonema pada waktu musim kemarau yang panas dan di daerah-daerah dataran rendah dengan iklim dan cuaca yang sangat panas. Untuk daerah-daerah dataran tinggi dengan kelembaban yang tinggi, penggunaan cocopeat tidak dianjurkan.

Untuk menjamin ketersediaan unsur hara, maka penambahan pupuk kandang bisa dilakukan. Sedangkan komponen terakhir adalah pasir malang. Disamping untuk meningkatkan porousitas media, beberapa pekebun beranggapan bahwa dengan mencampurkan pasir malang kedalam media tanam aglaonema, akan membuat aglaonema berwarna lebih cerah. Walaupun hal ini belum dapat dbuktikan secara pasti, tetapi banyak pula hobiis yang mengikutinya.

Berikut ini beberapa contoh komposisi media tanam yang sering digunakan untuk aglaonema :

1. Cacahan pakis : Sekam bakar 1 : 1
2. Cacahan pakis : Sekam bakar : Pupuk kandang 1 : 1 : ½
3. Cacahan pakis : Sekam bakar : Sekam mentah : Pupuk kandang
1 : 1 : ½ : ½
4. Cacahan pakis : Cocopeat : Pasir malang 2 : 1 : 1
5. Sekam bakar : Sekam mentah : Pupuk kandang 2 : 1 : 1
6. Sekam bakar : Sekam mentah : Pupuk kandang : Cocopeat 2 : 1 : ½ : ½


Seperti media tanam pada Adenium, maka sterilisasi media tanam untuk aglaonema juga sangat penting, untuk menjamin terhindarnya tanaman dari serangan penyakit dan serangga yang merugikan. Semoga membantu

(Dari berbagai sumber)

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Media Tanam Adenium

Diposting oleh emirgarden | Kamis, Juli 31, 2008 | , | 0 komentar »


Adenium atau adalah tanaman yang aslinya berasal dari gurun yang tandus, panas dan beriklim kering. Untuk itu apabila kita ingin menanam adenium, maka media tanam yang digunakanpun harus disesuaikan dengan habitat aslinya.

Media tanam untuk adenium harus bersifat sangat porous dalam arti mampu mengalirkan air yang berlebihan secara cepat, tidak bersifat terlalu padat, sehingga adenium tumbuh lebih mudah dalam menghasilkan bonggol yang maksimal. Media tanam yang cocok untuk adenium umumnya memiliki derajat keasaman berkisar diangka 6-7 (Skala 1 – 12)..

Beberapa komponen media tanam yang bisa dipakai untuk menanam adenium adalah : pasir malang, sekam mentah, sekam bakar, cocopeat dan pupuk kandang. Umumnya pekebun dan hobiis lebih suka mencampur beberapa komponen media tanam untuk menghasilkan media tanam majemuk yang terbaik, sesuai kondisi dan situasi di lingkungan mereka. Jarang sekali yang menggunakan medi tanam tunggal, kecuali untuk menyemai biji adenium.

Untuk menyemai biji adenium, umumnya digunakan campuran pasir malang halus yang telah disaring dicampur dengan sekam bakar dengan komposisi 1 : 1. Bisa juga menambahkan ¼ bagian pupuk kandang matang, untuk memperkaya nutrisi media tanam. Beberapa pekebun menambahkan cocopeat sebagai campuran media tanam untuk mencegah media tanam menjadi terlalu kering. Karena bagaimanapun dalam penyemaian, dibutuhkan media tanam yang relatif lebih lembab dibandingkan media tanam adenium dewasa. Sedangkan untuk adenium remaja dan dewasa, umumnya tidak menggunakan campuran komponen media tanam yang terlalu banyak mengikat air seperti cocopeat ini.

Berikut ini beberapa contoh komposisi media tanam yang sering digunakan untuk adenium :

A. Tahap Penyemaian Biji

- Sekam bakar 100 %
- Pasir malang halus : Sekam bakar 1 : 1
- Pasir malang halus : Sekam bakar : Pupuk kandang 1 : 1 : ¼
- Sekam bakar : cocopeat : Pupuk kandang 3 : 1 : 1

B. Adenium Remaja dan Dewasa

- Pasir malang : Sekam bakar 1 : 1
- Pasir malang : Sekam bakar : Pupuk kandang 1 : 1 : ¼
- Pasir malang : Sekam bakar : Sekam mentah 1 : ½ : ½
- Sekam bakar : Sekam mentah : Pupuk Kandang 1 : 1 : ½

Beberapa komposisi campuran media tanam diatas hanyalah beberapa contoh yang sering digunakan. Pemilihan komponen media tanam, selain didasarkan pada kebutuhan untuk membuat media tanam yang baik, juga disesuaikan dengan tingkat ketersediaan komponen media tanam didaerah yang bersangkutan.

Satu hal yang tidak kalah pentingnya di dalam pembuatan media tanam adalah sterilitas media tanam. Untuk menjamin sterilitas media tanam, maka media tanam harus di sterilisasi terlebih dahulu.

Cara sterilisasi dan sifat-sifat komponen media tanam telah diuraikan dalam posting sebelumnya di Blog ini. Semoga membantu.

(Dari berbagai sumber)

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Komponen Media Tanam

Diposting oleh emirgarden | Kamis, Juli 31, 2008 | , | 0 komentar »

Untuk menghasilakn media tanam yang baik dan sesuai dengan karakter tanaman, maka kebanyakan pekebun dan hobiis meramu beberapa komponen media tanam untuk menciptakan media tanam majemuk sesuai dengan yang diinginkan. Beberapa komponen media tanam yang umum dipakai oleh saat ini adalah :

1. Cacahan Pakis

Cacahan pakis adalah batang atau akar tanaman pakis yang telah dicacah menjadi cacahan halus. Cacahan pakis yang baik digunakan adalah cacahan pakis matang yang sudah mengalami “fermentasi”. Cacahan pakis matang bersifat porous, mempunyai aerasi yang baik tetapi tetap mampu menyimpan air yang dibutuhkan tanaman dan mampu “memegang” tanaman dengan baik tanpa menimbulkan sifat padat yang berlebihan. Cacahan pakis merupakan komponen media tanam favorit pekebun dan hobiis saat ini.

Hanya saja dikarenakan pakis telah masuk ke dalam CITES appendix dimana pakis dinyatakan sebagai tanaman yang dilindungi karena terancam kepunahannya, maka semaksimal mungkin penggunaan cacahan pakis sebagai media tanam dibatasi. Akhir-akhir ini karena permintaan akan media tanam pakis semakin besar seiring dengan maraknya dunia tanaman hias di tanah air, telah mengakibatkan kerusakan hutan pakis di habitatnya secara besar-besaran. Dahulu, orang mendapatkan cacahan pakis dari tanaman pakis yang sudah mati dan membusuk. Tetapi sekarang, karena permintaan yang mengalir deras, maka banyak orang berburu pakis hidup di hutan-hutan untuk ditebang dan dicacah-cacah. Hal ini tentu makin memperparah kerusakan habitat pakis yang sudah terancam kepunahan. Diluar negeri, utamanya di Negara-negara Eropa dan Amerika, penggunaan cacahan pakis sudah dilarang sejak beberapa tahun yang lalu.

2. Sekam Bakar

Sekam bakar atau arang sekam adalah sekam / kulit padi yang dibakar dengan teknik sedemikian rupa, sehingga menghailkan sekam yang menjadi arang. Sekam bakar yang baik adalah sekam yang sudah terbakar, tetapi tidak terlalu hancur. Sifat sekam bakar yang porous dan mampu menyimpan air, hampir mirip dengan cacahan pakis. Untuk itu saat ini banyak pekebun dan hobiis yang mengalihkan penggunaan cacahan pakis menjadi sekam bakar.

Sekam bakar juga mampu “memegang” tanaman dengan baik. Relatif mudah ditemui, serta harga juga relative lebih murah. Kelemahan sekam bakar adalah, relatif lebih mudah lapuk jika dibandingkan dengan cacahan pakis.

3. Sekam Mentah

Selain sekam bakar, sekam mentah juga bisa digunakan sebagai komponen media tanam. Kelebihan sekam mentah sebagai media tanam, selain bersifat porous dan mampu menahan air, adalah kaya akan vitamin B. Keunggulan terakhir ini umumnya tidak dimiliki oleh komponen media tanam lain.

Kelemahan sekam mentah adalah sifatnya yang terlalu berongga, sehingga kurang kuat dalam “memegang” tanaman.

4. Cocopeat

Cocopeat disini adalah serbuk yang berasal dari serabut buah kelapa. Cocopeat bersifat mampu meyimpan dan menahan air . Sifat ini dibutuhkan untuk menjamin ketersediaan air bagi tanaman yang menyukai kelembaban atau media tanam yang tidak terlalu kering, seperti Aglaonema dan Anthurium.

Kekurangan cocopeat adalah banyak mengandung zat Tanin. Zat Tanin diketahui sebagai zat yang menghambat pertumbuhan tanaman. Untuk menghilangkan zat Tanin yang berlebihan, maka bisa dilakukan dengan cara merendam cocopeat di dalam air bersih selama beberapa jam, lalu diaduk sampai air berbusa putih. Selanjutnya buang air dan diganti dengan air bersih yang baru. Demikian dilakukan beberapa kali sampai busa tidak keluar lagi.

5. Cocochip

Hampir sama dengan cocopeat, cocochip berasal dari serabut buah kelapa. Hanya saja kalau cocopeat berbentuk serbuk, maka cocochip berbentuk potongan-potongan yang lebih besar berbentuk dadu. Cocochip umumnya berukuran ½ - 1 Cm. Kelebihan dan kekurangan cocochip sama dengan cocopeat.

Di Indonesia penggunaan cocochip memang tidak terlalu popular. Cocochip umumnya digunakan sebagai “pengganjal” dasar pot untuk menciptakan drainase yang baik di dalam pot.

6. Pasir Malang

Pasir malang adalah pasir yang berasal dari lava gunung berapi. Sifat pasir malang yang memiliki rongga-rongga halus membuat pasir malang menjadi ringan dan sangat porous. Pasir malang juga mampu “memegang” tanaman dengan baik, sehingga menjadi pilihan utama bagi pekebun dan hobiis tanaman yang menyukai iklim dan media tanam kering seperti Adenium, Euphorbia dan Sansevieria.

Pasir malang yang paling baik, umumnya yang bertekstur halus dan seragam. Untuk itu sebelum digunakan, pasir malang sebaiknya disaring menggunakan saringan kawat untuk mendapatkan pasir malang yang seragam.

Sebaiknya hindari penggunaan pasir malang yang berukuran besar dan bertekstur sangat kasar. Selain relatif lebih sulit untuk mengaturnya didalam pot, pasir malang kasar juga beresiko melukai akar dan batang tanaman, sehingga bisa menyebabkan kebusukan. Disamping itu pasir malang yang besar dan kasar juga kurang indah dipandang mata. Kelemahan lain dari penggunaan pasir malang adalah sangat miskin unsur hara, sehingga pemupukan teratur menjadi suatu keharusan, untuk mencegah tanaman kekurangan unsur hara.

7. Pupuk Kandang

Pupuk kandang yang baik digunakan adalah pupuk kandang matang yang telah terfermentasi dengan baik. Tandanya warna cenderung kehitaman, dan teksturnya lebih remah dibanding pupuk kandang mentah. Penggunaan pupuk kandang yang masih mentah akan berakibat buruk pada tanaman.

Pupuk kandang yang banyak digunakan umumnya adalah pupuk kandang kambing, karena disamping mengandung unsur Nitrogen yang cukup, karena bentuknya yang berupa butiran, membuat pupuk kandang kambing lebih awet dan tidak mudah hancur apabila terkena siraman air.

Kelebihan penggunaan pupuk kandang sebagai komponen media tanam adalah menjamin ketersediaan unsur hara bagi tanaman, walaupun tanpa tambahan pupuk kimia. Sedangkan kekurangan pupuk kandang adalah, apabila tidak disterilisasi dengan baik, maka pupuk kandang cenderung mengandung bibit penyakit dan hama bagi tanaman. Selain itu penggunaan pupuk kandang secara berlebihan sering membuat tampilan keseluruhan tanaman dan pot menjadi kurang indah, apalagi kalau tanaman ditempatkan didalam ruangan (indoor).

8. Humus

Humus yang banyak digunakan umumnya adalah humus kaliandra dan humus daun bamboo. Humus kaliandra banyak mengandung nitrogen, sehingga sangat baik untuk digunakan. Beberapa pekebun menggunakan humus sebagai pengganti pupuk kandang.

Kelebihan humus adalah, banyak mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman serta bersifat banyak mengikat air, sehingga sangat cocok digunakan untuk tanaman yang memerlukan kelembaban tinggi seperti Caladium. Kelemahan humus kaliandra / bambo adalah sifatnya yang mudah lapuk dan hancur, membuatnya harus lebih sering diganti.

9. Tanah (Merah)

Tanah yang dimaksud disini adalah tanah merah yang bertekstur cukup remah. Bukan tanah liat berwarna hitam atau coklat yang lengket. Tanah merah umumnya banyak digunakan oleh pekebun Puring. Beberapa pekebun dan hobiis sansevieria juga menggunakan tanah merah sebagai campuran media tanamnya. Bahkan dari sebuah milis, beberapa member telah berhasil mengaplikasikan tanah merah sebagai komponen media tanam aglaonema. Namun demikain, umumnya jarang sekali pekebun atau hobiis yang merekomendasikan penggunaan tanah merah dalam jumlah mayoritas.

10. Arang kayu

Arang kayu banyak digunakan sebagai media tanam anggrek, sebagai pengganti lembaran batang pakis. Arang umumnya digunakan dalam bentuk potongan-potongan besar untuk tanaman anggrek remaja dan dewasa.

Kelebihan penggunaan arang adalah, sebagai substitusi batang pakis, Tahan lama, tidak mudah ditumbuhi jamur dan bakteri, serta mampu menyerap racun yang mengganggu tanaman. Kekurangannya adalah, sulit menyimpan air dan miskin hara. Arang sangat cocok digunakan didaerah yang berkelembaban tinggi, sehingga dapat mencegah kelembaban yang berlebihan. Apabila digunakan didaerah berkelembaban rendah, membuat media menjadi lebih cepat kering dan membutuhkan penyiraman yang lebih sering.

Sebenarnya arang juga bisa digunakan sebagai media tanam tanaman selain anggrek, hanya saja ukurannya perlu diseuaikan. Selain itu, arang juga bisa digunakan sebagai “pengganjal” dasar pot untuk meningkatkan drainase dan aerasi.

11. Kerikil

Kerikil disini adalah kerikil biasa yang bisa kita jumpai di halaman rumah, sungai dan pinggir-pinggir jalan. Kerikil kebanyakan digunakan sebagai media hydroponik, sebagai “pemegang” akar tanaman. Kerikil juga banyak digunakan sebagai “pengganjal” dasar pot untuk meningkatkan drainase dan aerasi.

12. Hydro Gel

Disamping beberapa komponen media tanam yang diuraikan diatas, saat ini telah tersedia media tanam baru yang merupakan media tanam “instant” dan bersifat buatan manusia, yang disebut hydrogel. Hydrogel berbentuk butiran-butiran halus, dimana sewaktu kita akan menggunakannya, maka butiran-butiran tersebut harus diremdam dalam air dengan jumlah tertentu. Setelah direndam ke dalam air, maka butiran hydrogel akan mengembang dan menjadi media tanam siap pakai.

Kelebihan hydrogel adalah, praktis, bersih, steril dan mempunyai variasi warna yang bermacam-macam, sehingga sangat cocok digunakan sebagai media tanam yang bersifat dekoratif. Kekurangannya adalah, miskin unsur hara, dan harganya yang relative lebih mahal serta factor ketersediannya yang masih terbatas. Media tanam hydrogel juga kurang tepat apabila digunakan sebagai media tanam untuk tanaman yang tumbuh besar seperti anthurium.

Demikianlah 12 komponen media tanam yang umum digunakan para pekebun dan hobiis tanaman hias. Sedangkan komposisi dan campuran media tanaman hias akan diuraikan dalam posting selanjutnya dalam blog ini. Semoga membantu.

(Dari berbagai sumber)

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Memilih Media Tanam

Diposting oleh emirgarden | Kamis, Juli 31, 2008 | , | 0 komentar »

Salah satu syarat agar tanaman hias yang kita pelihara bisa tumbuh sehat, segar, kokoh dan menawan seperti yang kita inginkan, adalah pemilihan media tanam yang tepat dan ideal.

Berikut ini tips-tips yang bisa digunakan dalam memilih atau meramu media tanam yang ideal :

1. Mampu menopang tanaman secara kokoh, sehingga tanaman mampu berdiri tegak dan tidak mudah goyah. Untuk memenuhi syarat ini, maka harus dipilih media tanam yang tidak mudah lapuk dan bisa bertahan dalam jangka waktu lama.
2. Bersifat porous, sehingga mampu mengalirkan kelebihan air yang tidak dibutuhkan. Hal ini dibutuhkan untuk mencegah media tanam menjadi becek dan lembab secara berlebihan, yang berakibat pada resiko kebusukan atau serangan jamur pada tanaman. Untuk itu harus dipilih media tanam yang tidak bersifat padat dan mampu menciptakan “rongga” di dalam wadah media tanam, sehingga proses drainase dan aerasi berjalan dengan baik.
3. Mampu menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman, baik itu unsur hara makro maupun mikro, sehingga kebutuhan tanaman akan zat-zat makanan selalu terpenuhi. Untuk memenuhi syarat ini, bisa dilakukan dengan memasukkan unsur pupuk kandang kedalam ramuan media tanam, atau dengan menambahkan pupuk kimia yang umumnya berbentuk butiran.
4. Bersifat steril, bebas dari serangan serangga, jamur, virus dan mikroorganisma merugikan lainnya. Hal yang biasa dilakukan dalam mensterilisasi media tanam adalah dengan mengukus media tanam. Cara ini efektif apabila media tanam yang dipakai sedikit. Apabila media tanam yang digunakan dalam jumlah banyak, maka media tanam bisa dijemur di bawah terik sinar matahari selama kurang lebih dua hari, lalu membungkusnya kedalam wadah plastic yang tertutup rapat. Cara lain yang sering pula digunakan dan lebih praktis adalah dengan cara kimia dengan aplikasi Furadan G sesuai takaran yang dianjurkan.
5. Sesuai dengan jenis tanaman hias yang dipilih. Hal ini perlu dilakukan, karena masing-masing jenis tanaman hias mempunyai karakterisktik berbeda-beda, sehingga membutuhkan media tanam yang berbeda pula

Media tanam yang dipilih bisa berupa media tanam tunggal yaitu hanya menggunakan satu jenis bahan media tanam, atau media tanam campuran yaitu media tanam yang diramu dari beberapa jenis bahan media tanam.

Menurut pengalaman para pelaku tanaman hias, memang tidak ada media tanam yang paling ideal, karena karakteristik tanaman, lingkungan tempat tanaman dipelihara, iklim serta musim sangat berpengaruh dalam pemilihan media tanam yang tepat. Beberapa contoh ramuan media tanam yang banyak digunakan, akan diuraikan lebih lanjut dalam blog ini. Silahkan mengikuti, semoga bermanfaat.

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share