Photobucket

Bonsai dan Teknik Pembuatannya

Diposting oleh emirgarden | Jumat, Maret 20, 2009 | , | 0 komentar »


Oleh : Bonardo Sianturi / samsbonsai

A. Pengerdilan

Pohon yang dijadikan bonsai tumbuh kerdil karena:

1. Ditanam di dalam tempat yang kecil (terbatas) seperti pot, lubang (ronggga) di dalam batu, dan sebagainya.
Tanah di dalam tempat-tempat yang kecil yang tiddak seberapa banyak itu, dengan sendirinya membatasi pertumbuhan tanaman. Bila sebatang bonsai dipindahkan dari potnya dan ditanam di tanah sehingga akar-akarnya dapat bebas menjalar kemana-mana, bonsai itu akan menjadi pohon yang (lebih) besar juga.


2. Secara terus-menerus dibuang semua tunas barunya (bud nipping), kecuali tunas baru yang diperlukan untuk penyempurnaan bentuk pohon. Hal ini perlu kita laksanakan, karena banyak enersi pohon yang terpusat pada tunas-tunas baru. Dengan membuang sebagian besar tunas-tunas tersebut, dapat diharapkan bahwa bagian-bagian lain dari pohon itu akan mendapat bagian enersi yang lebih banyak, terutama dahan-dahan yang lemah yang kita inginkan tumbuh menjadi kuat. Dengan demikian, ukuran kerdil dan bentuk indah yang dimiliki pohon itu, dapat dipertahankan atau malah disempurnakan.

Sebaliknya, bila tunas-tunas baru kita biarkan tumbuh semua, maka selain pohonya akan cepat menjadi besar dan kehilangan pula keindahan bentuknya, juga akan menyebabkan dahan-dahan tua yang terdapat di batang pohon bagian bawah dan yang biasanya lemah itu, menjadi lebih lemah lemah lagi dan akhrinya merana dengan kemungkinan mati sebelum waktunya.

3. Pada waktu-waktu tertentu, dipotong (dikurangi) akar-akarnya.
Di alam bebas dalam keadaan normal, bagian tanaman yang tumbuh di bawah dan di atas tanah, seimbang. Dengan memotong (mengurangi) akarnya, pertumbuhan batang, dahan, dan ranting, akan terhambat. Untuk tetap adanya keseimbangan antara yang tumbuh di bawah dan di atas tanah, maka pada waktu diadakan pemotongan (pengurangan) akar, harus dilakukan pula pemotongan (pengurangan) dahan atau ranting yang seimbang.

4. Diletakkan di tempat yang mendapat sinar matahari penuh sepanjang hari dan mendapat angin secukupnya untuk mempercepat penguapan.
Sinar matahari, terutama sinar ultra violetnya, mempengaruhi pertumbuhan tanaman dalam arti membatasi kecepatan pertumbuhannya. Mengingat hal tersebut, bonsai harusa mendapat sinar matahari sepanjang hari agar dahan dan rantingnya tidak memjadi panjang-panjang, sehingga pohonnya berbentuk kompak.

Ada kecualiannya, walaupun tidak banyak jumlahnya, yaitu bonsai yang dibuat dari jenis-jenis tanaman yang di alam bebas juga hanya tumbuh di tempat-tempat yang tidak mendapat sinar matahari sepanjang hari penuh. Bagi bonsai dari jenis tanaman itu, sudah memadai jika diletakkan di tempat yang mendapat angin serta mendapat sinar matahari selama beberapa jam sehari.

5. Diperpendek batangnya dengan memotong pucuknya.
Dari tunas-tunas baru yang akan tumbuh kemudian di dekat batang setelah pucuknya dipotong, kita pilih salah satu tunas yang paling cocok untuk dijadikan pengganti pucuk pohon yang telah kita potong itu. Sebaiknya kta pilih tunas yang tumbuhnya di sebelah depan, dengan maksud agar kelak bekas luka potongan pada ujung batang tidak terlihat dari depan karena terhalang oleh tunas itu. Segera setelah tunas baru itu kuat untuk di-train, maka tunas itu kita paksa untuk tumbuh ke atas sebagai pengganti pucuk pohon. Bila kelak ternyata, bonsai dengan pucuknya yang baru itu, masih terlalu tinggi, maka cara memperpendek batangnya seperti tersebut di atas, dapat kita ulang. Jika perlu sampai beberapa kali, yaitu setiap kali memperpendek batang pohon yang lama, sampai ukuran pohonnya sesuai dengan keinginan kita.

Dengan cara-cara pengerdilan tersebut, para ahli dapat membuat bonsai yang sangat kecil (mame bonsai). Akan tetapi kebehasilan tersebut lebih menonjol dalam mengerdilkan pohonnya daripada menerdilkan daun, bunga, dan buahnnya. Pengerdilan daun sampai batas-batas tertentu akan terjadi jika daun dan pucuk rantingnya kita buang semua. Daun-daun baru yang tumbuh kemudian akan berukuran lebih kecil. Cara itu hanya dapat dilaksanakan bila tanamannya sehat dan dapat kita ulang dengan memperoleh daun-daun dengan ukuran yang lebih kecil lagi.

Sebaiknya, dua minggu sebelum cara pengerdilan daun ini kita laksanakan, pohonnya kita beri pupuk yang diperlukan untuk pembentukan daun-daun baru, yaitu pupuk dari jenis yang mempunyai kandungan unsur N-nya tinggi. Selanjutnya, sejak pohon itu gundul, dan selama masa pertumbuhan daun baru (daun baru “angkatan” pertama setelah penggundulan), penyiraman kita kurangi hingga seminim-minimya, yaitu pagi sedikit dan sorepun sedikit, asal jangan sampai layu. Maksudnya adalah selain untuk memperkecil daun-daun baru, juga untuk mencegah pertumbuhan akar, karena dengan menggunduli pohon itu, keseimbangan antara bagian-bagian pohon yang ada di bawah dan yang ada di atas tanah terganggu. Seudah daun-daun tersebut berhenti tumbuh, yaitu berhenti membesar, penyiraman dilaksanakan seperti biasa lagi.

Akibat dari pengerdilan daun itu, bunganya, dan dengan demikian tentu juga buahnya, sedikit banyak akan mengecil pula. Akan tetapi kita tidak mengecilkan semuanya itu hingga seimbang dengan ukuran bonsai yang bersangkutan. Oleh sebab itu ukuran daun, bunga dan buah pada umumnya akan selalu terlalu besar bila dibandingkan dengan ukuran bonsainya (pohonnya).

Selain cara pengerdilan daun sebagaimana disebut di atas yang kita laksanakan hanya sekali-sekali saja, kita harus terus memetik ujung-ujung ranting atau kuncup daun yang baru (sprout nipping) agar daun-daun yang tumbuh kemudian tetap berukuran kecil, sambil mempertahankan atau memperbaiki bentuk bonsai yang diperlukan. Pada tanaman yang msaih muda dan dari jenis yang pertumbuhannya cepat, pemetikan tersebut kita lakasnakan sekurang-kurangnya sekali seminggu selagi ujung ranting masih lunak sehingga untuk memotongnya tidak diperlukan gunting, melainkan cukup dengan cara memetiknya dengan kuku ibu jari dan telunjuk. Selain untuk mempertahankan ukuran daun yang telah mengecil itu, sprout nipping secara berkala menyebabkan ranting yang bersangkutan bercabang terus-menerus, sehingga bentuk pohon menjadi lebih kompak.

B. Training

Yang dimaksud dengan training adalah proses penyempurnaan bentuk pohon yang sedang kita kerdilkan itu, sehingga mempunyai bentuk yang indah dan dekoratif. Dengan penyempurnaan tersebut, pohon itu akan memberikan kesan kepada orang yang memandngnya, seakan-akan ia melihat dan merasakan keagungan sebatang pohon atau sekelompok pohon yang indah dan menunjukan tanda-tanda ketuaan, walaupun semuannya dalam ukuran mini

Training dilaksanakan antara lain dengan cara:

1. Melilitkan kawat pada batang, dahan atau ranting (wiring) dan kemudian membentuknya (mengubah arah pertumbuhan, membengkok-bengkokkan atau meluruskan batang, dahan atau ranting tersebut) menurut keinginan kita.

Untuk keperluan itu kita perdunakan kawat tembaga dari berbagai ukuran, sesuai dengan keperluan kita. Untuk membengkokkan batang umpamanya, tentu diperlukan kawat yang ukurannya lebih besar daripada untuk membengkokkan ranting.

Perlu diingat bahwa kawat tersebut tidak boleh kita biarkan terlalu lama melilit batang, dahan atau ranting. Sebagai akibat pertumbuhannya, kawat tersebut lama kelamaan akan “menggigit” dan meninggalkan bekas pada bonsainya setelah lilitan kita buka. Alasan mempergunakan kawat tembaga guna wiring, ialah karena kawat tembaga lebih mudah sehingga lebih mudah dililitkan daripada kawat biasa (kawat “jemuran”).

2. Mengikat batang, dahn atau ranting yang hendak kita ubah arah pertumbuhannya.
Sebatang dahan yang hendak kita paksa tumbuh mendatar atau menurun umpamanya, kita tekan ke bawah sampai pada posisi yang kita inginkan, kemudian kita ikat dengan kawat atau tali pada potnya. Mengikatnya jangan terlalu erat untuk mencegah “gigitan” tali atau kawat selang beberapa waktu. Ikatan itu harus segera dibuka sekiranya dahannya tidak akan kembali lagi ke posisinya yang lama.
Bila kulit pohon lunak, sebaiknya pada tempat pengikatan tali atau kawat, kulit itu kita balut lebih dahulu dengan plastik tebal atau karton umpamanya, untuk mencegah kerusakan kulitnya.

3. Membuang dahan dan ranting yang tidak kita inginkan.
Dahan atau ranting yang mengurangi atau merusak keindahan bentuk pohon, harus segera dibuang, kecuali yang tumbuh pada batang bagian bawah. Walaupun dahan dan ranting yang kita sebut belakangan itu tidak kita kehendaki karena mengurangi atau merusak keindahan pohonnya, akan tetapi dahan dan ranting seperti itu boleh kita biarkan tumbuh. Sebabnya ialah karena hal tersebut dapat mempercepat pertumbuhan batang pohonnya. Apabila batang pohonnya sudah cukup besar, barulah dahan dan ranting itu kita buang juga.

Sebaliknya bila di tempat yang sebaiknya ada dahan atau rantingnya demi kseimbangan dan keindahan, kan tetapi dahan atau ranting yang kita inginkan itu tidak ada atau tidak mau tumbuh, kekurangan itu dapat kita atasi dengan cara okulasi atau ent.

4. Memotong dahan atau ranting pada tempat-tempat tertentu dengan harapan dahan atau ranting tersebut akan bercabang di tempat dekat bekas luka potongan.
Untuk memperoleh pohon dengan bentuk yang kompak, tindakan tersebut harus diulangi beberapa kali sambil mengingat–ingat (mengkhayalkan) bentuk yang akan kita berikan kepada bonsai itu. Jadi bukan asal kompak saja!

5. Memangkas untuk merapikan (trimming) tunas-tunas dan daun-daun baru yang apabila dibiarkan tumbuh, akan merusak bentuk bonsai yang sudah indah itu.

6. Dan lain-lain cara penyempurnaan (koreksi) bentuk pohon.
Walaupun training tersebut dilaksanakan menurut pola-pola dasar tertentu yang telah terkenal sejak zaman dahulu dalam dunia bonsai, akan tetapi tetap diperlukan rasa seni dari si pembuat bonsai untuk dapat menghasilkan pohon-pohon kerdil yang indah bentuknya. Teknik pengerdilan dan training dapat diajarkan, tetapi rasa seni tidak!

Justru rasa seni itulah diperlukan dalam hal:

- Memilih bentuk, ukuran dan warna pot serta batu.
- Menentukan letak pohon di dalam pot atau di atas batu.
- Menetapkan posisi pohon, yaitu sudut yang dibuat oleh batang pohon dengan permukaan tanah di dalam pot atau dengan permukaan batu yang ditumbuhinya.
- Mengatur pertumbuhan dan penjalaran akar-akar (root-spread) di atas permukaan tanah atau batu.
- Mengoreksi bentuk pohon (training).

Tanpa rasa seni, maka tidak akan tercipta suatu bonsai yang sempurna, suatu master-piece. Karena kita tidak akan dapat membuat duplikat dari suatu bonsai, maka tiap bonsai akan merupakan kreasi baru dengan keindahan dan “kepribadian” sendiri.
Dalam training inilah letak seni bonsai dan dalam masa training ini pula ketekunan dan kesabaran kita diuji selama bertahun-tahun.

Sesungguhnya masa training ini tidak ada akhirnya, karena training dimulai dari saat sebatngpohon sukup kuat untuk di-train, hingga pohon tersebut mati tua bertahun-tahun kemudian.

C. Training Akar-Akar Tunjang

Selain teknik mengenai training tanaman sebagaimana telah diuraikan, ada pula teknik khusus untuk training akar-akar tunjang atau sulur pohon-pohon jenis ficus, anatara lain pohon beringin (Ficus benjamina L) dan pohon karet ( Ficus elastica Roxb) yang kita bonsaikan.

Di alam, untaian akar-akar tunjang (sulur) dari pohon-pohon raksasa jenis Ficus, yang beratnya berkilo-kilo itu, dengan sendirinya akan tumbuh vertikal ke bawah dari dahan-dahannya, sampai akhirnya akar-akar tersebut menyentuh permukaan tanah dan seterusnya masuk ke dalam tanah.

Pada pohon Ficus yang kita bonsaikan, akar-akar tunjangnya karena kurang bobot, tidak tumbuh vertikal ke bawah, melainkan tidak beraturan, ada yang tumbuh ke samping, ke depan, ke belakang dan bahkan ke atas! Akibatnya ialah bahwa akar-akar terebut tidak dapat memberikan kesan sebagaimana yang ditimbulkanoleh akar-akar tunjang pohon Ficus yang tumbuh dengan ukuran raksasa di hutan atau di tengah alun-alun.

Oleh karena itu akar-akar tersebut perlu kita train agar tumbuh vertikal kebawah. Caranya adalah dengan melekatkan tanah liat sebesar kelereng dekat pada ujung akar, sehingga karena bobot tanah liat tersebut, akan terpaksa tumbuh lurus vertikal ke bawah. Cara ini hanya dapat kita terapkan pada musim kemarau, karena pada musim hujan,. Tanah liat itu akan terlepas setiap kali tersiram hujan.

Untuk merangsang pertumbuhan akar tunjang pada musim kemarau, ujungnya harus kita basahi berkali-kali sehari. Agar supaya tidak terlalu merepotkan, dapat pula kita masukkan ke dalam tabung-tabung gelas atau tabung plastik kecil, yang berisi air. Umpamanya sedotan plastik untuk minuman yang ujungnya kita sumbat atau kita lipat dan kemudian kita ikat erat-erat. Dengan menggunakan tabung-tabung tersebut kita sekaligus memaksa akar-akar tunjang tumbuh lurus ke bawah sehingga ujung-ujungnya tidak perlu diberi pemberat (tanah liat).

Dengan sebuah alat penyuntik dari plastik yang murah (disposable plastic syringe) yang dapat kita beli di apotek-apotek, atau dengan sebuah pipet (misalnya alat untuk meneteskan obat tetes mata), persediaan air di dalam tabung yang berkurang karena dihisap oleh akar-akar tersebut, kita tambah setiap hari.

Supaya akar-akar tunjang itu tidak tumbuh melekat pada dinding tabung-tabung tersebut, setiap hari tabung-tabung itu kita gerakkan naik turun seikit. Apabila ujung akar terlihat telah sampai ketinggian permukaan tanah, tabungnya kita ambil dan ujung akar kita timbuni dengan tanah.Agar dapat melihat pertumbuhan akar, maka tabungnya harus terbuat dari gelas atau plastik yang tembus pandang.

D. Penuaan (Ageing)

Dengan menggunakan “teknik penuaan”, pohon yang kita kerdilkan itu lebih cepat nampak seperti tua. Penuaan dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Dahan-dahan dan ranting-ranting dipaksa (di-train) untuk mendatar atau agak menurun.

2. Akar-akar pada pangkal pohon ditonjolkan dengan cara memaksa akar-akar tersebut untuk menjalar di atas permukaan tanah, sedapat mungkin ke empat jurusan atau lebih, sepanjang beberapa sentimeter.
Maksudnya ialah, selain agar pohon itu kelihatan lebih tua, juga demi keindahan dan supaya pohonnya memberi kesan tumbuh kukuh, tidak mudah tumbang dan batangnya tidak menyerupai tongkat yang ditancapkan di tanah! Demi keindahan, akar yang tumbuhnya tepat ke arah depan, harus dibuang.

3. Ada kalanya sebagian dari batang pohon dikupas kulitnya sehingga terlihat kayunya, atau sebatang dahan tua dikuliti seluruhnya sehingga kayunya kemudian mati dan memutih. Bahkan ada pula yang sebagian batang dikerok kulit dan kayunya sedemikian dalam, sehingga batang pohon itu berongga dan sebagian dari kayunya mati.

Kayu yang memutih akibat kupasan pada batang pohon, dalam bahasa Jepang disebut sabamiki. Dahan yang mati dan kayunya memutih disebut jin, dan lubang pada batang pohon yang berongga, disebut uro.

Perlu diingat bahwa baik sabamiki, jin maupun uro harus terlihat sebagai cacad yang wajar, seakan-akan diakibatkan oleh pengaruh alam selama bertahun-tahun

pic from samsbonsai

Bookmark and Share

0 komentar