Photobucket
Tampilkan postingan dengan label Aglaonema. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aglaonema. Tampilkan semua postingan

Cara Tepat Merawat Aglaonema

Diposting oleh emirgarden | Rabu, Mei 13, 2009 | | 0 komentar »


Kenali Pantangan si Ratu Daun

Pesona aglaonema akan senantiasa terpancar. Itu selama si pemilik memenuhi syarat penting untuk tumbuh kembang si ratu daun ini, yaitu teknik perawatan. Perawatan aglaonema memang terkenal sulit. Sebab, ia termasuk tanaman ‘manja’. Namun bila si pemilik tahu kelemahan, kelebihan, dan pantangan tanaman ini, sinar daunnya akan terpancar indah nan mengkilap. Kolektor Aglaonema di Kediri, Jawa Timur (Jatim) – Mustaqim, siap memberikan tips dan trik tepat cara tangani si ratu daun ini.


Hindarkan Air Kaporit

Agar agalonema terlihat segar setiap saat, banyak yang menggunakan alternatif dengan menyiram bagian daunnya. Namun siapa mengira kalau jenis air untuk menyiram aglaonema juga penting diperhatikan. Intinya, tak sembarang jenis air bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan aglaonema. Meski hanya untuk kebutuhan estetika.

Memilih jenis air sebaiknya menghindari yang mengandung kaporit. Lebih baik menggunakan air murni ataupun air sumur yang belum terkontaminasi bahan kimia. Namun bagi Anda yang di daerahnya hanya terdapat air ledeng, dimana sudah dipastikan kadar kaporit yang terkandung di dalamnya, yaitu bisa menggunakan alternatif dengan mendiamkan air selama 2-4 hari. Itu dilakukan untuk mengendapkan unsur kaporit di dalam air. Barulah air bisa digunakan dengan mengambil bagian atasnya dan sisakan endapan airnya. Maka, air aman disemprotkan pada aglaonema.

Periksa Media Tanam

Pasti bukan hal yang menyenangkan jika daun aglaonema terlihat lebih kecil dari semula. Banyak faktor yang berpotensi untuk mempengaruhi tampilan aglaonema ini. Salah satunya berhubungan dengan unsur media tanam. Langkah awal yang bisa dilakukan jika menemui perubahan tampilan pada aglaonema adalah dengan memeriksa media tanam.
Jika media terasa keras dan padat, itu menandakan harus segera diganti. Pasalnya, media yang keras dan padat bisa menyebabkan pertumbuhan akar berhimpitan dan sulit untuk berkembang. Jika struktur akarnya banyak percabangan dan kesannya semrawut, sebaiknya dipangkas.

Sebab, rimbunnya akar akan menghambat pertumbuhan tanaman, meski unsur hara yang ada dalam media bisa terserap dengan cepat. Barulah aglaonema yang dipangkas akarnya dapat ditanam lagi pada pot yang lebih besar, agar memberikan kemudahan bergerak pada fase pertumbuhan akar nantinya. Siram hingga air menetes dari pot, maka tanaman akan segar kembali.

Periksa Akar

Hampir serupa dengan kasus sebelumnya, hanya kali ini bagian daun aglaonema terlihat layu dan lemas, sehingga berdampak pada tampilan tanaman yang tak menunjukkan aura dan karakternya. Kebanyakan menduga, tanaman kekurangan asupan vitamin ataupun pupuk hingga hal fatal pun terjadi, yaitu pemberian dosis pupuk atau vitamin melebihi prosedur yang dianjurkan, dimana banyak yang menggunakan bahan kimia untuk mempercepat efeknya.

Bukannya semakin membaik, kondisi aglaonema malah semakin parah. Bahkan tak sedikit aglaonema mati, karena keracunan unsur kimia. Itu seringkali dikeluhkan para penggemar aglaonema. Untuk mengetahui penyebab layu dan lemasnya daun aglaonema, coba periksa bagian akarnya. Bila akar lodoh (bola akar, red) berwarna coklat kehitaman, tandanya cendawan sudah bersarang, sehingga langkah yang diambil adalah dengan membuang akar yang bersarang dan oleskan fungisida di bagian bekas potongan hingga menutup permukaan.

“Tanam kembali aglaonema di pot dan media yang baru. Tentunya, media yang dapat digunakan adalah non pupuk kandang. Biasanya, bisa diaplikasikan dengan arang sekam, cocopeat (serbuk sabut kelapa, red), pasir malang serta kapur untuk menetralisir kadar keasaman media,” terang Mustaqim

tabloidgallery

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Aglaonema, Agar Berkualitas Dan Bernilai Tinggi

Diposting oleh emirgarden | Jumat, Mei 01, 2009 | , | 1 komentar »


Keindahan aglaonema tak pernah ada batasnya. Stok silangan yang terproduksi dari lokal maupun impor, membuat kita tak pernah bosan dengan tanaman hias yang juga dikenal dengan nama sri rejeki ini. Namun pertanyaannya, bagaimana memilih aglaonema impor atau lokal yang baik dan apakah merawatnya semudah kita memilih tanaman ini di toko bunga?


Membeli tanaman idola memang gampang-gampang susah, termasuk membeli aglaonema. Sebelum membeli aglaonema, sebaiknya kita paham dengan barang yang akan dibeli. Sebab

pada dasarnya, beberapa aglaonema memiliki keunggulan dan ciri khusus, hingga tak jarang jika lengah berakibat pada penularan koleksi lain.

Saat ini, jika dispesifikasikan ada tiga kelompok besar aglaonema yang biasa didapat di pasaran, yaitu aglaonema lokal non silangan, lokal, dan impor silangan. Menurut Pakar Aglaonema Indonesia, Gregori Garnadi Hambali, sebenarnya ada lagi aglaonema lokal non silangan dari luar (umumnya dari Belanda dan Amerika). Hanya ketatnya birokrasi dan sistematika pindah tangan, membuat jenis ini sulit untuk keluar.

Terpenting adalah mengenal ciri yang ada pada beberapa golongan aglaonema tersebut. Selain berguna bagi proses pemeliharaan dan perawatan, tahap ini bisa meminimalisir kekecewaan pasca pembelian tanaman (karena cepat mati atau sering terserang penyakit).

Aglaonema silangan impor

Menurut Greg, jenis ini sering tampil dengan perwujudan yang fantastis.
Itu ditandai dengan kemunculan warna-warna yang kontras, seperti kuning dan merah sampai warna solid salah satunya. Karena kebanyakan dihasilkan dari kultur jaringan (mayoritas produk Thailand sebagai negara penekspor aglaonema terbesar ke Indonesia), umumnya jenis ini memiliki daun yang lebih tipis ketimbang hasil budidaya biji. Namun keistimewaannya, jenis ini memiliki struktur permukaan daun yang lebih halus.

Beberapa orang beranggapan, daun yang tipis bisa jadi tebal ketika dibawa ke Indonesia. Pengaruh musim, diduga melatar-belakangi perkembangan daun ini. Secara umum, dalam hal estetika aglaonema impor silangan unggul jauh. Hanya karena dibudidaya secara instan dan tak melalui metode pemuliaan yang panjang, tak jarang jenis ini rentan penyakit. Tak jarang, jenis ini juga disebut-sebut pembawa wabah penyakit yang siap menular ke aglaonema koleksi lain.

“Berhati hatilah memberi aglaonema impor. Jika ragu, gunakan sistem karantina yang cukup sampai dirasa aglaonema steril dari penyakit. Sistem karantina bermacam-macam, bisa menggunakan desin-sektan atau memberi spase tersendiri aglaonema yang baru datang,” ungkap Greg.


Untuk memastikan kesehatan tanaman, usahakan tak hanya melihat dari daun yang menarik, tapi juga akar dan batang bawah. Semakin banyak ditemukan kebusukan di akar dan batang bawah, makin tak sehat tanaman.

Aglaonema Lokal Silangan

Jenis kedua adalah aglaonema lokal silangan. Jenis ini biasanya lebih tahan banting bila dibandingkan dengan jenis impor. Tak mau kalah dengan jenis impor, jenis lokal silangan sangat kuat dalam hal komposisi warna. Gradasi warna dasar dan baru, membuat motifnya menarik. Contoh paling mudah dapat kita lihat dari aglaonema silangan fenomenal Pride of Sumatera (POS).

Daun yang tebal jadi keistimewaan selanjutnya, meski daun yang ada tak sehalus struktur daun jenis aglaonema selangan impor. Beberapa jenis juga sering rentan menderita sakit akibat virus. Penyusunan gen yang tak sempurna diduga jadi latar belakang fenomena ini. Namun secara umum, aglaonema silangan lokal jarang sakit seperti aglaonema silangan impor.

Meski berembel-embel lokal, jangan meremehkan dalam hal harga. Pasalnya, jika dilihat dari perputarannya hasil silangan pertama jenis ini bisa dihargai sampai Rp 50 juta. Ini yang sering terjadi pada koleksi Greg yang dipinang kolektor lain. Memilih jenis ini yang berkualitas pada dasarnya sama dengan aglaonema impor silangan. Daun, akar, dan batang bawah jadi sorotan yang harus tak terlewatkan. Usahakan melihat akar yang telah tertancap di pot. Semakin banyak dan jarang busuk adalah pertanda tanaman sehat.

Aglaonema Lokal

Jenis terakhir adalah aglaonema lokal. Meski dulu jarang dilirik dan keberadaannya hanya difungsikan sebagai indukan, tapi kini pencinta jenis ini kian marak. Bahkan tak mau kalah, pemilik aglaonema yang kebanyakan didominasi warna hijau dan putih ini sudah berani unjuk gigi dengan mendaftar setiap kontes aglaonema digelar.

Karena jika kita membicarakan warna, jenis ini kalah telak dengan jenis silangan lokal maupun impor. Umumnya, jenis ini memiliki keunggulan di bentuk daun. Daun besar dan aneka bentuk lancip adalah bentuk yang sering dijumpai pada aglaonema lokal. Karena sering dijumpai dan sudah familiar hidup di Indonesia, jenis ini banyak ditemukan di mana-mana dan berjumlah banyak, sehingga dalam hal harga jenis ini tergolong paling murah ketimbang dua jenis sebelumnya.

“Di pasaran, aglaonema lokal yang sudah berusia dewasa sering dijual maksimal Rp 500 ribu (untuk tanaman yang belum menang kontes). Jika sudah merasakan gelar, harga naik jadi dua kali lipat sekitar Rp 10 juta per pot,” jelas M Zainudin, Kolektor dan Pecinta Aglaonema Lokal di Banjarbaru Kalsel.


Jika melihat serangan penyakit dari virus dan bakteri, jenis ini paling tahan banting. Namun umumnya, jika melihat musuh alaminya, aglaonema lokal sering jadi santapan lezat serangga dan jamur, sehingga jika Anda memutuskan untuk membeli jenis ini, usahakan daun yang ada tak memiliki sedikit pun bekas jamur dan serangga atau telur-telur serangga yang biasa melekat. [adi]

Bedakan Lokal dengan Impor

Langkah ini diambil untuk membedakan mana jenis aglaonema lokal yang didatangkan dari luar negeri dengan proses kultur jaringan. Memang saat ini untuk aglaonema lokal mendapatkan apresiasi besar, terutama dari karya Greg Hambali. Namun masalahnya, produksi dalam negeri masih belum mampu memenuhi permintaan pasar yang besar.

Sebab dengan cara pengembang-biakan secara tradisional, maka untuk mendapatkan bibit baru membutuhkan waktu yang lama. Sementara untuk melakukan pembiakan masal dengan kultur jaringan masih sedikit yang bisa membuatnya. Padahal proses kultur jadi satu-satunya cara pembiakan secara masal dan celakanya pelaku industri tanaman hias lokal kurang bisa menangkap peluang ini. Akhirnya, mau tak mau Thailand jadi tujuan utama mencari produk aglaonema yang dihasilkan oleh anak bangsa.

Hasil aglaonema dari kultur jaringan melalui impor – meski dari jenis yang sama – tapi punya karakter berbeda. Untuk membedakan aglaonema lokal yang diperbanyak secara alami lewat stek maupun cangkok dengan aglaonema dari kultur jaringan, menurut M Siregar – Penghobi Tanaman Hias di Banjarmasin Kalsel, itu ternyata mudah. Wajar, karena bagi penghobi berpengalaman bukan hal sulit, tapi bagi pemula lain ceritanya.

“Paling gampang melihat struktur warna merah yang jadi ciri khas produk lokal,” tandas Siregar.


Untuk produk alami, warna merah yang muncul bisa cerah dan tegas, terutama untuk bagian belakang daun, tangkai daun, dan motif di permukaan daun. Kondisi ini berbeda dengan hasil dari kultur yang memiliki warna lebih pudar. Pudar di sini tetap memberikan kesan merah, tapi tak begitu cerah.

Selanjutnya yang paling mudah dilihat adalah dari ukuran daun yang lebih kecil dibandingkan jenis lokal. Pembanding ini sulit, karena harus melihat dulu aglaonema lokal. Namun bisa juga dilihat dari daun tua yang ada di bawah. Bila daun tua jauh lebih kecil dari daun baru, itu jadi ciri khas dari hasil kultur jaringan. Namun jangan khawatir bila mendapatkan produk kultur, karena saat tumbuh tunas baru, maka kualitas anakan akan sama dengan aglaonema lokal. Sebab, sudah melalui perbanyakan secara alami.

Menjadikan Aglaonema Berharga Mahal

Patokan harga tinggi untuk beberapa jenis aglaonema, tentu berkaitan dengan urusan tampilan maksimal. Selama ini keberadaan aglaonema impor bisa disejajarkan dengan jenis lokal. Hanya varian untuk jenis impor lebih beragam, sehingga kehadirannya makin memperkaya khasanah tanaman hias Tanah Air.

“Pada dasarnya, semua tanaman itu memiliki nilai ekonomi. Hanya untuk tinggi-rendahnya bergantung pada pesona yang ditampilkan,” imbuh Greg.


Untuk aglaonema jenis impor masih memegang kendali cukup kuat. Lantaran beragamnya jenis yang ditampilkan, sehingga konsumen pun mempunyai banyak alternatif untuk memilih, seperti harga aglaonema silangan dari Thailand yang memiliki nama pasar legacy, harga yang dipatok tergolong tinggi, yaitu Rp 500 ribu per tanaman atau bahkan harga ini bisa lebih tinggi.

Itu bergantung pada tampilannya, dimana semakin berkarakter tentu akan berpengaruh pada nilai jualnya. Ini berkaitan dengan nilai estetika, tren, dan kelangkaan. Sepertinya, membuat tanaman tampil prima bukan jadi satu hal yang sulit dilakukan, dimana tampilan yang maksimal akan berdampak pada tingginya nilai ekonomi. Ingin tahu kiat membuat pesonanya tampil ciamik, baik untuk aglaonema jenis lokal ataupun impor.

Khusus Penghobi

Ada beberapa kriteria yang diperhatikan untuk membuat tanaman berharga mahal dengan tampilan optimal. Utamanya adalah masalah kelangkaan, keunikan, terawatt, dan tren – dimana penghobi di sini sebagai end user yang menilai tanaman bukan hanya dari harga, tapi lebih ke pesona tanaman keseluruhan.

1. Langka

Faktor kelangkaan bisa memicu mahalnya tanaman. Kelangkaan ini bisa ditimbulkan dari sulitnya dikembang-biakan, masih sedikit yang menjual karena tak tren atau tanaman banyak, tapi penjualnya tak mau melepas. Jadi bisa dikategorikan sebagai langka di pasar dan langka, karena sulit dikembang-biakan.

2. Unik

Semua tanaman unik dan tak memiliki perbedaan antara satu dengan yang lain. Tapi unik yang dimaksud adalah memiliki ciri khas mencolok dan berbeda dari aslinya. Di pasaran dikenal istilah variegata dan mutasi. Kadang ada juga yang menyebut albino. Kebanyakan tanaman yang variegata dihasilkan dari biji. Mutasi adalah kelainan yang terjadi, karena campur tangan alam (penyakit karena virus atau faktor bawaan lain) atau campur tangan manusia. Biasa dikenal dengan rekayasa genetik.

3. Perawatan Optimal

Tanaman yang terawat baik akan memiliki bentuk yang baik dan sehat. Karena terawatt, maka bentuk daun, batang, dan bunga jadi lebih indah. Tanaman yang mahal pun apabila tak terawat dengan baik akan berkurang nilainya. Misalnya, aglaonema yang daunnya rusak, pasti tak dihitung dalam penilaian. Itu berkaitan juga dengan keserempakan daun yang makin menambah nilai.

4. Membaca Tren

Seperti halnya fashion, tanaman punya tren sendiri. Saat tren turun, otomatis tanaman akan turun nilainya. Turunnya nilai bukan karena tanaman tersebut tak unik atau tak terawat, tapi mutlak karena hukum pasar.

5. Kenali Hukum Pasar

Saat sedang tren atau memang langka, maka persediaan biasanya tak sebanding dengan permintaan. Sesuai hukum pasar, maka naiklah harganya. Ini wajar terjadi di dunia tanaman hias, berputar sesuai dengan siklusnya.

Bagi Pedagang

Tak dapat dipungkiri, para pedagang lebih berharap pada profit oriented. Namun bukan berarti tak memperhitungkan kualitas barang. Inilah yang paling orang mau lakukan walau tak mudah melakukannya. Tanaman bisa dibuat jadi mahal apabila Anda mau mengerjakan hal-hal berikut:

1. Merawat tanaman dengan baik

Ini adalah mutlak. Tanaman yang terawat baik secara kasat mata akan indah. Walau hanya sekedar tanaman sansiviera yang biasa ada di pinggir jalan, kalau dirawat dengan baik pasti akan punya nilai yang lebih tinggi. Perawatan adalah dengan memberikan tempat yang baik (pot dan media), melakukan perawatan daun kalau tanaman itu punya nilai di daunnya, memberikan pupuk yang tepat, mengganti media saat dibutuhkan, dan terus mengecek kesehatan secara berkala. Dalam hal ini juga bisa dilakukan proses pembentukan, supaya bentuk lebih indah dan kompak.

2. Koleksi tanaman unik dan langka

Kadang tanaman jenis unik dan langka tak serta-merta harganya mahal saat membeli. Pemilihan tanaman unik bisa dilakukan dengan berkeliling di kebun pembibitan tanaman hias. Biasanya bibit unik bisa mulai terdeteksi saat usia seedling muda. Untuk tanaman langka bisa berburu langsung ke daerah yang bersangkutan. Tanaman langka biasanya sulit ditemukan di nurseri biasa. Kalau ada sedikit kenekatan dan modal, bisa saja langsung cari ke nurseri di luar negeri. Pembelian bisa lewat internet atau langsung ke lokasi.

3. Pintar prediksi tren tanaman

Dalam hal ini lebih mengandalkan kemampuan insting, yaitu dengan memperbanyak referensi tentang jenis tanaman, baik dari media ataupun komunitas yang banyak terbentuk di masing-masing kota. Hanya diperhatikan bahwa tren tanaman biasanya berputar. Jadi kalau ketinggalan tren – tak masalah – toh nantinya tanaman kita bisa terangkat naik

tabloidgallery
pic ; Aglaonema Legacy, koleksi Bp. Gede. S, diambil dari milis aglaonema

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Bunga Desa Nursery, Dan Aglaonema

Diposting oleh emirgarden | Rabu, Maret 04, 2009 | , | 1 komentar »


Bagi anda penggemar tanaman hias khususnya aglaonema dan sering mengunjungi pameran / expo tanaman hias di seputar wilayah Jabodetabek, anda akan sering menemui stand dari nursery yang satu ini. Ya, “Bunga Desa” sebuah nursery spesialis Aglaonema yang telah eksis sejak tahun 2005 yang lalu.

Adalah Mirza Mandong sang pemilik yang memulai menekuni bisnis tanaman hias, khususnya Aglaonema disela-sela kegiatannya sebagai seorang karyawan swasta yang berkantor dibilangan kuningan, Jakarta. Masih segar dalam ingatannya, ketika Aglaonema mengalami booming di Indonesia, Mirza mengendus peluang usaha ini. Dengan pengetahuan secukupnya, iapun mulai membuka usaha tanaman hias dirumahnya di kawasan Bintaro dan diberi nama Bunga Desa Nursery. Dari awal memang Mirza sudah menetapkan Aglaonema sebagai spesialisasinya. Dimulai dengan menjual / beli aglo lokal dan beberapa aglo non lokal yang dibelinya dari pedagang yang dikenalnya disebuah pameran. Dengan ketekunan dan keuletannya, usahanya terus berkembang tidak hanya menjadi sebuah nursery rumahan. Pelan tapi pasti nama Bunga Desa mulai sering muncul di beberapa pameran di Jabodetabek. Tak sampai setahun, karena tak mau berpuas diri hanya menjadi “perantara” antara eksportir kepada pedagang, iapun memberanikan diri terbang ke Bangkok untuk menyambangi sarang sang ratu daun disana.

Pada awalnya memang tidak mudah. Pengetahuan tentang situasi “medan” di Thailand yang masih minim, serta peta perizinan yang yang harus ditempuh tak membuatnya surut. Ketekunannyapun membawa hasil. “ Minimal sebulan sekali saya pergi ke Bangkok dan Rayong untuk berbelanja Aglaonema. Pada awalnya saya berbelanja seribu batang Aglo. Lalu meningkat hinga dua-tiga kali lipat ” katanya. Tak hanya menjual aglo kepada pembeli langsung yang datang ke rumahnya atau di pameran, Bunga Desa juga memasok aglo ke beberapa pedagang yang menjadi langganan tetapnya. Tercatat beberapa pedagang aglo dari Depok, Tangerang, Bogor, Purwakarta dan Serang rutin mengambil barang dagangan darinya.



Ketika kemudian Aglaonema mengalami booming, pemintaan dari pedagang-pedagang langganannya-pun meningkat pesat. Tetapi sayang, kesempatan yang terbuka lebar ini tidak mampu dimanfaatkan secara maksimal. Kesibukannya di tempat kerja, membuatnya tak bisa leluasa mondar-mandir Jakarta – Bangkok. Kesetiaannya pada aglonema memang luar biasa. Ketika Anthurium mengalami masa booming berkali-kali, Bunga Desa tetap setia dengan Aglaonema. Pernah suatu ketika di perhelatan Flona 2007, ketika Anthurium benar-benar menguasai Lapangan Banteng, saya beberapa kali berdiskusi dengan Mirza di stand-nya. Ia mengatakan, Justru dikesempatan itulah ia bisa memetik untung lebih besar. Alasannya, ketika banyak Nursery, Importir dan pedagang berpaling dan konsentrasi pada Anthurium, “pemain” aglo menjadi berkurang. Berarti persaingan-pun menjadi berkurang, sedangkan konsumen yang mencari aglo masih tetap seperti sedia kala.

Demikain pula ketika trend Sansevieria dan Puring mulai menggeliat, walaupun tidak sampai mengalami booming, Mirza dan Bunga Desa tidak pernah berpaling sekalipun dari aglaonema yang telah “membesarkannya”.

Saat ini, ketika trend dan bisnis tanaman hias mengalami “koreksi” besar-besaran-pun tak merubah wajah Bunga Desa. Ketika ditemui di stand S-03 Trubus Agro Expo Cibubur, Mirza mengatakan : “ Permintaan dan penjualan Aglaonema saat ini masih tetap banyak seperti sedia kala. Hanya memang harga mengalami penurunan. Justru keadaan ini semakin bagus. Bagi pembeli yang dulu ingin mengkoleksi banyak aglo, mengalami kendala pada harga. Nah saat ini harga yang jauh terjangkau, membuat mereka bisa melengkapi koleksinya tanpa merongrong isi kantongnya”. Ditanya tentang rutinitasnya “jalan-jalan” ke bangkok, Mirza menuturkan saat ini masih seperti biasa, setiap bulan sekali belanja aglo langsung dari Thailand. Karena permintaan yang masuk dari pedagang dan pelanggannya terus mengalir, disamping dengan mengikuti pameran yang rutin digelar seperti Rangkain Trubus Agro Expo seperti saat ini.

Bagi anda penggemar aglaonema yang ingin melengkapi koleksi anda, atau ingin mencoba membuka usaha menjual Aglaonema dan ingin mendapatkan kualitas aglo dan harga aglo yang spesial, anda bisa menghubungi Mirza Mandong dialamat :

BUNGA DESA NURSERY
Arinda Permai I Blok H/14 Pondok Aren Raya
Bintaro – Tangerang
Telp.: (021) 99726609 / 0816865572


Special Thanks for
Mirza Mandong and Bunga Desa Nursery crew

Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share

Parade Aglaonema, Trubus Agro Expo Cibubur 2009

Diposting oleh emirgarden | Senin, Maret 02, 2009 | , | 3 komentar »


Bersamaan dengan dilangsungkannya Trubus Agro Expo 2009 di Taman Bunga Wiladatika – Cibubur pada tanggal 26 Februari – 8 Maret 2009, panitia Expo menyelenggarakan “Parade Aglaonema”. Yaitu berupa sebuah kegiatan yang memamerkan / memajang Aglo-aglo silangan Sang maestro sekaligus Bapak Aglaonema Indonesia, Greg Hambali. Parade diadakan dalam sebuah tenda besar yang terletak diujung “dalam” lokasi pameran.

Dalam parade ini, dipamerkan lebih daridelapanpuluh pot aglo lokal silangan Greg, yang dikoleksi oleh beberapa kolektor maupun koleksi pribadi Indri Hambali. Beberapa jenis yang sudah banyak dikenal masyarakat luas hampir semuanya dipamerkan. Mulai dari Donna Carmen, Pride of Sumatera, JT 2000, Angella, Super Pride, Ria, Stella, Hot Lady, Srikandi, Widuri, Theresa, Mutiara, Sexy Pink hingga aglo super langka Harlequin. Ada juga beberapa jenis yang mungkin masih jarang terdengar atau ditemui macam Astuti, Mahardhika, Sartika, Jasmine dan Ilumination.

Selain deretan pot-pot aglo silangan Greg Hambali, didalam arena Parade juga dihiasi oleh berbagaimacam aglo silangan non lokal yang ditata apik menjadi rangkaian sebuah taman aglo. Untuk lebih jelasnya, silahkan menyimak beberapa foto berikut ini.





















































Baca Selengkapnya.... »»
Bookmark and Share